Jumat, 06 Mei 2011

ASUHAN KEPERAWATAN INTRA PARTUM DENGAN VAKUM EKSTRASI PADA Ny “RA”



ASUHAN KEPERAWATAN   
INTRA PARTUM DENGAN  VAKUM EKSTRASI PADA Ny RA
DI RUANG  BERSALIN

RSUP DR. SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN



Disusun Oleh:

Effata Soetriatmo
(03/172144/EIK/00333)



Pengertian
Persalinan adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi (janin+uri), yang dapat hidup di dunia luar, dari rahim melalui jalan lahir atau dengan jalan lain.
Partus/persalinan normal adalah persalinan yang berlangsung tanpa komplikasi, dengan kriteria :
·         Bayi tunggal
·         Cukup bulan/aterm, umur kehamilan 38-42 minggu
·         Berlangsung spontan, yaitu dengan kekuatan ibu sendiri tanpa bantuan induksi atau stimulasi
·         Presentasi belakang kepala, bagian terendah janin di dalam rahim adalah bagian belakang kepala
·         Waktu persalinan >3 jam sampai <24 jam
·         BBL >2500gr sampai <4000 gr
·         Ibu dan bayi sehat, tanpa ada cacat fisik maupun mental
Beberapa istilah yang berhubungan dengan partus
1.    Menurut cara persalinan
v  Partus biasa/normal disebut juga partus spontan adalah proses lahirnya bayi pada LBK dengan tenaga ibu sendiri tanpa bantuan alat alat serta tidak melukai ibu dan bayi yang umumnya berlangsung kurang dari 24 jam.
v  Partus luar biasa (abnormal) ialah persalinan pervaginam dengan bantuan alat alat atau melalui dinding perut dengan operasi sesaria.
2.    Menurut tua (umur) kehamilan
v  Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable), berat janin dibawah 1000 gram, tua keamilan dibawah 28 minggu.
v  Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi premature, berat janin antara 1000-2500 gram.
v  Partus matures atau aterm (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matus, berat badan di atas 2500 gram.
v  Partus postmaturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditafsir, janin disebut postmatur.
v  Partus presipatatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi, diatas becak atau sebagainya.
v  Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada tidaknya disproporsi sefalopelvik.
Sebab sebab yang menimbulkan persalinan
a.    Teori penurunan hormon
1-2 minggu sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen dan progesterone. Progesterone bekerja sebagai penenang otot otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteronnya turun.
b.    Teori plasenta menjadi tua
Akan menyebabkan turunya kadar estrogen dan progesterone yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga menimbulkan kontraksi rahim.
c.    Teori distensi rahim
Rahim yang menjadi besar dan meregang menyebabkan iskemia otot otot rahim sehingga mengganggu sirkulasi uteroplasenter.
d.    Teori iritasi mekanik
Ibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus frankenhauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
e.    Induksi partus
Partus dapat juga ditimbulkan dengan jalan :
v  Gagang laminaria : beberapa laminaria dimasukkan ke dalam kanalis servikalis dengan merangsang pleksus frankenhauser.
v  Amnioktomi : pemecahan ketuban
v  Oksitosin drips : pemberian oksitosin menurut tetesan per infus.
Tanda tanda permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki kala pendahuluan yang memberikan tanda tanda sebagai berikut:
v  Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu kelihatan.
v  Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun
v  Perasaan sering sering atau susah kencing karena kandung kemih tertekan oleh bagian bawah janin
v  Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi kontraksi lemah dari uterus, kadang kadang disebut false labour pains
v  Serviks menjadi lembek, mulai mendatar dans ekresinya bertambah bias bercampur darah
Tanda Tanda In Partu
1.    rasa sakit oleh adanya his yang dating lebih kuat, sering dan teratur
2.    keluar lendir bercampur darah yang lebih banyak karena robekan robekan kecil pada serviks
3.    kadang kadang ketuban pecah dengans endirinya
4.    pada pemeriksaan dalam, serviks mendatar dan pembukaan telah ada.
Faktor yang Berpengaruh pada Persalinan
Faktor yang berpengaruh pada prognosis persalinan, yaitu :
1.    Pelvis (jalan lahir)
Bidan pelvis :
·         Pitu atas panggul (PAP), disebut juga inlet. Bidang ini terletak miring, membentuk sudut 55 derajat dengan bidang horisontal.
·         Pintu tengah panggul (PTP), midpelvis merupakan bagian panggul yang paling sempit karena terdapat spina ischiadika.
·         Pintu bawah panggul (PBP), disebut juga autlet.
2.    Power
·         Kontraksi miometrium, terutama berperan dalam kala l persalinan.
·         Hejan perut ibu, kekuatan mengedan, terutama berperan pada kala ll persalinan, dapat dilatih dengan melatih otot perut.
·         His atau kontraksi uterus, yang perlu diobservasi adalah frekuensi, kekuatan dan durasinya. Tiap his dimulai sebagai gelombang dari salah satu sudut dimana tuba masuk kedalam dinding uterus. Gelombang ini bergerak kedalam dan kebawah dengan kecepatan 2cm/sekon untuk mengikutsertakan seluruh uterus. His yang sempurna punya kejang otot paling tinggi difundus uteri. Jika persalinan mulai yakni pada permulaan kala I maka frekuensi dan amplitudo his meningkat.
·         Kontraksi pada persalinan normal bersifat ; interval teratur, interval secara bertahap memendek, intensitas secara bertahap meningkat, serviks membuka dan rasa sakit tidak hilang dengan sedasi
3.    Passenger
·         Ukuran bayi
·         Letak (axis), sikap, presentasi, posisi
·         kesejahteraan
4.    Psyche
Keadaan psikis mempengaruhi proses persalinan, jika tidak diatasi/dikendalikan dapat membentuk lingkaran setan : tense mind          tense serviks         tense labour                  tense mind dan seterusnya.
Cara mengatasi dengan memutus mata rantai lingkaran tersebut, misalnya dengan memberi nasehat atau sedativa pada ibu.
Posisi ibu dalam persalinan
v  Posisi litotomi adalah posisi yang umum dimana wanita berbaring terlentang dengan lutut ditekuk, kedua paha diangkat kesamping kanan dan kiri.
v  Posisi duduk.
v  Posisi berbaring
-          Menurut Walcher : di tepi tempat tidur
-          Menurut Tjeenk ; memakai bantal
-          Menurut Jonges : untukmemperlebar pintu bawah panggul
-          Menurut posisi sims : posisi miring

Pemeriksaan wanita yang mau bersalin
1.    Pemeriksaan umum

v  Tekanan darah
v  Nadi
v  Pernafasan
v  Reflek
v  Jantung paru
v  Berat badan, tinggi badan

2.    Pemeriksaan status obstetrikus
v  Letak dan posisi janin, tafsiran berat janin
v  Denyut jantung janin
v  His dan sifat sifatnya

3.    Pemeriksaan dalam
v  Pembukaan serviks dalam cm/jari
v  Turunnya kepala diukur menurut Hodge
v  Ketuban, sudah pecah atau belum, menonjol atau belum
4.    pemeriksaan laboratorium
v  pemeriksaan urine : protein dan gula
v  pemeriksaan darah : Hb, golongan darah
5.    Persiapan bagi ibu
v  Bersihkan  daerah genitalia eksterna
v  Ibu disuruh kencing terlebih dahulu
v  Diusahakan rektum dalam keadaan kosong
v  Pakaian diganti dengan pakaian yang longgar
Proses Partus Normal
Partus dibagi menjadi 4 kala, yaitu :
1.    Kala I, serviks membuka sampai pembukaan 10 cm, disebut juga kala pembukaan.
2.    Kala II (kala pengeluaran), dengan adanya kekuatan his dan kekuatan mengedan maka janin dapat didorong keluar sampai lahir.
3.    Kala III, plasenta lepas dari uterus dan dilahirkan.
4.    Kala IV, mulai dari lahirnya plasenta sampai 1 jam setelah plasenta dilahirkan. Dalam kala ini diobservasi apakah terjadi perdaran atau tidak.
Kala I
Secara klinis dapat dinyatakan ada partus jika telah terjadi His dan wanita mengeluarkan lendir bersemu darah (bloody show). Lendir yang bersemu darah ini berasal dari kanalis servikalis karena serviks mulai membuka dan mendatar. Ketika serviks membuka, maka pembuluh-pembuluh darah disekitar canalis servikalis akan pecah.
Pembukaan serviks sebagai akibat His terjadi dalam 2 fase, yaitu :
1.    Fase laten, berlangsung selama 8 jam. Pembukaan terjadi sangat lambat sampai 3 cm.
2.    Fase aktif, dibagi jadi 3 fase, yaitu :
·         Fase akselerasi, dalam 2 jam pembukaan tadi menjadi 4 cm.
·         Fase dilatasi maksimal, dalam 2 jam pembukaan dari 4 cm menjadi 9 cm.
·         Fase deselerasi, yaitu pembukaan menjadi lambat kembali, dalam waktu 2 jam pembukaan 9 menjadi lengkap (10 cm).
Fase-fase diatas dijumpai pada primigravida. Pada multi gravida pun terjadi, tapi waktunya menjadi lebih pendek.
Kala II
            Pada kala II His menjadi lebih kuat dan lebih cepat (kurang lebih 2-3 menit sekali). Pada fase ini kepala janin sudah masuk tulang panggul, sehingga dirasakan tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengejan. Wanita juga merasakan tekanan pada rektum dan hendak BAB. Kemudian perineum mulai menonjoldan menjadi melebar dengan membukanya anus. Labia mulai membuka dan tidak lama kemudian, kepala janin tampak dalam vulva pada waktu His. Dengan his dan kekuatan mengedan kepala janin dilahirkan denagn suboksiput dibawah simpisis, serta dahi, muka dan dagu melewati perineum. Setelah istirahat sebentar his mulai lagi untuk mengeluarkan badan dan anggota badan bayi. Pada primigravida, kala II berlangsung sekitar 1,5 jam dan multigravida ½ jam. Jika lebih dari 2 jam maka harus dilakukan terminasi karena dapat menyebabkan asfiksia pada janin.
Kala lll
            Setelah bayi lahir, uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. Plasenta akan lepas dalam 6-15 menit setelah bayi lahir dan keluar spontan atau dengan tekanan pada fundus uteri. Pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah. Jika >30 menit belum keluar, maka perlu dikeluarkan secara manual (manual Plasenta).
Kala lV
            Kala ini dianggap penting untuk mengamati apakah ada atau tidak perdarahan post-partum (max 500ml) dan keadaan umum ibunya serta baik tidaknya kontraksi uterus. Lama observasi 1 jam.
CARDINAL MOVEMENT
      Saat melalui jalan lahir janin melakukan perubahan-perubahan posisi untuk mempertahankan posisi untuk mempertahankan diameter yang kecil pada kepala janin (pada presentasi kepala). Perubahan posisi ini disebut sebagai cardinal movement of labour.
Tahapan cardinal movement :
1.    Desendent atau penurunan
·         Desendent atau penurunan adalah proses gerakan menurun kepala janin dalam posisi biparietal diameter.
·         Penurunan total terjadi saat terjadinya dilatasi serviks dan kepala teraba pada dasar posterior vagina.
·         Penekanan kepala pada nervus sacral ibu menyebabkan sensasi mengejan
·         Penurunan ini terjadi karena tekanan fundus uteri kepada janin dan mungkin juga disebabkan oleh kontraksi otot abdomen
2.    Fleksi
·         Fleksi disebabkan karena penekanan pada dasar pelvis sehingga kepala janin akan tertekan kebawah mendekatu dada
·         Posisi kepala saat ini adalah anteroposterior diameter
·         Fleksi ini disebabkan juga oleh kontraksi abdomen saat mengejan
3.    Internal rotasi
·         Selama penurunan kepala mengalami rotasi internal dengan tujuan memberi ruang yang cukup untuk dilalui bahu sehingga harus menggambil diameter pelvis yang paling besar
4.    Ekstensi
·         Occiput dilahirkan, punggung belakang leher terhenti pada tulang pubis, mekanisme ini memberikan kesempatan pada kepala untuk istirahat
·         Kepala akan mengalami ekstensi wajah dan dagu dilahirkan
5.    Eksternal rotasi
·         Terjadi beberapa saat setelah kepala bayi dilahirkan
·         Memfasilitasi kelahiran bahu
·         Kelahiran bahu anterior yang pertama disusul bahu posterior
6.    Ekspulsi
·         Setelah bahu dilahirkan
·         Proses kelahian akan lebih mudah dan lebih lunak
APGAR SKORE
Apgar skore digunakan untuk mengkaji kondisi secara umum bayi baru lahir. Dilakukan pada menit ke-1 dan menit ke-5.  APGAR (Appearance, Pulse, Grimace, Activity, Respiration).

Appearance (warna kulit) :
·         Nilai 0 : kulit biru atau pucat
·         Nilai 1 : kulit tubuh merah muda, ektremitas biru
·         Nilai 2 : tubuh dan ekstremitas merah muda
Pulse (heart rate) :
·         Nilai 0 : bila tidak terdengar
·         Nilai 1 : lambat, frekuensi <100 x/menit
·         Nilai 2 : frekuensi >100 x/menit

Grimace (irritabilitas refleks) :
·         Nilai 0 : tidak ada respon
·         Nilai 1 : grimace (meringis)
·         Nilai 2 : batuk atau bersin

Activity (muscle tone) :
·         Nilai 0 : flacid
·         Nilai 1 : beberapa ekstremitas fleksi
·         Nilai 2 : seluruh ekstremitas fleksi, gerakan baik

Respiration :
·         Nilai 0 : tidak ada tanda respirasi
·         Nilai 1 : respirasi lemah, tidak teratur dan menangis lemah
·         Nilai 2 : respirasi baik, menangis kuat
Nilai dari kelima item ini dijumlahkan. Jika total skor <4 dinyatakan bayi asfiksia berat dan membutuhkan resusitasi. Jika 4-6 dinyatakan bayi asfiksia sedang dan membutuhkan pembersihan jalan nafas. Jika total skor 7-10 dinyatakan baik.




EKSTRAKSI VAKUM

Pengertian
Ekstraksi vakum merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan sinergi tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. Oleh karena itu, kerjasama dan kemampuan ibu untuk mengekspresikan bayinya, merupakan faktor yang sangat penting dalam menghasilkan akumulasi tenaga dorongan dengan tarikan ke arah yang sama. Tarikan pada kulit kepala bayi dilakukan dengan membuat cengkeraman yang dihasilkan dari aplikasi tekanan negatif (vakum). Mangkuk logam atau silastik akan memegang kulit kepala yang akibat tekanan vakum , menjadi kaput artifisial. Mangkuk dihubungkan dengan tuas penarik (yang dipegang oleh penolong persalinan), melalui seutas rantai. Ada tiga gaya yang bekerja pada prosedur ini, yaitu tekanan intrauterin (oleh kontraksi) tekanan ekspresi eksternal (tenaga mengedan) dan gaya tarik (ekstraksi vakum).
Indikasi
Kala II lama dengan presentasi belakang kepala/vertek
Kontraindikasi
Malpresentasi (dahi, puncak kepala, muka, bokong)
Panggul sempit (disproporsi kepala panggul)
Syarat khusus
©      Pembukaan lengkap atau hampir lengkap.
©      Presentasi kepala
©      Cukup bulan (tak prematur)
©      Tak ada kesempitan panggul
©      Anak hidup dan tidak gawat janin
©      Penurunan H III/III + (Puskesmas H IV/dasar panggul)
©      Kontraksi baik
©      Ibu kooperatif dan masih mampu untuk mengedan
Prosedur pemasangan mangkok vakum:
1.    Masukkan mangkok vakum melalui introitus vagina secara miring, dan setelah melewati introitus, pasangkan pada kapala bayi (perhatikan agar tepi mangkok tidak terpasang pada bagian yang tidak rata/moulage di daerah ubun-ubun kecil.
2.    Dengan jari tengah dan telunjuk, tahan mangkok pada posisinya dan dengan jari tengah dan telunjuk tangan yang lain, lakukan pemeriksaan di sekeliling tepi mangkok untuk memastikan tidak ada bagian vagina atau porsio yang terjepit diantara mangkok dan kepala.
3.    Setelah hasil pemeriksaan ternyata baik, keluarkan jari tangan pemeriksaan dan tangan penahan mangkok tetap pada posisinya.
4.    Instruksikan asisten untuk menurunkan tekanan (membuat vakum dalam mangkok) secara bertahap.
5.    Pompa hingga tekanan skala 10 (silastik) atau –2 (Malmstroom) setelah 2 menit, naikkan hingga skala 60 (silastik) atau –6 (mamstroom) dan tunggu 2 menit.
Ingat         : jangan gunakan tekanan maksimal pada kepala bayi, lebih dari 8 menit.
6.    Sambil menunggu his, jelaskan pada pasien bahwa pada his puncak (fase acme) pasien harus mengedan sekuat dan selama mungkin. Tarik lipat lutut dengan lipat siku agar tekanan abdomen menjadi lebih efektif.
Prosedur penarikan vakum:
a.    Pada puncak his, minta pasien untuk mengedan, secara simultan lakukan penarikan dengan pengait mangkuk, dengan arah sejajar lantai (tangan luar penarik pengait, ibu jari tangan dalam pada mangkuk, telunjuk dan jari tengah pada kulit kepala bayi)
b.    Bila belum berhasil pada tarikan pertama, ulangi lagi pada tarikan kedua. Episiotomi (pada pasien dengan perineum yang kaku) dilakukan pada saat kepala mendorong perineum dan tidak masuk kembali.
* Bila tarikan ketiga dilakukan dengan benar dan bayi belum lahir, sebaiknya pasien dirujuk ke RS.
* Apabila pada penarikan ternyata mangkuk terlepas hingga 2 kali, kondisi ini juga mengharuskan pasien dirujuk.
c.    Saat suboksiput berada di bawah simpisis, arahkan tarikan ke atas hingga lahirlah berturut-turut dahi, muka, dagu.
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul :
Kala I :
1.    Nyeri akut b.d. agen injuri fisiologis
2.    Cemas b.d. situasional (proses persalinan)
3.    Resiko infeksi b.d. ketuban pecah dini
Kala II :
1.    Nyeri akut b.d. agen injuri (fisiologis)
2.    Resiko infeksi b.d. prosedur invasif
3.    Fatigue b.d. meningkatnya penggunakan aktivitas fisik
Kala III :
1.    Nyeri akut b.d. agen injuri (fisiologi)
2.    Resiko infeksi b.d. prosedur invasif
3.    Resiko defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan berlebihan (perdarahan)
Kala IV :
1.    Nyeri akut b.d. agen injuri (biologi)
2.    Resiko defisit volume cairan b.d. kehilangan cairan berlebihan (perdarahan)

Ada kesalahan di dalam gadget ini