Jumat, 06 Mei 2011

EFEKTIFITAS KOMPRES PANAS DAN DINGIN


EFEKTIFITAS KOMPRES PANAS DAN DINGIN

 BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Meningkatkan dan memelihara pelayanan kesehatan yang bermutu dan berkualitas, terjangkau dan merata adalah salah satu misi yang harus dicapai untuk mewujudkan visi Indonesia sehat 2010 (Pusdiknakes, 2000).
Penelitian dan pengembangan ilmu keperawatan merupakan jalan yang harus ditempuh untuk memberikan pelayanan yang bermutu dan berkualitas, sehingga misi Indonesia sehat 2010 dapat tercapai.
Sebelum tahun 2000, hampir semua orang tua menggunakan kain lap yang dibasahi air dingin atau air es untuk mengompres anak bila demam, seperti yang dianjurkan tenaga medis dan buku-buku kesehatan. Namun beberapa tahun belakangan mulai muncul anjuran dari dunia medis untuk menggunakan kompres panas atau air hangat, yang seakan-akan menyalahkan teori kompres masa lalu. Banyak orang tua yang bingung dengan fenomena ini, metode kompres apa yang akan dipilih.

 Demam adalah suatu kondisi dimana suhu badan seseorang terlalu tinggi. Jika ini terjadi, biasanya penyakit tertentu akan diderita oleh orang tersebut. Pada intinya, demam bukanlah suatu penyakit. Tapi jika tidak ditindaklanjuti, terutama bagi anak kecil, demam yang tinggi dapat mengancam jiwa si penderita. Jika suhu tubuh (diukur di mulut) lebih tinggi dari 37.5° Celcius pada seseorang yang dalam keadaan beristirahat. Apabila suhu diukur di ketiak, suhunya lebih tinggi dari 37.3° Celcius. Apabila suhu diukur di telinga, suhunya lebih tinggi dari 37.8° Celcius.  
Akibat dari meningkatnya suhu tubuh, badan terasa tidak nyaman, kepala terasa nyeri, menggigil, makan tidak selera, tidur tidak nyenyak, gelisah karena semua posisi tubuh rasanya salah.
Pertolongan pertama pada penderita dapat dilakukan dengan memberikan minum sebanyak-banyaknya (air masak, air dalam kemasan, air teh, dsb), mengompreskan pada penderita, serta memberikan obat penurun panas. Bila ada riwayat kejang, berikan obat anti kejang.
Demam perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan dehidrasi (kekurangan cairan) dan kejang demam (febris konvulsi). Perhatikan apakah ada tanda-tanda dehidrasi seperti ubun2 cekung (pada bayi), kencingnya sedikit dan apabila punggung tangannya dicubit, kulitnya lambat kembali. Anak harus banyak minum, terutama cairan yang mengandung elektrolit.
Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam  biasanya terjadi pada awal demam.Kejang demam dapat terjadi pada 2 – 5 persen populasi anak, yaitu pada semua anak yang berusia 6 bulan sampai 6 tahun, terutama mereka yang orang tuanya mempunyai riwayat penuh mengalami kejang demam.

Penanganan panas cukup beragam. Pemberian obat penurun panas acap kali belum cukup menunjukkan efek yang diinginkan. Kompres meski kurang praktis dibandingkan obat-obatan tetapi efek yang diharapkan dapat segera terlihat, begitu pula efek sampingnya yang minimal. Supaya suhu tubuh dapat normal kembali dan tidak terjadi demam lagi. Air dingin ataukah air hangat.
Berdasarkan fenomena diatas, maka peneliti ingin mengetahaui Efektivitas kompres hangat dibandingkan kompres dingin terhadap penurunana suhu tubuh di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta.
 Penelitian ini bertujuan untuk mengemukakan atau menemukan kompres mana yang lebih Efektif, kompres hangat dibandingkan  kompres dingin terhadap penurunana suhu tubuh di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta.
B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan perumusan masalah : “ Manakah yang lebih efektif antara kompres hangat dibandingkan kompres dingin  terhadap penurunan suhu tubuh di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta?”.
C.    Tujuan Penelitian
1.            Tujuan Umum
Mengetahui efektifitas kompres hangat dibandingkan kompres dingin terhadap penurunan suhu tubuh di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta


2.            Tujuan Khusus
a.            Mengetahui karakteristik kompres hangat di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta.
b.            Mengetahui karakteristik kompres dingin di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta.
D.    Manfaat Penelitian
Adapun manfaat penelitian adalah sebagai berikut:
1.    Bagi Institusi
Diharapkan dapat menjadi bahan masukan bagi pihak Rumah Sakit untuk menjadi bahan pertimbangan dalam mengompres pasien demam.
2.    Bagi Ilmu Pengetahuan
Memperkaya khasanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang keperawatan mengenai keefektifitas kompres hangat dan kompres dingin  terhadap penurunan suhu tubuh. Diharapkan dapat menjadi bahan pembanding dan menjadi sumber informasi bagi penelitian selanjutnya tentang manfaat kompres dingin.
3.    Bagi Peniliti
Peneliti diharapkan dapat menambah wawasan, pengatahuan, dan pengalaman, sebagai pengalaman dalam mengkaji secara ilmiah dan menjadi pengalaman berharga bagi penulis dan menambah pengetahuan peneliti tentang kompres dingin dan kompres hangat pada pasien demam (DHF)
4.    Bagi Masyarakat
Menambah informasi tentang keefektifan dari kompres hangat dibandingkan kompres dingin saat melakukan pengompresan suhu tubuh pada saat demam.
E.     Ruang Lingkup
1.      Materi
Ruang lingkup materi dalam penelitian ini adalah keefektifitas kompres hangat dibanding kompres dingin terhadap penurunan suhu tubuh pada mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia.
5.      Responden.
Responden yang dipakai dalam penelitian ini adalah pasien demam balita dan jenis penyakit DHF.
6.      Tempat
Rumah Sakit Panti Nugroho
7.    Waktu
Penelitian ini akan dimulai dari 1 Februari 2010 sampai 30 Mei 2010.
F.     Keaslian Penelitian
Judul penelitian            :Pengaruh Teknik Pemberian Kompres Terhadap Perubahan Skala  Nyeri Pada Klien Kontusio Di RSUD Sleman.
Nama penelitian           : Istichomah S.
Kesamaan : Peneliti sama- sama menggunakan Kompres hangat dan kompres dingin dalam penelitiannya.
Perbedaan : Dalam penelitian ini meneliti perubahab skala nyeri terhadap pemberian kompres, sedangkan peneliti yang akan dilakukan peneliti adalah tentang pemberian kompres hangat dan kompres dingin terhadap suhu tubuh.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.     Landasan Teori
1. Penurunan Suhu Tubuh
a. Demam
                  Demam adalah keadaan ketika suhu tubuh meningkat melebihi suhu tubuh normal atau mekanisme pengeluaran panas tidak mampu untuk mempertahankan kecepatan pengeluaran kelebihan produksi panas.
                  Demam adalah istilah umum, dan beberapa istilah lain yang sering digunakan adalah pireksia atau febris. Demam sebenarnya merupakan akibat dari perubahan set point hipotalamus. Walaupun tidak semua demam disertai peningkatan set point. Apabila suhu tubuh sangat tinggi (mencapai sekitar 40°C), demam disebut hipertermi.
Pada saat terjadi demam, gejala klinis yang timbul bervariasi tergantung pada fase demam, meliputi fase awal, proses, dan fase pemulihan (defesvescence). Tanda-tanda ini muncul sebagai hasil perubahan pada titik tetap dalam mekanisme pengaturan suhu tubuh.

Gangguan Suhu Tubuh
a. Demam
Demam merupakan keadaan suhu tubuh berada di atas rentang normal, dapat diakibatkan oleh kelainan pada otak ataupun zat toksik yang berpengaruh terhadap pusat pengaturan suhu. Demam dapat berupa akibat dari infeksi atau inflamasi. Pada keadaan tersebut pirogen endogen akan dikeluarkan (prostaglandin), dan senyawa ini berpengaruh terhadap  hipotalamus (pusat pengatur suhu).
Akibatnya adalah hipotalamus meningkatkan suhu tubuh pada tingkat yang baru (lebih tinggi dari semula) daripada mempertahankan suhu normal. Misalnya pirogen endogen membuat ‘set point’ yang baru yaitu 102°F. Pada keadaan ini hipotalamus mendeteksi bahwa suhu sebelum demam terlalu rendah, jadi hipotalamus menginisiasi proses menggigil untuk meningkatkan produksi panas dan membantu vasokonstriksi kulit untuk mencegah panas keluar.
b. Heatstroke
Suhu udara maksimum di mana seseorang mampu bertahan tergantung dari  keadaan udarah yang kering atau basah. Saat suhu tubuh meningkat di atas suhu kritis (105°F-108°F), seseorang dinamakan terkena heatstroke. Gejala yang timbul adalah pusing, delirium, muntah, kehilangan kesadaran, keluarnya keringat berlebihan. Penanganan yang cepat perlu pada keadaan ini karena dapat menimbulkan kerusakan otak.
c. Hipertermia
Peningkatan suhu tubuh di atas rentang suhu normal. Hipertermia mencakupi ketidakseimbangan antara pembentukan panas dan penglepasan panas yang meningkatkan suhu tubuh. Beberapa keadaan hipertermia normal (saat latihan) dan yang lain dapat bersifat patologis dan fatal (tingginya hormon tiroid dan epinefrin yang bersirkulasi di darah, rusaknya hipotalamus di otak).
d. Aklimatisasi terhadap Panas
Aklimatisasi merupakan mekanisme adaptasi yang dilakukan terhadap perubahan suhu yang terjadi pada lingkungan (biasanya pada suhu panas). Perubahan-perubahan yang terjadi pada aklimatisasi adalah meningkatnya pengeluaran keringat, peningkatan volume plasma (aldosteron meningkat), dan penurunan kadar garam pada keringat dan urin sampai tidak ada sama sekali (aldosteron meningkat).
e. Hilangnya Regulasi pada Temperatur Rendah
Pada saat suhu tubuh berada pada 85°F, kemampuan hipotalamus untuk mengatur suhu menjadi hilang. Hal ini dikarenakan laju produksi senyawa panas dalam setiap sel ditekan hampir dua kali lipat pada setiap penurunan 10°F.

f. Frostbite
Frostbite terjadi jika tubuh terpajan pada suhu yang sangat rendah yang membuat permukaannya membeku. Jika hal ini sudah mampu membuat kristal es pada sel, kerusakan permanen dapat terjadi (kegagalan sirkulasi, kerusakan jaringan, gangren).
g. Hipotermia
Hipotermia adalah keadaan tubuh mengalami penurunan suhu karena keadaan dingin pada tubuh lebih dominan dibandingkan pembuatan panas dan pertahankan panas. Saat hipotermia terjadi, laju metabolisme menjadi lebih lambat. Dan jika hal ini terus terjadi akan timbul depresi pada pusat pernapasan (ventilasi menurun dan pernapasan menjadi lambat dan lemah). Aktivitas kardiovaskular juga turun (melambat dan cardiac ouputber kurang).
h. Irama Sirkadian
Sekresi hormon secara ritmik naik dan turun sesuai dengan fungsi waktu. Irama ini dikarakteristikkan oleh pengeluaran hormon yang teratur dan memiliki siklus dalam 24 jam. Keadaaan ritmik ini dikarenakan adanya osilator endogen (sama seperti rangsang di neuron respirasi).
Perbedaannya dengan sistem pernapasan, aktivasi neuron untuk kelenjar endokrin terjadi pada siklus terang-gelap. Misalnya kortisol meningkat selama malam hari, mencapai puncaknya pada saat pagi hari sesaat sebelum kita bangun, dan akan menurun sepanjang siang hari. Hal ini tidak diperoleh oleh sistem endokrin melalui dirinya sendiri, namun oleh stimulasi oleh sistem saraf pusat.
Fisiologi Demam:
1)      Manusia makhluk hemeotermal
2)      Di tempat dingin pembentukan panas meningkat, pengeluaran panas menurun
3)      Di tempat panas pengeluaran panas meningkat
4)       Dalam keadaan normal termostat di hipotalamus selalu diatur pada set point 37°C.
5)       Informasi tentang suhu kemudian diolah oleh hipotalamus
6)      Selanjutnya ditentukan pembentukan dan pengeluaran panas,
7)      Pengaturan ini melalui saraf eferen hipotalamus (somatikdan otonom)
8)      Hipotalamus dapat mengatur:
a).  Aktivitas otot
b).  Kelenjar keringat
c).  Peredaran darah
d).  Ventilasi paru
Sumber : Wulan, Dwi, 2007. Tanda Vital. Handout fotocopy Akper YKY.



Pola Demam:
1). Terus menerus
Demam menetap > 24 jam bervariasi 1-2°C
2). Intermiten
Demam memuncak secara berseling dengan suhu normal. Suhu kembali normal paling sedikit sekali selama 24 jam.
3). Remiten
Demam memuncak dan turun tanpa kembali ketingkat suhu normal.
4). Relaps
Periode demam diselingi dengan tingkat suhu normal.
b.      Kelelahan akibat panas
Bila diaforesis banyak mengakibatkan kehilangan cairan elektrolit berlebih.
c.    Hipertermi
Peningkatan suhu tubuh sampai dengan ketidakmampuan tubuh untuk meningkatkan pengeluaran panas atau menurunkan produksi panas.
d.    Hipotermia
Pengeluaran panas akibat paparan terus menerus terhadap dingin mempengaruhi kemampuan tubuh untuk memproduksi panas.
e.    Headsrroke
Pajanan yang lam terhadap sinar matahari atau lingkungan suhu tinggi.
Penderita headstroke tdak berkeringat, elektronik hilang, malfungsi hipotalamus.
Fase-fase Terjadinya Demam
1.       Fase I: awal (awitan dingin atau menggigil)
a.        Peningkatan denyut jantung
b.      Peningkatan laju dan kedalaman pernafasan
c.       Menggigil akibat tegangan dan kontraksi otot
d.      Kulit pucat dan dingin karena vasokontriksi
e.       Merasakan sensasi dingin
f.       Dasar kuku mengalami sianosis karena vasokontriksi
g.      Rambut kulit berdiri
h.      Pengeluaran keringat berlebihan
i.        Peningkatan suhu tubuh
2.      Fase II: proses demam
a.    Proses menggigil lenyap
b.    Kulit terasa hangat / panas
c.    Merasa tidak panas atau dingin
d.     Peningkatan nadi dan laju pernafasan
e.    Peningkatan rasa haus
f.     Dehidrasi ringan hingga berat
g.    Mengantuk, delirium, atau kejang akibat iritasi sel saraf
h.    Lesi mulut herpetik
i.      Kehilangan nafsu makan ( jika demam memanjang )
j.       Kelemahan, keletihan, dan nyeri ringan pada otot akibat katabolisme protein
3.          Fase III: pemulihan
a.    Kulit tampak merah dan hangat
b.    Berkeringat
c.     Menggigil ringan
d.    Kemungkinan mengalami dehidrasi
Sumber : Wulan, Dwi, 2007. Tanda Vital. Handout fotocopy Akper YKY.
B.      Regulasi Suhu Tubuh
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus.
Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik.
Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C.
Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.
Upaya-upaya yang kita dilakukan untuk menurunkan suhu tubuh yaitu mengenakan pakaian yang tipis, banyak minum, banyak istirahat, beri kompres, beri obat penurun panas (Harold S. Koplewich, 2005).
Ada beberapa teknik dalam memberikan kompres dalam upaya menurunkan suhu tubuh antara lain kompres hangat basah, kompres hangat kering (buli-buli), kompres dingin basah, kompres dingin kering (kirbat es), bantal dan selimut listrik, lampu penyinaran, busur panas (Anas Tamsuri, 2007).
Definisi Pireksia
1. Menurut kamus keperawatan, pireksia ( fever ) adalah kenaikan suhu tubuh diatas suhu
  normal ( Christine Hancock, ed 17, 1999 )
2. Menurut kamus kedokteran, pireksia (febris, fever, demam) adalah peningkatan suhu tubuh di atas normal; setiap penyakit yang ditandai dengan peningkatan suhu tubuh ( Dorland, 2002)
                  Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu lingkungan. Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan konstan. Panas yang dihasilkan tubuh sebenarnya merupakan produk tambahan proses metabolisme yang utama.



Adapun suhu tubuh dihasilkan dari :
1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semua sel
         tubuh.
2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk  
     kontraksi otot akibat menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian   kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan simpatis pada sel.
5. Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun.
Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C). selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20°C sampai 40°C.
Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik.
Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap.
Mekanisme Tubuh Ketika Suhu Tubuh Berubah
1. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh meningkat yaitu :
a. Vasodilatasi
Vasodilatasi pembuluh darah perifer hampir dilakukan pada semua area tubuh. Vasodilatasi ini disebabkan oleh hambatan dari pusat simpatis pada hipotalamus posterior yang menyebabkan vasokontriksi sehingga terjadi vasodilatasi yang kuat pada kulit, yang memungkinkan percepatan pemindahan panas dari tubuh ke kulit hingga delapan kali lipat lebih banyak.
b. Berkeringat
Pengeluaran keringat melalui kulit terjadi sebagai efek peningkatan suhu yang melewati batas kritis, yaitu 37°C. pengeluaran keringat menyebabkan peningkatan pengeluaran panas melalui evaporasi. Peningkatan suhu tubuh sebesar 1°C akan menyebabkan pengeluaran keringat yang cukup banyak sehingga mampu membuang panas tubuh yang dihasilkan dari metabolisme basal 10 kali lebih besar.
Pengeluaran keringat merupakan salh satu mekanisme tubuh ketika suhu meningkat melampaui ambang kritis. Pengeluaran keringat dirangsang oleh pengeluaran impuls di area preoptik anterior hipotalamus melalui jaras saraf simpatis ke seluruh kulit tubuh kemudian menyebabkan rangsangan pada saraf kolinergic kelenjar keringat, yang merangsang produksi keringat. Kelenjar keringat juga dapat mengeluarkan keringat karena rangsangan dari epinefrin dan norefineprin.
c. Penurunan pembentukan panas
Beberapa mekanisme pembentukan panas, seperti termogenesis kimia dan menggigil dihambat dengan kuat.
2. Mekanisme tubuh ketika suhu tubuh menurun, yaitu :
a. Vasokontriksi kulit di seluruh tubuh
Vasokontriksi terjadi karena rangsangan pada pusat simpatis hipotalamus posterior.
b. Piloereksi
Rangsangan simpatis menyebabkan otot erektor pili yang melekat pada folikel rambut berdiri. Mekanisme ini tidak penting pada manusia, tetapi pada binatang tingkat rendah, berdirinya bulu ini akan berfungsi sebagai isolator panas terhadap lingkungan.


c. Peningkatan pembentukan panas
Pembentukan panas oleh sistem metabolisme meningkat melalui mekanisme menggigil, pembentukan panas akibat rangsangan simpatis, serta peningkatan sekresi tiroksin.
Faktor  Yang Mempengaruhi Suhu Tubuh :
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.



3. Hormone pertumbuhan
Hormone pertumbuhan (growth hormone) dapat menyebabkan peningkatan kecepatan metabolisme sebesar 15-20%.. Akibatnya, produksi panas tubuh juga meningkat.
4. Hormone tiroid
Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormone kelamin
Hormone kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kira-kira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3 – 0,6° C di atas suhu basal.
6. Demam ( peradangan )
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10° C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20 – 30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan gesekan antar komponen otot /organ yang menghasilkan energi termal. Latihan (aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 – 40,0 ° C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.
10. Lingkungan
Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit
1. Radiasi
Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5–20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas.
2. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.


3. Evaporasi
Evaporasi (penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450 – 600 ml/hari.
Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12 – 16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.
Selama suhu kulit lebih tinggi dari pada suhu lingkungan, panas hilang melalui radiasi dan konduksi. Namun ketika suuhu lingkungan lebih tinggi dari suhu tubuh, tubuh memperoleh suhu dari lingkungan melalui radiasi dan konduksi. Pada keadaan ini, satu-satunya cara tubuh melepaskan panas adalah melalui evaporasi.
Memperhatikan pengaruh lingkungan terhadap suhu tubuh, sebenarnya suhu tubuh actual (yang dapat diukur) merupakan suhu yang dihasilkan dari keseimbangan antara produksi panas oleh tubuh dan proses kehilangan panas tubuh dari lingkungan.
4. Usia
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis). Secara umum, proses ini mampu meningkatkan metabolisme hingga lebih dari 100%. Pembentukan panas melalui mekanisme ini dapat terjadi karena pada neonatus banyak terdapat lemak coklat. Mekanisme ini sangat penting untuk mencegah hipotermi pada bayi.
Perbedaan derajat suhu normal pada berbagai kelompok usia (Tamsuri Anas, 2007)
Menurut Tamsuri Anas (2007), suhu tubuh dibagi menjadi :
1). Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C
2). Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36 – 37,5°C
3). Febris / pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5 – 40°C
4).Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C
2. Kompres Hangat
a. Pengertian
           Kompres hangat adalah suatu prosedur memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagain tubuh yang memerlukan. Menggunakan kain / handuk yang telah dicelupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian tubuh tertentu.

b. Manfaat Kompres Hangat
         Adapun manfaat kompres hangat adalah dapat memberikan rasa nyaman dan menurunkan suhu tubuh dalam menangani kasus klien yang mengalami pireksia.
c. Mekanisme Tubuh Terhadap Kompres Hangat dalam Upaya Menurunkan Suhu Tubuh
Pemberian kompres hangat pada daerah tubuh akan memberikan sinyal ke hipothalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas dihipotalamus dirangsang, sistem effektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer.
Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata dari tangkai otak, dibawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi.
Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan/kehilangan energi/panas melalui kulit meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. http://nursingbegin.com/kompres-hangat/
3. Kompres Dingin
Kompres dingin adalah memberi rasa dingin pada daerah setempat dengan
menggunakan kain yang dicelupkan pada air biasa atau air es sehingga memberi efek rasa dingin pada daerah tersebut.

4.  Balita
Bawah Lima Tahun atau sering disingkat sebagai Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia.
  1. Permainan peran, melatih kemampuan pemahaman sosial
    contoh: permainan sekolah, dokter-dokteran, ruman-rumahan dll
  2. Permainan imajinasi melatih kemampuan kreativitas anak
  3. Permainan motorik, melatih kemampuan motorik kasar dan halus.
    Motorik Kasar contoh: spider web, permainan palang, permainan keseimbangan
    dll, sedangkan motorik halus: meronce, mewarnai, menyuap.



C.  Kerangka Konsep
     Penurunan Suhu
Faktor yang mempengaruhi :
1.      Kecepatan metabolisme basal
Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (non-shivering thermogenesis).
  1. Rangsangan saraf simpatis
3.      Hormon Pertumbuhan.
4.      Hormon tiroid
5.      Hormon Kelamin.
6.      Demam (peradangan).
7.       Status gizi
8.       Aktivitas
9.      Gangguan organ
10.  Lingkungan.
Kompres Hangat
Kompres Dingin
 













Keterangan :                  
                            =  variabel yang tidak di teliti
                            = variabel yang diteliti.
C.   Hipotesis
Terdapat efektifitas kompres hangat dibanding kompres dingin terhadap penurunan suhu tubuh di Rumah sakit Panti Nugroho Yogyakart.

BAB III
METODE PENELITIAN
A.  Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah quasi eksperimen (eksperimen semu) yaitu penelitian yang mendekati eksperimen atau eksperimen semu. Bentuk penelitian ini banyak digunakan dibidang ilmu pendidikan atau penelitian lain dengan subjek yang diteliti adalah manusia, dimana mereka tidak boleh dibedakan antara satu dengan yang lain seperti mendapat perlakuan karena berstatus sebagai grup control. (Margono, 2003)
Pada penelitian kuasi eksperimen peneliti dapat membagi grup yang ada dengan tanpa memmbedakan antara control dan grup secara nyata dengan tetap mengacu pada bentuk alami yang sudah ada.
B. Populasi dan Sampel
1.      Populasi.
Populasi adalah sekumpulan objek yang menjadi pusat perhatian atau penelitian, yang daripadanya terkandung informasi yang ingin diketahui (Gulo, 2002).
Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang mengalami demam di Rumah Sakit Panti Nugroho.
2.      Sampel
Sample adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,2002).
Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang mengalami demam (DHF) pada balita di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta dengan jumlah 30 pasien, dengan menggunakan pengambilan sampel dilakukan teknik simple random sampling. Dikatakan teknik sample random sampling karena pengambilan sample anggota populasi secara acak tanpa memperhatikan strata  dan tidak terbatas akan usia yang ada dalam populasi dan dengan demikian setiap unsur bisa dipilih menjadi sampel.
C. Variabel Penelitian
1.         Variabel  independen (variabel bebas)
Menurut notoatmojo 2002 Variabel independen adalah variable yang mempengaruhi atau menyebabkan variable tergantung. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam  variable bebas  adalah  kompres hangat dan kompres dingin.
2.         Variabel Dependen  ( Variabel Terikat )
Notoatmojo 2002 mengatakan variable terikat adalah variable yang mempengaruhi atau yang diakibatkan oleh variable bebas. Dalam penelitian ini yang termasuk dalam variael terikat adalah Penurunan suhu tubuh.
Variabel Bebas:
Kompres Hangat

Hubungan antara variabel adalah sebagai berikut:
Variabel Terikat:
Penurunan Suhu tubuh
Variabel Bebas
Kompres Dingin
 


                       
D.    Definisi Operasional
a.         Variabel Bebas:
1.)        Yang dimaksud Kompres Hangat dalam penelelitian ini adalah Suatu prosedur memberikan rasa hangat sekitar 30- 35°C pada daerah kening dengan menggunakan cairan pada bagain tubuh yang memerlukan selama 15- 20 menit. Menggunakan kain/ handuk yang telah dicelupkan pada air hangat, yang ditempelkan pada bagian kening. Dilakukan pada pasien demam (DHF) dan dilakukan pada pasien balita. Alat yang digunakan untuk pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer pada daerah axila waktunya sekitar 5- 10 menit dan dilakukan selama 1 hari.
2.)        Yang dimaksud Kompres Dingin dalam penelitian ini adalah memberi rasa dingin pada daerah setempat dengan menggunakan kain yang dicelupkan pada air biasa atau air es sekitar 12- 18°C sehingga memberi efek rasa dingin pada daerah tersebut. Dilakukan pada pasien demam (DHF) dan dilakukan pada pasien balita ditempelkan pada daerah kening. Alat yang digunakan untuk pengukuran suhu dengan menggunakan thermometer pada daerah axila waktunya sekitar 5- 10 menit dan dilakukan selama 1 hari.
b.        Variabel Terikat:
Penurunan suhu tubuh.

E.    Instrumen Penelitian
       Instrument penelitian, merupakan alat bantu yang dipilih dan digunakan oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data (Arikunto, 2005). Alat pengumpulan data yang digunakan adalah dengan menggunakan formulir observasi yang berisikan biodata responden dan tingkat penurunan suhu tubuh sebelum dan setelah diberikan kompres. Dengan menggunakan alat kompres berupa air hangat dan air dingin beserta kain pel dan dengan menggunakan thermometer.
F.     Uji Validasi dan Reabilitas
Validitas adalah suatu indeks yang menunjukkan alat ukur itu benar-benar mengukur apa yang diukur (Notoatmojo,Soekidjo,2005).
Reabilitas ialah indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau dapat diandalkan (Notoatmojo,Soekidjo,2005).
Dari uji validitas dan reabilitas  didapatkan hasil bahwa, hasil pengukuran suhu secara akurat dan penempatan alat sesuai pada tempatnya dan yang dikerjakan mengompres pasien (DHF) dengan menggunakan air hangat dan air dingin selama 5- 10 menit dilakukan pada daerah kening.
G.        Tehnik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data adalah cara-cara yang digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data (Arikunto, 2005). Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan langkah awal dalam proses pengumpulan data adalah menentukan responden atau subjek yang akan diteliti dengan jumlah 30 pasien.
Berdasarkan tehnik sampling yang digunakan, subjek penelitian diambil dengan cara simple random sampling. Pengambilan sampel secara acak sederhana. Setelah didapatkan sampel yang diperlukan, melakukan observasi pada pasien yang mengalami demam terlebih dahulu diukur suhu tubuhnya dengan menggunakan thermometer kemudian pasien dikompres menggunakan air hangat kemudian diganti dengan air dingin. Setelah data semua terkumpul, dilakukan penganalisaan dengan menabulasikan data karena data dalam penelitian ini adalah data yang berskala nominal atau ordinal, maka statistic yang digunakan untuk menguji diterima atau ditolaknya hipotesis dari penelitian ini adalah statistic  non parametris dengan menggunakan uji Mann-Whitney atau U-Tes.
H. Pengolahan dan Analisa Data
Setelah data semua terkumpul, dilakukan penganalisaan dengan menabulasikan data karena data dalam penelitian ini adalah data yang berskala nominal atau ordinal, maka statistic yang digunakan untuk menguji diterima atau ditolaknya hipotesis dari penelitian ini adalah statistic  non parametris dengan menggunakan uji Mann-Whitney atau U-Tes. Data diolah dengan program SPSS 16.00 for windows (Riwidikdo, 2007).
Hipotesis:
Ho       : Tidak terdapat efektifitas kompres hangat dibandingkan kompres     dingin terhadp penurunan suhu tubuh.
Diterima apabila signifikan  (P) > alfa 0.05
Ha       : Terdapat efektifitas kompres hangat dibandingkan kompres  dingin terhadp penurunan suhu tubuh.
Diterima apabila signifikan  (P) < alfa 0.05
I.    Rencana Penelitian
Penelitian ini melewati beberapa tahap yaitu:
1.  Tahap Persiapan
a. Perbaikan proposal
Proposal dilakukan perbaikan jika mengalami kesalahan dan setelah itu akan direfisi oleh pembimbing.
b. Permohonan izin penelitian
Sebelum dilakukan penelitian di Rumah Sakit Panti Nugroho, Peneliti membuat permohonan ijin untuk kelancaran dalam penelitian dan surat permohonan ijin disetujui oleh pembimbing.
2.     Tahap Pelaksanaan
a. Informed consen (Lembar persetujuan)
Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang akan diteliti yang memenuhi kriteria inklusi disertai judul penelitian, manfaat penelitian.
b. Melakukan penelitian
           Penelitian akan dilaksanakan pada tanggal 1 Maret 2011 di Rumah Sakit Panti Nugroho dilakukan secara cermat, teliti dan aktual.
Dibantu oleh asisten perawat terlebih dahulu menjelakan kepada mereka akan tindakan yang akan dilakukan. Menjelaskan suhu air hangat dan air dingin yang akan digunakan untuk mengompres dan daerah yang akan dikompres, memberi penjelasan juga berapa lama dilakukan pengompresan.
c. Melakukan pengolahan data
   Jika penelitian telah dilaksanakan data akan diolah secara sistematis dan benar.
3.  Tahap Akhir
a. Penyusunan laporan penelitian
b. Perbaikan hasil penelitian
c. Persentasi hasil penelitian atau sidang akhir hasil penelitian
Rencana penelitian ini dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho Yogyakarta pada tanggal 1 Maret 2011 samapi 30 Juli 2011
Kegunaan
Minggu ke
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1.    Penyusunan  Proposal
2.    Penyusunan Istrumen
3.    Persiapan Lapangan
4.    Uji Coba Instrumen
5.                                5.   Pengambilan Sampel dan Pengumpulan Data
6.                                6.  Pengolahan Data
7.                                7.  Analisis Data
8.                                8.  Penyusunan Laporan
X

x


x


x



x



x






x




x







x






x






x


DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsini.1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta.
Heru dan Yasril. 2009. Teknik Sampling untuk Penelitian Kesehatan. Yogyakarta : Graha   Ilmu
Notoatmodjo, Soekidjo. 2005. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Nursalam.2008.Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta: SalembaMedika.
Sugiyono. 2005. Statistika  untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta.
Potter dan Perry (1997) Fundamental of Nursing, Mosby USA
Margono, S. 2003. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Rineka Cipta.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

askep45,health

Ada kesalahan di dalam gadget ini