Langsung ke konten utama

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN OSTEOSARCOMA




ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN PASIEN
 OSTEOSARCOMA


Disusun Oleh :
1.         Ahmad irfankhan HS           (1509 003)
2.         Harti febiyanti                       (1509 017)
3.         Lila Kartika                           (1509 022)
4.         Yunita Setyaningrum           (1509 040)



YOGYAKARTA
2011




KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga tugas asuhan keperawatan Medical Bedah III dengan pasien osteosarcoma dapat selesai tepat pada waktunya.
Asuhan keperawatan ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.
Asuhan keperawatan ini terwujud atas bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu dan pada kesempatan ini penulis dengan segala kerendahan hati menyampaikan terimakasih kepada :
1.      Dwi Wulan M, S.Kep.,Ns selaku pengajar mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III dan sekaligus pembimbing dalam pembuatan asuhan keperawatan ini.
2.      Eko Rudianto, AhPP selaku pengajar mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III.
3.      Orang tua yang telah memberikan motivasi baik moril maupun materil.
4.      Teman-teman AKPER YKY yang telah memberikan bantuan kepada saya.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca untuk kesempurnaan asuhan keperawatan ini, harapan penulis semoga asuhan keperawatan ini bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 23 April 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang. Tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut.( Price, 1962:1213 )
Menurut badan kesehatan dunia ( World Health Oganization ) setiap tahun jumlah penderita kanker ± 6.25 juta orang. Di Indonesia diperkirakan terdapat 100 penderita kanker diantara 100.000 penduduk per tahun. Dengan jumlah penduduk 220 juta jiwa terdapat sekitar 11.000 anak yang menderita kanker per tahun. Di Jakarta dan sekitarnya dengan jumlah penduduk 12 juta jiwa, diperkirakan terdapat 650 anak yang menderita kanker per tahun.
Menurut Errol Untung Hutagalung, seorang guru besar dalam Ilmu Bedah Orthopedy Universitas Indonesia, dalam kurun waktu 10 tahun (1995-2004) tercatat 455 kasus tumor tulang yang terdiri dari 327 kasus tumor tulang ganas (72%) dan 128 kasus tumor tulang jinak (28%). Di RSCM jenis tumor tulang osteosarkoma merupakan tumor ganas yang sering didapati yakni 22% dari seluruh jenis tumor tulang dan 31 % dari seluruh tumor tulang ganas. Dari jumlah seluruh kasus tumor tulang 90% kasus datang dalam stadium lanjut. Angka harapan hidup penderita kanker tulang mencapai 60% jika belum terjadi penyebaran ke paru-paru. Sekitar 75% penderita bertahan hidup sampai 5 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis. Sayangnya penderita kanker tulang kerap datang dalam keadaan sudah lanjut sehingga penanganannya menjadi lebih sulit. Jika tidak segera ditangani maka tumor dapat menyebar ke organ lain, sementara penyembuhannya sangat menyakitkan karena terkadang memerlukan pembedahan radikal diikuti kemotherapy.
Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui.
Melihat jumlah kejadian diatas serta kondisi penyakit yang memerlukan pendeteksian dan penanganan sejak dini, penulis tertarik untuk menulis makalah “ Asuhan Keperawatan Osteosarkoma “

B.     Tujuan
1. Tujuan Umum
Untuk mendapatkan gambaran dan mengetahui tentang bagaimana Asuhan Keperawatan pada klien Osteosarkoma.
2. Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa mampu memberikan gambaran asuhan keperawatan meliputi :
a. Mampu memberikan gambaran tentang pengkajian pada klien dengan osteosarcoma
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan osteosarkoma.
c.  Mampu membuat rencana keparawatan pada klien dengan osteosarkoma.
d. Mampu menyebutkan faktor pendukung dan penghambat dalam asuhan keperawatan pada anak dengan Osteosarkoma.

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung (Danielle. 1999: 244 ).
Kanker adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh.( Wong. 2003: 595 ). Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) adalah tumor yang muncul dari mesenkim pembentuk tulang. ( Wong. 2003: 616 )
Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 )
Osteosarkoma ( sarkoma osteogenik ) merupakan tulang primer maligna yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah menyebar ke paru ketika pasien pertama kali berobat.( Smeltzer. 2001: 2347 )
Klasifikasi tumor pada muskuloskletal adalah :
1.      Tumor jinak ( benigna )
a.        Osteoma
Osteoma merupakan lesi tulang yang bersifat jinak dan ditandai oleh pertumbuhan tulang yang abnormal. Oateoma berwujud sebagai suatu benjolan yang tumbuh dengan lambat dan tidak nyeri. Pada pemeriksaan radiografi osteoma perifer tampak sebagai lesi yang meluas pada permukaan tulang. Sedangkan osteoma sentral tampak sebagai suatu masa berbatas jelas dengan tulang.
b.        Kondroblastoma
Konroblastoma adalah tumor jinak yang sering ditemukan pada tulang humerus. Gejala yang sering timbul adalah nyeri yang timbul pada tulang rawan.
c.  Enkondroma
Enkondroma adalah tumor jinak sel –sel rawan displastik yang timbul pada metafisis tulang tubular, terutama pada tangan dan kaki.
2.       Tumor – tumor ganas ( maligna )
a.       Multipel mieloma
Tumor ganas pada tulang akibat proliferasi ganas dari sel sel plasma.
b.      Sarkoma osteogenik
Sarkoma osteogenik merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas
c.       Kondrosarkoma
Kondrosarkoma merupakan tumor tulang ganas yang terdiri dari kondrosit anaplastik yang dapat tumbuh sebagai tumor tulang perifer atau sentral.
B.     Etiologi
Etiologi dari osteosarkoma adalah :
1.       Radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
2.       Keturunan ( genetik )
3.       Beberapa kondisi tulang yang ada sebelumnya yang disebabkan oleh penyakit.
4.       Pertumbuhan tulang yang terlalu cepat.
5.       Sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain.
C.    Anatomi dan Fisiologi
Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk gerak pasif, proteksi alat-alat di dalam tubuh, pemben Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat. Ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat.
Sebagaimana jaringan pengikat lainnya, tulang terdiri dari komponen matriks dan sel. Matriks tulang terdiri dari serat-serat kolagen dan protein non-kolagen. Sedangkan sel tulang terdiri dari osteoblas, oisteosit, dan osteoklas.
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau pada kasus metastasis kanker ke tulang.
 Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang yang padat. Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulan90g sehingga kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah. (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton. 1997)
D.    Patofisiologi
Keganasan sel pada mulanya berawal pada sumsum tulang (myeloma) dari jaringan sel tulang (sarcoma) sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limfe, hati dan ginjal sehingga dapat mengakibatkan adanya pengaruh aktifitas hematopeotik sum-sum tulang yang cepat pada tulang sehingga sel-sel plasma yang belum matang/tidak matang akan terus membelah terjadi penambahan jumlah sel yang tidak terkontrol lagi.
E. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis dari osteosarkoma adalah :
1.      Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan progresivitas penyakit)
2.      Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas
3.      Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena
4.      Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.
E.     Penatalaksanaan
Penatalaksanaan tergantung pada tipe dan fase dari tumor tersebut saat didiagnosis. Tujuan penatalaksanaan secara umum meliputi pengangkatan tumor, pencegahan amputasi jika memungkinkan dan pemeliharaan fungsi secara maksimal dari anggota tubuh atau ekstremitas yang sakit. Penatalaksanaan meliputi pembedahan, kemoterapi, radioterapi, atau terapi kombinasi.
Osteosarkoma biasanya ditangani dengan pembedahan dan / atau radiasi dan kemoterapi. Protokol kemoterapi yang digunakan biasanya meliputi adriamycin (doksorubisin) cytoksan dosis tinggi (siklofosfamid) atau metrotexate dosis tinggi (MTX) dengan leukovorin. Agen ini mungkin digunakan secara tersendiri atau dalam kombinasi. Bila terdapat hiperkalsemia, penanganan meliputi hidrasi dengan pemberian cairan normal intravena, diurelika, mobilisasi dan obat-obatan seperti fosfat, mitramisin, kalsitonin atau kortikosteroid. ( Gale. 1999: 245 ).
F.      Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis didasarkan pada riwayat, pemeriksaan fisik, dan penunjang diagnosis seperti CT, biopsi, dan pemeriksaan biokimia darah dan urine. Pemeriksaan foto toraks dilakukan sebagai prosedur rutin serta untuk follow-up adanya stasis pada paru-paru.
Hiperkalsemia terjadi pada kanker tulang metastasis dari payudara, paru, dan ginjal. Gejala hiperkalsemia meliputi kelemahan otot, keletihan, anoreksia, mual, yu9o-;’muntah, poliuria, kejang dan koma. Hiperkalsemia harus diidentifikasi dan ditangani segera. Biopsi bedah dilakukan untuk identifikasi histologik. Biopsi harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penyebaran dan kekambuhan yang terjadi setelah eksesi tumor.




BAB III
ASUHAN KEPERAWARTAN OSTEOSARKOMA

A.     Pengkajian
1. Data biografi
Data biografi biasanya mencakup nama, umur, alamat, pekerjaan, No. MR, agama dan lain-lain yang dianggap perlu.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Klien mengatakan nyeri pada ekstremitas, sering berkeringat pada malam hari, nafsu makan berkurang dan sakit kepala.
3.      Riwayat kesehatan dahulu
a.       Kemungkinan pernah terpapar sering dengan radiasi sinar radio aktif dosis tinggi
b.       Kemungkinan pernah mengalami fraktur
c.       Kemungkinan sering mengkonsumsi kalsium dengan batas narmal
d.      Kemungkinan sering mengkonsumsi zat-zat toksik seperti : makanan dengan zat pengawet, merokok dan lain-lain
4.      Riwayat kesehatan keluarga
Kemungkinan ada salah seorang keluarga yang pernah menderita kanker.
5.      Pemeriksaan fisik
  1. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena
  2. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas
  3. Adanya tanda-tanda inflamasi
  4.  Pemeriklsaan TTV klien
6.      Pemeriksaan Diagnostik
lakukan pemeriksaan radiografi, pemindaian tulang, dan biopsi tulang.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
2. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat.
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker.
4. Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja pera ( Doenges. 1999: 1000 )
5. Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. ( Wong. 2003: 617 )

C. Intervensi
1. Nyeri yang berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
    Tujuan: klien mengalami pengurangan nyeri.
KH :
·         Mengikuti aturan farmakologi yang ditentukan
  • Mendemontrasikan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktifitas hiburan sesuai indikasi situasi individu.
Intervensi :
-          Kaji status nyeri ( lokasi, frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri )
-          Memberikan data dasar untuk menentukan dan mengevaluasi intervensi yang diberikan.
-          Berikan lingkungan yang nyaman, dan aktivitas hiburan ( misalnya : musik, televise
-           Meningkatkan relaksasi klien
-          Ajarkan teknik manajemen nyeri seperti teknik relaksasi napas dalam, visualisasi, dan bimbingan imajinasi.
-           Meningkatkan relaksasi yang dapat menurunkan rasa nyeri klien
Kolaborasi :
-          Berikan analgesik sesuai kebutuhan untuk nyeri.
-          Mengurangi nyeri dan spasme otot ( Doenges. 1999: 1005 )
2. Koping tidak efektif berhubungan dengan rasa takut tentang ketidak tahuan, persepsi tentang proses penyakit, dan sistem pendukung tidak adekuat.
Tujuan : Mendemonstrasikan penggunaan mekanisme koping efektif dan partisipasi aktif dalam aturan pengobatan.
KH :
·         Pasien tampak rileks
·         Melaporkan berkurangnya ansietas
·          Mengungkapkan perasaan mengenai perubahan yang terjadi pada diri klien
Intervensi :
-          Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan.
-          Memberikan kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa takut serta kesalahan konsep tentang diagnosis
-          Berikan lingkungan yang nyaman dimana pasien dan keluarga merasa aman untuk mendiskusikan perasaan atau menolak untuk berbicara.
-          Membina hubungan saling percaya dan membantu pasien untuk merasa diterima dengan kondisi apa adanya
-          Pertahankan kontak sering dengan pasien dan bicara dengan menyentuh pasien.
-          Memberikan keyakinan bahwa pasien tidak sendiri atau ditolak.
-          Berikan informasi akurat, konsisten mengenai prognosis
-          Dapat menurunkan ansietas dan memungkinkan pasien membuat keputusan atau pilihan sesuai realita.  ( Doenges. 1999: 1000 )
3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik berkenaan dengan kanker
Tujuan : mengalami peningkatan asupan nutrisi yang adekuat
KH :
·         Penambahan berat badan
·         Bebas tanda malnutrisi
·         Nilai albumin dalam batas normal ( 3,5 – 5,5 g% )
Intervensi :
-          Catat asupan makanan setiap hari
-          Mengidentifikasi kekuatan atau defisiensi nutrisi.
-          Ukur tinggi, berat badan, ketebalan kulit trisep setiap hari.
-           mengidentifikasi keadaan malnutrisi protein kalori khususnya bila berat badan dan pengukuran antropometrik kurang dari normal
-          Berikan diet TKTP dan asupan cairan adekuat.
-          Memenuhi kebutuhan metabolik jaringan. Asupan cairan adekuat untuk menghilangkan produk sisa.
Kolaborasi :
-          Pantau hasil pemeriksaan laboratorium sesuai indikasi
-          Membantu mengidentifikasi derajat malnutrisi  ( Doenges. 1999: 1006 )
4.    Gangguan harga diri karena hilangnya bagian tubuh atau perubahan kinerja pera ( Doenges. 1999: 1000 )
Tujuan : Mengungkapan perubahan pemahaman dalam gaya hidup tentang tubuh, perasaan tidak berdaya, putus asa dan tidak mampu.
KH :
·         Mulai mengembangkan mekanisme koping untuk menghadapi masalah secara efektif.
Intervensi :
-          Diskusikan dengan orang terdekat pengaruh diagnosis dan pengobatan terhadap kehidupan pribadi pasien dan keluarga.
-          Membantu dalam memastikan masalah untuk memulai proses pemecahan masalah.
-          Motivasi pasien dan keluarga untuk mengungkapkan perasaan tentang efek kanker atau pengobatan.
-          Membantu dalam pemecahan masalah
-          Pertahankan kontak mata selama interaksi dengan pasien dan keluarga dan bicara dengan menyentuh pasien
-          Menunjukkan rasa empati dan menjaga hubungan saling percaya dengan pasien dan keluarga. ( Doenges. 1999: 1004 )
5.    Berduka berhubungan dengan kemungkinan kehilangan alat gerak. ( Wong. 2003: 617 )
Tujuan : Keluarga dan klien siap menghadapi kemungkinan kehilangan anggota gerak.
KH :
·          Pasien menyesuaikan diri terhadap kehilangan anggota gerak
·          Mengalami peninggkatan mobilitas
Intervensi :
-          Lakukan pendekatan langsung dengan klien
-          Meningkatkan rasa percaya dengan klien.
-          Diskusikan kurangnya alternatif pengobatan.
-          Memberikan dukungan moril kepada klien untuk menerima pembedahan.
-          Ajarkan penggunaan alat bantu seperti kursi roda atau kruk sesegera mungkin sesuai dengan kemampuan pasien.
-          Membantu dalam melakukan mobilitas dan meningkatkan kemandirian pasien.
-          Motivasi dan libatkan pasien dalam aktifitas bermain
-          Secara tidak langgsung memberikan latihan mobilisasi ( Wong. 2003: 617)
D.    Evaluasi
1.      Pasien mampu mengontrol nyeri
a.       Melakukan teknik manajemen nyeri,
b.      Patuh dalam pemakaian obat yang diresepkan.
c.       Tidak mengalami nyeri atau mengalami pengurangan nyeri saat istirahat, selama menjalankan aktifitas hidup sehari-hari
2.      Masukan nutrisi yang adekuat
a.       Mengalami peningkatan berat badan
b.      Menghabiskan makanan satu porsi setiap makan
c.       Tidak ada tanda – tanda kekurangan nutrisi
3.      Memperlihatkan pola penyelesaian masalah yang efektif.
a.         Mengemukakan perasaanya dengan kata-kata
b.         Mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki pasien
c.         Keluarga mampu membuat keputusan tentang pengobatan pasien
4.      Memperlihatkan konsep diri yang positif
a.       Memperlihatkan kepercayaan diri pada kemampuan yang dimiliki pasien
b.      Memperlihatkan penerimaan perubahan citra diri
5.      Klien dan keluarga siap menghadapi amputasi


BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Sarkoma osteogenik ( Osteosarkoma ) merupakan neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama lutut. ( Price. 1998: 1213 ).
Kanker tulang ( osteosarkoma ) lebih sering menyerang kelompok usia 15 – 25 tahun ( pada usia pertumbuhan ). ( Smeltzer. 2001: 2347 ). Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka kejadian pada anak laki-laki sama dengan anak perempuan. Tetapi pada akhir masa remaja penyakit ini lebih banyak di temukan pada anak laki-laki. Sampai sekarang penyebab pasti belum diketahui
Tanda dan gejala dari Osteosarkoma adalah Nyeri dan/ atau pembengkakan ekstremitas yang terkena, pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta pergerakan yang terbatas, teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta adanya pelebaran vena dan gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam, berat badan menurun dan malaise.

B.     Saran
Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu kami sebagai kelompok mengharapkan kritikan dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa. Selain itu penyakit osteosarkoma ini sangat berbahaya dan kita sebagai host harus bisa menerapkan pola hidup sehat agar kesehatan kita tetap terjaga.
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta : EGC.
Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan keperawatan pasien. Edisi 3 . Jakarta : EGC.
Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer & Brenda G. bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi 8. Jakarta : EGC.



Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu )

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu ) Pengertian : 1.Pernafasan menghitung jumlah pernafasan ( inspirasi yang diikuti ekspresi selaman 1 menit. 2.Nadi menghitung frekuensi denyut nadi ( loncatan aliran darah yang dapt teraba yang terdapat di berbagai titik anggota tubuh melalui perabaan pada nadi, yang lazim diperiksa atau diraba pada radialis. 3.Tekanan darah melakukan pengukuran tekanan darah ( hasil dari curah jantung dan tekanan darah perifer )mdengan menggunakan spygnomanometer dan sttoskop. 4.Suhu mengukur suhu tubuh dengan mengguanakan termometer yang di pasangkan di mulut, aksila dan rektal. Tujuan : 1.Pernafasan a)Mengetahui kesdaan umum pasien b)Mengetahui jumlah dan sifat pernafasan dalam rentan 1 menit c)Mengikuti perkembangan penyakit d)Membantu menegakkan diagnosis
2.Nadi a)Mengetahui denyut nadi selama rentan waktu 1 menit b)Mengetahui keadaan umum pasien c)Mengetahui intgritassistem kardiovaskulr<

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam Pengertian : Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulasi nyeri Ada tiga hal yang utama dalam teknik relaksasi : 1.Posisikan pasien dengan tepat 2.Pikiran beristirahat 3.Lingkungan yang tenang Tujuan : Untuk menggurangi atau menghilangkan rasa nyeri Indikasi : Dilakukan untuk pasien yang mengalami nyeri kronis
Prosedur pelaksanaan : A.Tahap prainteraksi 1.Menbaca status pasien 2.Mencuci tangan 3.Meyiapkan alat
B.Tahap orientasi 1.Memberikan salam teraupetik 2.Validasi kondisi pasien 3.Menjaga perivacy pasien 4.Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga