Kamis, 12 Mei 2011

ASUHANKEPERAWATAN PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS


ASUHANKEPERAWATAN PASIEN DENGAN DIABETES MELLITUS
A.   Pengertian
1.    Diaberes mellitus adalah penyakit kronis yang kompleks yang mengakibatkan ganguan metabilisme karbihidrat, protein, lemak, dan berkembang menjadi komplikasi makrovaskuler, mikrivaskuler dan neurologis. ( Barbara C.Long)
2.    Diabetes mellitus adalah suatu penyakit kronis yang menimbulkan ganguan multi sistem dan mempunyai karakteristik hyperglikemia yang disebabkan defisiensi insulin atau kerja insulin uang tidak adekuat. ( Brunner dan Sudart )
3.    Diabetes mellitus adalah keadaan hyperglekimia kronis yang disebabkan oleh faktor lingkungan dan keturunan secara bersama-sama, mempunyai karakteristik hyperglekimia kronis tidak dapat di sembuhkan tetapi dapat di kontrol. ( WHO )
4.    Diabetes mellitus adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat peningkatan kadar glukosa darah yang disebabkan oleh kekurangan insulin. ( Suyono,2002 )

B.   Etiologi
Etiologi dari diabetes mellitus tipe II sampai saat ini belum diketahui dengan pasti dari studi-studi eksperimental dan klinis belum di ketahui bahwa diabetes mellitus adalah merupakan suatu sindrom yang menyebabkan kelainan yang berbeda-beda dengan lebih dari satu penyebab yang mendasari. Menurut beberapa ahli beberapa faktor yang sering dianggap penyebab yaitu :
1.    Faktor genetik
Riwayat keluarga dengan diabetes mellitus :
Pincus dan White berpendapat perbandingan krluarga yang menderits disbetes mellitus dengan kesehatankeluarga sehat, ternyata angka kesakitan keluarga yang menderita diabetes mellitus mencapai 8,33 % dan 5,33 % bila di bandingkan dengan keluarga sehat yang memperlihatkan angka hanya 1,96 %.

2.    Faktor non genetik
1)    Infeksi
Virus dianggap “trigger” pada mereka yang sudah mempunyai predisposisi genetik terhadap diabetes mellitus.

2)    Nutrisi
a)    Obesitas dianggap menyebabkan resistensi terhadap insulin
b)    Malnutrisi protein fungsi menurun dalam memperoduksi insulin
c)    Alkohol, dianggap menambah resilo terjadinya pankreatitis
3)    Stres
Stres berupa pembedahan, inftak miokard, luka bakar dan emosi biasanya menyebabkan hyperglikemia sementara
4)    Hormonal
Syindrom cushing karena konsentrasi hidrokortison dalam darah tinggi, akromegali karena jumlah somatotropin meninggi,fekromositoma karena konsentarasi glukogen dalam darah tinggi, fekromositoma karena kadar katekolamin meningkat.

C.   Kalasifikasi
Berdasarkan klasifikasi dari WHO 1985 di bagi beberapa type yaitu :
a)    Diabetes mellitus type I. Insulin dependen diabetes mellitus ( IDDM )
dahulu dikenal dengan nama Juvenil Onset Diabetes ( JOD ), pasien tergantung pada pemberian insulin untuk mencegah terjadinya ketoasidosis dan mempertahankan hidup. Biasanya pada anak-anak atau usia muda dapat disebabkan karena ketueunan.

b)    Diabetes mellitus type II. Non insulin dependen diabetes mellitus ( NIDDM )
Dahulu di kenal dengan nama Maturity Onset Diabetes ( MOD ) terbagi menjadi 2 yaitu :
1.    Non obesitas
2.    Obesitas
Disebabkan karena kurangnya produksi insulin dari sel beta pankreas, tetapi biasanya aksi insulin pada jaringan perifer. Biasanya terjadi pada orang tua ( usia 40 tahun ) atau anak dengan obesitas

c)    Diabetes mellitus type lain
1.    Diabetes oleh beberapa sebab seperti kelainan pankreas, kelainan hormonal, diabetes karena obat atau zat kimia, kelainan reseptor insulin, dan kelainan genetik
2.    Obat-obatan yang menyebabkan hyperglikemia antara lain :
Furasemid, thyasida diuretik glukortikoid, dilanting dan asam hidotinik.
3.    Diabetes gestasional ( diabetes kehamilan ) intoleransi glukosa selama kehamilan, tidak dikelompokan dan hormon chorionik somatomamotropin ( HCS ). Hormon ini meningkat untuk mensuplay asam amino dan glukosa kefetus.

D.   Patofisiologi
Sebagian besar patligi diabetes melitus dapat dikaitkan dengan satudari tiga efek utama kekurangan insulin sebagi berikut :

1.    Pengurangan penggunaan glukosa oleh sel-sel tubuh, dengan akibat peningkatan konsentasi glukosa darah setinggi 300 sampai 1200 mg/hari/100 ml.
2.    Peningkatan mobilisasi lemak dari daerah-daerah penyimpan lemak, menyebabkan kelainan lemak maupun pengendapan lipid pada dinding vaskuler yang mengakibatkan anterosklerosis.
3.    Pengunaan protein dalam jaringan tubuh. Akan tetepiselin itu akan terjadi beberapa masalah patofisiologis pada diabetes mellitus yanf tidak mudah tampak yaitu kehilanfan ke dalam urin pasien diabetes mellitus. Bila jumlah glukosa yang masuk tubulus ginjal filterasi glomerulus meningkat kira-kira diatas 225 mg/mrnit glukosa dalamjumlah bermakna mulai di buang kedalam urine. Jika jumlah filterasi glomerulus yang terbentuk tiap menit tetap, maka lupang glukosa terjadi bila kadar glukosa meningkat lebih dari 180 %.

E.   Gambaran klinis
Gejala yang lazim terjadi pada diabetes mwllitus sebagi berikut :
1.    Poliuri ( banyak kencing )
Hal ini disebabkan oleh karena kadar glukosa darah meningkat sampai melampaui daya serap ginjal terhadap glukisa sehinggaterjadi osmotik diuresis yang mana gula banyak menarik cairan dan elektrolit sehingga pasien mengeluh banyak kencing.

2.    Polidipsi ( banyak minum )
1.    Hal inidisebabakan pembakaran terlalu banyak dan kehilangan banyak karena poliuri, sehingga untuk mengimbagi pasien lebih banyak minum.

3.    Polipagi ( banyak makan )
1.    Hal ini disebabakankarena glukosa tidak sampai kesel-sel mengalami starvasi ( lapar ). Sehingga untuk memenuhinya pasien ahan terus makan. Tetepi walaupun pasien banyak makan, tetep saja makanan tersebut hanya akan berada sampai pada pembuluh darah.

4.    Brst bsdsn menurun
Lemas, lelah, lunglai, letih, lesu dan tenaga kurang. Hal ini disebabkan kehabisan glukosa yang telah di lebur jadi glukosa, maka tubuh berusaha mendapat pelebutan zat dari bagian tubuh yang lain yaitu lemak dan protein, karean tubuh terus merasakan lapr, maka tubuhselanjutnya akan memecah cadangan makanan yand ada ditubuh termasuk yang berada di jaringn ototdan lemak sehingga pasien dengan diabetes mellitus walaupun banyak makan akan tetep kirus.

5.    Mata kabur
Hal ini disebabakan oleh gangguan lintas polibi ( glukosa-sarbitol fruktasi ) yang disebabkankarena insufisiensi insulin. Akaibat terdapat penimbunan sarbitol dari lensa, sehingga menyebabkan pembentukan katarak.

F.    Diagnosis
Diagnosis diabetes mellitus umumnya dipikirakan dengan adanya gejala khas diabetes mellitus berupa piliuri, polidipsi, poliphagi, lemas dan berat badan menurun. Jika keluhan adanya gejala khas di temukan dan pemeriksaan glukosa darah sewaktu yang lebih 216 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosa.

G.   Penatalaksanaan
Tujuan utama penatalaksanaan pasien dengan diabetes mellitus adalah untuk mengukur glukosa darah dan mencegah timbuknya komplikasi akut dan kronik. Jika pasien berhasil mengatasi diabetes mellitus yang di deritanya, ia akan terhindar dari hiperglikemia atau hipokglikemia. Penatalaksanaan diabetes mellitus tergantung pada ketepatan interaksi dri tiga faktor yaitu aktifitas fisik, diet dan intervensi farmakologi dengan preparat hiperglikemik oral dan insulin. Pada penderita diabetes mellitus harus pantang gula dan makan yang manis. Tiga hal yang penting harus diperhatikan pada penderita diabetes mellitus ada tiga “J” yaitu : ( jumlah, jadwal dan jenis makanan )

J : jumlah kalori sesuai dengan ketentuan
J : jadwal makanan harus di ikuti sesuai dengan jam makan terdaftar
J : jenis makanan harus di perhatikan ( pantang gula dan manis )

Konsep dasar asuhan keperawatan
1.    Pengkajian
Pengkajian pada pasien dengan gangguan sistem endokrin diabetes mellitus di lakukan muali dari pengumpulan data yang meliputi : biodata, riwayat kesehatan, keluhan utama, sifat keluhan, riwayat kesehatan masalalu, pemeriksaan fisik, pola kegiatan sehari-hari. Hal ini yang perlu di kaji dengan diabetes mellitus :

a.    Aktifitas dari istirahat
Kelelahaan, susah berjalan atau bergerak, keram otot, gangguan istirahat dan tidur, takikardi atau takipnea pada waktu melakukan aktivitas dan koma.

b.    Sirkulasi
Riwayat hipertensi, penyakit jantung seperti IMA, nyeri, kesemutan pada ekstermitas bawah, lika yang sukar sembuh, kulit kering, merah dan bola mata cekung.

c.    Eliminasi
Poliuri, nyeri, rasa terbakar, diare, perut kembung dan pusat

d.    Nutrisi
Nausea, vomitus, berat badan menurun, turgor kulit jelek, mualatau muntah.

e.    Neurosensori
Sakit kepala, menyatakan mau muntah, kesemutan, lemah otot, disorientasi, letargi, koma dan bingung.

f.     Nyeri
Pembengkakan perut dan meringis.

g.    Respirasi
Takipnea, kussmaul, ronchi, wheezing, dan sesak nafas.

h.    Keamanan
Kulit rusak, lesi atauulkus, menurunya kekuatan umum.

i.      Seksualitas
Adanya peradangan pada daerah vagina, serta organisme menirundan terjadi impoten pada peria.


2.    Diagnosakeperawatan
Berdassrkan pengkajian data keperawatan yang sering terjadi berdasarkan teori, maka diagosa keperawatan yang mungkin muncul pada kelien diabetes melitus yaitu :

a.    Kekurangan volume cairan tubuh berhubungan dengan diuresis osmotik.
b.    Perubahan stasus nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insulin, penurunan masukan oral.
c.    Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia
d.    Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidakseimbangan glukosa atau insulin dan atau elektrilit
e.    Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik
f.      Ketidak berdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang atau progresif yang tidak dapat di obati, ketergantungan pada orang lain.
g.    Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubunagan dengan kurangnya pemajanan atau mengingat, kesalahan interpretasi informasi.

3.    Perencanaan atau rencana keperawatan
a.    Kekurangan volume cairan tubuh berhububgan dengan diuresis osmotik.
Tujuan :
·         mendemonstarasiakan hidarasi adekuat dibuktikan oleh tadna vital stabil, nadi perifer dapat di raba, turgaor kulit dan pengisian kapiler baik, pengeluaran urine tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.
Intervensi :

1.    Pantau tanda-tanda fital.
2.    Kaji nadi perifaer, pengisian kapiler, turgor kuit dan membran mukosa
3.    Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urine
4.    Timbang berat badan setiap hari
5.    Beri terapai cairan sesuai indikasi

b.    Perubahan status nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan ketidak cukupan insuline, penurunan pemasukan oral.
Tujuan :
·         Mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
·         Menunjukkan tingkat energi yang sebenarnya
·         Berat badab stabil atau bertambah
Intervensi :
1.    Tentukan perogram diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan oleh pasien
2.    Timbang berat badan setiap hari atau sesuai indikasi
3.    Identifikasi makanan yang disukai atau yang dikehendaki termasuk kebutuhan etnik atau kultural
4.    Libatkan keluarga pasien pada perencanaan makan sesuai indikasi.
5.    Berikan pengobatan insulin  secara teratur sesuai indikasi


c.    Resiko infeksi berhubungan dengan hyperglikemia
Tujuan :
·         Mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau menurunkan resiko infeksi
·         Mendemontrasikan atau teknik, perubahan gaya hidup untuk mencegah terjadinya infeksi
Intervensi :
1.    Observasi tanda vital dan peradangan
2.    Tingkatka upaya untuk pencegahan dengan melakukan cuci tangan yang baik pada orang yang berhubungan dengan pasien termasuk pasienya sendiri.
3.    Pertahankan teknik aseptik pada prosedur invasif.
4.    Berikan perawatan kulit dengan teratur dan sungguh-sungguh.
5.    Lakukan perubahan posisi, anjurkan batuk efektif dan nafas dalam

d.    Resiko tinggi terhadap perubahan persepsi sensori berhubungan dengan ketidak seimbangan glukosa atau insulin dan atau elek trolit.
Tujuan :
·         Memperthankan tingkat kesadaran atau orientasi
·         Mengenali dan mengkopensasikan adanya kerusakan sensori
Intervensi :
1.    Pantau tanda vital dan status mental
2.    Panggil pasien dengan nama , orientasikan sesuai dengan kebutuhan.
3.    Pelihara aktifitas rutin pasien sekonsisten mungkin, dorong untuk melakuakan aktifitas sehari-hari sesuai kemampuan
4.    Selidiki adanya keluhan parestesia, nyeri atau kehilangan sensori pada paha atau kaki.

e.    Kelelahan berhubungan dengan penurunan produksi energi metabolik
Tujuan :
·         Mengungkapkan peningkatan tingkat energi
·         Menunjukan perbaikan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktifitas yang diinginkan.
Intervensi :
1.    Diskusikan dengan pasien tentang kebutuhan aktifitas
2.    Berikan aktifitas alternatif dengan periode istirahat yang cukup
3.    Pantau nadi, frekuensi pernafasan dan tekanan darah sesudah dan sebelum melakukan aktifitas
4.    Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktifitas sehari-hari sesuai toleransi.

f.      Ketidakberdayaan berhubungan dengan penyakit jangka panjang atau progresif  yang tidak dapat di obati, ketergantunag pada orang lain.
Tujuan :
·         Menghindarkan pasien dari perasaan putus asa
·         Mengidentifikasi cara-cara sehat untuk menghadapi perasaan.
·         Membantu dalam merencanakan perawatanya sendiri dan secara mandiri mengambil tanggung jawab untuk aktifitas perawatan diri.
Intervensi :
1.    Anjurka pasien atau keluarga untuk mengekspresikan perasaan tentang perawatan diri dirumah sakit dan penyakitnya secara keseluruhan.
2.    Tentukan tujuan atau harapan dari pasien dan keluarga
3.    Berikan dukungan pada pasien untuk ikut berperan serta dalam perawatan diri sendiri dan berikan umpan balik positif sesuai dengan usaha yang dilakuakan
4.    Berikan dukungan pada pasien untuk inut berperan serta dalam perawatan diri sendiri.

g.    Kurang pengetahuan tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurangnya pemajaan atau mengingat, kesalahan interpretasi informasi
Tujuan :
·         Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit
·         Mengidentifikasi hubungan tanda dan gejala dengan proses penyakit dan menghubungkan gejala dengan faktor penyebab
·         Dengan benar melakukan prosedur yang perlu dan menjalankan rasional tindakan.
Intervensi :
·         Ciptakan lingungan saling percaya
·         Diskusikan dengan pasien tentang penyakitnya
·         Diskusikan tentang rencana diet, penggunaan makanan tinggi seraat
·         Diskusikan pentingnya untuk melakukan evaluasisecara teratur dan jawab pertanyaan pasien atau orang terdekat.

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.