Langsung ke konten utama

GASTRITIS KRONIS


GASTRITIS KRONIS

Lambung mungkin mengalami suatu inflamasi kronis dari tipe tertentu sehingga menyebabkan gastritis dari tipe yang spesifik, misalnya pada proses tbc, sarcoidosis, dan syphilis. Dengan sejak dipakainya gastrokop mulai 1921 untuk pemeriksaan setiap kelainan dalam lambung maka dapat ditentukan klasifikasi dari gastritis kronika.

A.   Klasifikasi
      Sejak dikembangkan gastroskop, maka para gastroenterology membuat         klasifikasi dari gastritis kronika sebagai berikut :
1.    Gastritis Superfisialis
Terlihat mukosa dengan hiperaemi yang difus, udema, dan             eksudasi. Penyakit ini ialah suatu inflamasi yang kronis pada            permukaan mukosa lambung.
1.    Patologi
      Pada pemeriksaan histopatologis terlihat gambaran adanya udema     pada permukaan epitel lambung dan adanya penebalan mukosa.        Perubahan yang timbul yaitu infiltrasi limfosit dan sel plasma     dilamina propia. Mungkin juga akan diketemukan leukosit nuklier polimorf dilamina propia.
2.    Simtomatologi
      Keluhan yang diajukan adalah samar-samar. Yang sering diajukan     yaitu perasaan seperti tertekan pada epigastrium, rasa penuh, nausea,          dan vomitus. Kadang-kadang ada perasaan pedih baik sebelum dan     sesudah makan. Napsu makan menurun, mungkin berat badan       menurun. Kadang-kadang disertai rasa pusing kepala. Pada     pemeriksaan jasmani tak banyak dijumpai kelainan.
3.    Diagnosa
      Mungkin penyakit ini terjadi setelah serangan dari gastritis akut.            Pemeriksaan gastroskopis dan biopsi memegang peranan penting.
4.    Gastroskopik
Terdapat 3 gambaran pokok, yaitu :
1)    Terlihat mukosa yang hiperemik yang merata.
2)    Adanya udema dengan karakteristik berair.
3)    Eksudasi.
Kadang-kadang terlihat perdarahan mukosa dan erosi kecil yang sering terlihat. Kadang-kadang sekresinya bersifat purulen
5.    Prognosa
      Biasanya dapat cepat sembuh sempurna setelah mendapat terapi       yang adekuat. Tak ada tanda-tanda susah sembuh. Pada beberapa     keadaan kadang-kadang dapat berubah jadi gastritis atrofik treutama     bila penderita gagal mengobati sendiri.
6.    Terapi
      Hanya pada penderita yang dengan erosi dan perdarahan sedikit,        perlu istirahat dan makanan cair. Yang penting yaitu terus menerus        makan yang lembek.
2.    Gastritis Atrofikans Kronika
      Mukosa terlihat atrofi yang terlihat keabu-abuan atau kuning keabu-          abuan, hipervaskularisasi. Banyak sarjana yang memisahkan gastric atrofi      dari gastritis atrofikans. Magnus menemukan bahan gastrik atrofi dari        anemia pernisiosa ialah sebagai akibat dari proses inflamasi aktif. Sering perubahan transisi dari superficial gastritis ke atrofik gastritis, mungkin       dapat diobservasi.
1.    Patologi
      Terlihat kelenjar mengalami atrofi. Diantaranya kelenjar terlihat             infiltrasi          limfosit. Kadang-kadang terdapat destruksi dimulai dari            dasar kelenjar.          Di atas muskularis mukosa sel-sel infiltrasi terdiri atas          sel-sel kecil dan       fibrolast.
2.    Simtomatologi
      Tak jarang keluhan yang diajukan timbul pada waktu ada serangan.   Keluhan yang diajukan yaitu perasaan seperti tertekan pada       epigastrium, perasaan penuh pada perut, keluar angina dari mulut,     biasanya timbul setelah makan. Perasaan nyeri hebat adalah jarang.        Sering pula menurunkan nafsu makan, nausea, vomitus, gelisah, dan      mudah tersinggung. Lidah yang kering. Penyakit ini sering dijumpai           pada penderita anemia pernisiosa dan penyakit defisiensi lainnya    misalnya pada pellagra, Fe defisiensi.
3.    Fluoroskopi
      Belum ada gambaran yang khas. Beberapa sarjana mengatakan         bila tidak diketemukan fold (lipatan-lipatan dari mukosa lambung)        maka mungkin sekali atrofi dari mukosa.
4.    Gastroskopi
      Memegang peranan penting. Pada gastroskopi akan terlihat      mukosa lambung yang atrofis dengan warna ke abu-abuan atau           kuning ke abu-abuan, dan terlihat beberapa tempat hiperemi.
5.    Diagnosa
      Selain gejala-gejala tersebutt di atas, biasanya penyakit ini dijumpai    pada penderita anemia pernisiosa, juga pada penderita defisiensi         lainnya misalnya pellagra dan Fe defisiensi. Penting juga dipikirkan      atau dideferensiasikan dengan permulaan karsinoma. Untuk ini       pemeriksaan gastroskopi dan biopsy memegang peranan penting.
6.    Prognosa
      Biasanya penyakit tak mengalami perubahan. Betul atau tidaknya       atrofik gastritis merupakan predisposisi untuk karsinoma ventrikuli dan        telah ramai diperdebatkan sejak 1771 (Boerhaave).
7.    Terapi
Perlu diberikan liver ekstrak, vitamin B12, zat Fe dan lain-lain vitamin. Diet yang dianjurkan ialah makanan lembek sedikit-sedikit tapi berulang kali. Setiap setelah makan sebaiknya istirahat.
3.    Gastritis Hipertrofikans Kronika
Mukosa membengkak, ireguler, hiperemis. Kadang-kadang             granuler dan noduler. Suatu penebalan mukosa lambung pada proses inflamasi tanpa disertai destruksi dari kelenjar disebutkan gastritis hipertrofikans.
1.    Etiologi
      Penyakit ini tak diketahui dengan jelas penyababnya. Karakteristik       adanya hipertrofi dari kelenjar-kelenjar lambung, eksudat terutama   mengandung sel plasma dan limfosit. Ruge tampak lebih jals dan          kaku.
2.    P.A.
      Terlihat penebalan dan pembentukan nodul dari mukosa yang             dapat dilihat pada makroskopis. Makroskopis terlihat 3 macam            bentuk :
1)    Pada gastritis interstisiil hipertrofik (hypertrophic interstitial gastritis) terdapat infiltrasi limfosit di antara kelenjar-kelenjar korpus yang memanjang (long body glands), biasanya bersamaan dengan pembesaran folokel limfe yang tak mempunyai batas tegas.
2)    Pada gastritis proliferativ hipertrofik (hypertrophic proliferative gastritis) panjang dan bentuk kelenjar tidak sama, terlihat proliferasi yang hebat pada permukaan epitel, yang tumbuh membentuk nodul besar, ireguler dan juga terdapat penebalan dari mukosa. Permukaan epitel pada umumnya ireguler, adanya beberapa inti yang kasar, di dalam sel kekurangan lender dan banyak dijumpai mitosis. Interstisium dari modul mengandung bberapa macam sel-sel inflamasi.
3)    Pada gastritis glanduler hipertrofikans terdapat pertumbuhan berlainan dari alat-alat kelenjar, sehingga dapat menyebabkan penebalan dari mukosa. Ini juga mungkin diberikan istilah simple hyperplasia (hyper-trophic gastropathy), tapi pada kebanyakan penderita terlihat juga tanda-tanda inflamasi, misalnya edema, infiltrasi sel-sel plasma, dan kiste.
3.    Simtomatologi
      Keluhan utama ialah adanya rasa nyeri di lambung, yang tidak             selalu dapat berkurang atau menghilang setelah minum susu atau            alkali. Rasa nyeri mirip dengan nyeri pada ulkus ventrikuli. Timbul ruktus. Sering merasa nyeri pada malam hari. Nafsu makan       kadang-kadang        baik atau menurun. Jarang vomitus. Dapat timbul perdarahan. Mungkin juga terdapat darah dalam tinja. Pemeriksaan fisik dan laboratorium kurang dapat membantu.
4.    Fluoroskopi
      Terlihat penebalan dari lipatan-lipatan mukosa lambung.
5.    Gastroskopi
      Dapat dilihat gambaran yang khas, yaitu mukosa membengkak            ireguler, kadang-kadang pembengkakan granuler, atau noduler.
6.    Diagnosa
      Bilamana seseorang mengeluh nyeri di perut (seperti keluhan ulkus   ventrikuli), sedang pada pemeriksaan rontgenologik tidak diketemukan   tanda-tanda ulkus, maka kemunkinan besar gastritis hipertrofikans.         Walaupun demikian diagnosa harus ditegakkan dengan pemeriksaan             gastroskopis.
7.    Prognosa
      Biasanya susah sembuh, walaupun demikian perlu observasi. Mungkin        dapat menjadi maligna, tapi lebih jarang jika dibandingkan dengan gastritis atrofikans.
8.    Terapi
Perlu diberikan diit lembek. Dilarang merokok. Rasa nyeri dapat dikurangi dengan pemberian obat antikholinergik dan pemberian alkali.

B.   Penyebab
      Sampai saat sekarang penyebab dari gastritis kronika belum diketahui            dengan pasti. Oleh karena itu factor etiologi yang tertentu mungkin dapat            dijumpai pada semua macam gastritis. Sebagai penyebab di antaranya :
1.    Bakteri
      Gastritis akuta karena infeksi stafilokokkus mungkin pada akhirnya dapat             jadi kronis.
2.    Infeksi fokal
      Sering infeksi pada sinus, gigi dan post nasal drip dapat menyebabkan    gastritis.
3.    Alkohol
      Pada alkoholisme dapat trejadi kelainan pada mukosa. Alkoholisme akuta           dapat menyebabkan gastritis erosive hemoragika yang berat.

  1. Hubungan antara gastritis kronika dengan penyakit lain
      Sering diketemukan gastritis kronika pada penyakit lain dari traktus            digestivus. Walaupun demikian, pada keadaan demikian jarang   diketemukan keluhan-keluhan dari lambung.
1.    Kholesistitis kronika dan Pankreatitis
      Menurut Joske dkk (1955), gastritis kronika dapat diketemukan baik      pada penyakit saluran empedu maupun pada pankreatitis. Selain       dari pada itu Palmer (1954) berpendapat bahwa penyakit pada           traktus biliaris lebih banyak menderita gastritis kronika jika    dibandingkan dengan penyakit pada jalan makanan lainnya.
2.    Virus hepatitis
      Seperti pernah diterangkan, gastritis jarang diketemukan pada virus    hepatitis. Walaupun demikian menurut Palmer (1954), Joske dkk.    (1955) mengatakan bahwa anoreksia dan nausea merupakan keluhan           yang pokok.
3.    Alkoholisme kronik
      Alkoholisme kronik tidak bisa menyebabkan timbulnya gastritis             kronika.          Truelove sering menemukan penderita yang mengalami           kerusakan pada permukaan mukosa lambung yang disebabkan oleh   alkoholisme, tapi kerusakan tersebut akan cepat menyembuh tanpa meninggalkan bekas. Demikian pula pada percobaan binatang yang        diberi minum alkohol banyak tidak menunjukkan adanya penyakit kronis dari mukosa lambung. Yang jelas mungkin alkoholisme         merupakan predisposisi timbulnya gastritis kronika, selain timbulnya       sirhosis hepatic, pankreatitis kronika.
4.    Sirosis hati
      Banyak penderita sirhosis hepatic menunjukkan adanya gastritis         kronika.
5.    Anemia pernisiosa (Addison’s Anaemia)
      Anemia pernisiosa biasanya disertai dengan gastritis atrofikans            atau atrofi dari mukosa lambung. Pada anemia pernisiosa yang sebenarnya, biasanya gangguan yang pertama terjadi di mukosa gaster. Bilamana keadaan gastritis atrofikans berat, maka sekresi dari asam HCl, pepsin akan berkurang, sehingga terjadi akhilia gastrika.
6.    Fe defisiensi anemia (simple hypochromic anemia)
      Davidson an Markson (1955); Badenoch dkk (1957); Coghill dan           Williams (1958), berpendapat bahwa anemia karena defisiensi Fe        biasanya disertai dengan gastritis kronis. Bilamana dijumpai gastritis,          maka biasanya dalam bentuk gastritis atrofikans. Telah diketahui       bersama bahwa defisiensi dari Fe menyebabkan bertambahnya     perubahan dari mukosa yang dapat pula timbulnya aklorhidria.
7.    Kelainan di gaster sendiri
      Pada ulkus ventrikuli biasanya di sekitarnya dijumpai gastritis dan       ini        disebut zonal gastritis. Demikian pula di sekitar karsinoma ventrikuli           terdapat gastritis. Menurut Siurola dan Seppala (1960) menemukan            bahwa makin bertambah jumlah penderita karsinoma yang menderita        gastritis atrofikans bila dibandingkan dengan penderita yang normal.
8.    Gastritis pasca iradiasi
Dosis yang terlalu tinggi dari radiasi dengan sinar X, dapat menyebabkan kerusakan hebat pada dinding lambung. Sebaliknya dosis rendah, seperti yang biasa diberikan pada terapi dari ulkus duodeni dapat menyebabkan timbulnya gastritis superfisialis yang ringan dengan atrofi beberapa kelenjar. Perubahan tersebut terjadi paling lama setelah 2-3 bulan. Setelah itu akan kembali normal pada 3 bulan berikutnya. Menurut Palmer (1954); Joske dkk (1955), menemukan bahwa post radiation gastritis ialah merupakan gastritis ialah merupakan gastritis kronis yang tak memberi keluhan sama sekali.

  1. Endoskopi
      Endoskopi merupakan sarana diagnostic yang banyak membantu             menentukan diagnosis kelainan di lambung. Tytgat GNJ (1991) membuat            kriteria gambaran endoskopi dari lambung serta kriteria inflamasi.
      Mukosa lambung yang normal tampak berwarna merah muda,       dengan permukaan halus, rata, dan licin. Bagian antrum biasanya rata,           atau sedikit melipat pada daerah pre-pilorus, dan didapatkan 1 atau 2       lipatan pada pylorus. Diameter lipatan atau rugae di fundus dan korpus       tidak lebih dari 5 mm. Tidak tampak eksudat fibropurulen di mukosa.
1.    Kriteria inflamasi secara endoskopi
      Diagnosis inflamasi secara endoskopi bila tampak minimal 1 atau        kombinasi beberapa kelainan mukosa berupa perubahan atau         gangguan vaskuler tidak fokal maupun difus. Inflamasi ini dibagi menjadi tingkat ringan, sedang, dan berat. Tanda-tanda inflamasi secara endoskopi, ialah :
a.    Edema
Ditandai dengan mukosa yang pucat, keputih-putihan.          Hanya edema yang berat dapat dibuat diagnosis, sebab      biasanya sulit untuk menentukan edema tingkat ringan atau    sedang.
b.    Eritema (hyperemia)
      Ditandai dengan daerah mukosa yang berwarna lebih merah          dibandingkan dengan sekitarnya. Eritema tingkat ringan berupa    perubahan minimal, tingkat sedang bila perubahan warna lebih            jelas, dan tingkat berat bila warna merah seperti daging. Eritema    dapat dijumpai di antrum, korpus atau di seluruh mukosa lambung,           dan dapat berbentuk garis kemerahan.
c.    Kerapuhan
      Dinyatakan rapuh bila trauma yang ringan saja sudah terjadi           perdarahan.
d.    Eksudat
      Melekat di mukosa berwarna abu kehijauan, kecoklatan atau           kehijauan yang sulit atau tidak dapat dihilangkan dengan            pencucian. Eksudat tingkat ringan berbentuk titik-titik, tingkat          sedang berbentuk patchy, dan tingkat berat berbentuk garis-garis   atau plak.
e.    Erosi bentuk datar
Secara histories berupa nekrosis, tetapi tidak sampai merusak lamina muskularis. Secara endoskopi berupa patchy   kehijauan dengan diameter kurang dari 1 cm, dengan atau tanpa halo merah disekitarnya, dan dasarnya berupa eksudat fibrinopurulen. Bila diameternya lebih dari 1 cm disebut ulkus (tukak). Tingkat ringan bila erosi soliter atau hanya beberapa, tingkat sedang bila multiple, dan tingkat berat bila erosi tidak terhitung.
f.     Erosi yang menonjol
      Yaitu berupa penonjolan mukosa yang menutupi defek di    sentralnya. Paling sering terdapat di korpus, tetapi dapat juga terjadi di antrum. Erosi tingkat ringan bila soliter, tingkat sedang bila         multiple, dan tingkat berat bila sangat banyak erosi yang menonjol       sehingga mirip suatu polip lambung.
g.    Hiperplasia rugae
Yaitu penebalan lipatan-lipatan lambung yang tidak   mendatar setelah dikembangkan. Tingkat ringan bila penebalan      lebih kurang 5 mm, tingkat sedang dengan penebalan 5-10 mm, dan tingkat berat bila penebalannya lebih dari 10 mm.
h.    Atrofi rugae
Yaitu bentuk lipatan-lipatan lambung yang tipis sampai hilang. Atrofi ini sering terdapat di korpus.
i.      Gambaran pembuluh darah
      Dapat terlihat pada mukosa lambung yang tipis. Pembuluh darah tampak rata, berkelok-kelok atau ireguler. Tingkat ringan bila         hanya tampak beberapa pembuluh darah yang rata, tingkat         sedang bila pembuluh darah berkelok-kelok, dan tingkat berat bila       tidak beraturan dan menonjol.
j.      Perdarahan intramural
      Terjadi jika integruitas pembuluh darah terganggu, dapat      berupa ptechiae, ekhimosis, garis atau plak. Ekstravasasi darah ke          intralumen berupa perdarahan intralumen. Tingkat ringan bila         hanya tampak beberapa ptechiae, tingkat sedang bila ptechiae       lebih dari 10 atau berupa ekhimosis, dan tingkat berat bila tampak perdarahan pada dinding lambung.
k.    Nodul
Yaitu penonjolan mukosa dengan permukaan halus pada   tingkat ringan, sampai kasar pada tingkat berat.
2.    Klasifikasi gastritis secara endoskopi
      Setelah criteria inflamasi dapat di deskripsikan, kemudian disusun      klasifikasi gastritis secara endoskopi berdasarkan criteria inflamasi.         Yang paling dominant, yaitu :
a.    Gastritis eritematosa/gastritis eksudativa
      Bentuk ini paling sering dijumpai, berupa patchy erytema,    berupa garis kemerahan. Kadang-kadang bersamaan dengan             gambaran nodul, atrofi atau eksudat dan mukosa rapuh. Bentuk    gastritis ini dapat ringan, sedang, berat, dan paling sering     ditemukan di antrum, walaupun dapat terjadi di antrum dan korpus.
b.    Gastritis erosi yang datar
      Bentuk ini didominasi dengan kelainan erosi yang datar.      Terjadi di antrum, lipatan pilorik atau seluruh lambung dengan atau tanpa eksudat, tingkat ringan, sedang, dan berat.
c.    Gastritis erosi yang menonjol
      Bentuk gastritis ini didominasi penonjolan mukosa berbentuk         nodul sepanjang lipatan dengan erosi di bagian tengahnya. Dasar erosi putih dengan eritema di sekelilingnya. Tingkat beratnya            tergantung dari jumlah erosi yang ada.
d.    Gastritis atrofi
      Pada gastritis atrofi tampak gambaran pembuluh darah di     mukosa lambung dan atrofi lipatan dengan berbagai tingkat.        Tingkat beratnya tergantung pada gambaran pembuluh darah yang          tampak.
e.    Gastritis hemoragika
      Bentuk gastritis ini didominasi dengan ptechiae, ekhimosis,             berwarna merah atau coklat kehitaman dengan berbagai ukuran atau berupa perdarahan intraluminal. Tinkat beratnya bergantung    pada jumlah spot perdarahan.
f.     Gastritis hyperplasia rugae
      Bentuk gastritis ini didominasi dengan penebalan lipatan.    Beratnya kelainan dari tingkat ringan, sedang, atau berat dapat        dilihat terutama di korpus dan fundus. Kadang-kadang ditemukan           erosi datar di puncak lipatan. Penebalan lipatan tersebut dapat        berbentuk polopoid tidak beratutan. Pada gastritis hipersekresi          hyperplasia rugae didapatkan penebalan dan perubahan warna     mukosa, dan adanya eksudat.
g.    Gastritis refluks enterogaster
Gastritis ini merupakan variasi benutk gastritis eritematosa   atau eksudative, yang karakteristik klinis dan patogenesisnya berbeda. Tingkat ringan, sedang, dan berat bergantung kualitas eritema, edema lipatan, serta warna mukosa seperti pada refluks empedu. Pada gastritis refluks pascagastrektomi sering ditemukan             atrofi di bagian proksimal sisa lambung.
h.    Gastroenteropati kongestif
Bentuk ini termasuk gastritis, karena tidak ditemukan tanda-tanda inflamasi. Keadaan ini terdapat pada hipertensi portal (terutama akibat sirosis hati) yang ditandai dengan spot eritema berupa jalinan di puncak lipatan terutama di korpus yang membentuk gambaran linea gastrical.


           


Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu )

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu ) Pengertian : 1.Pernafasan menghitung jumlah pernafasan ( inspirasi yang diikuti ekspresi selaman 1 menit. 2.Nadi menghitung frekuensi denyut nadi ( loncatan aliran darah yang dapt teraba yang terdapat di berbagai titik anggota tubuh melalui perabaan pada nadi, yang lazim diperiksa atau diraba pada radialis. 3.Tekanan darah melakukan pengukuran tekanan darah ( hasil dari curah jantung dan tekanan darah perifer )mdengan menggunakan spygnomanometer dan sttoskop. 4.Suhu mengukur suhu tubuh dengan mengguanakan termometer yang di pasangkan di mulut, aksila dan rektal. Tujuan : 1.Pernafasan a)Mengetahui kesdaan umum pasien b)Mengetahui jumlah dan sifat pernafasan dalam rentan 1 menit c)Mengikuti perkembangan penyakit d)Membantu menegakkan diagnosis
2.Nadi a)Mengetahui denyut nadi selama rentan waktu 1 menit b)Mengetahui keadaan umum pasien c)Mengetahui intgritassistem kardiovaskulr<

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam Pengertian : Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulasi nyeri Ada tiga hal yang utama dalam teknik relaksasi : 1.Posisikan pasien dengan tepat 2.Pikiran beristirahat 3.Lingkungan yang tenang Tujuan : Untuk menggurangi atau menghilangkan rasa nyeri Indikasi : Dilakukan untuk pasien yang mengalami nyeri kronis
Prosedur pelaksanaan : A.Tahap prainteraksi 1.Menbaca status pasien 2.Mencuci tangan 3.Meyiapkan alat
B.Tahap orientasi 1.Memberikan salam teraupetik 2.Validasi kondisi pasien 3.Menjaga perivacy pasien 4.Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga