Kamis, 12 Mei 2011

OSTEOMIELITIS



OSTEOMIELITIS
A.   Pengertian
Osteomielitis adalah infeksi tulang, menpunyai karakter sulit untuk disembuhkan dari pada infeksi jaringan lunak, karean terbatasnya asupan darah, tingginya respons jaringan terhadap inflamansi dan tinginya tekanan jaringan. Infeksi disebabkan oleh penyebaran hematogen ( melalui darah ) dari fokus infeksi di tempat lain ( ex’s : tonsil yang terinfeksi, gigi terinfeksi, infeksi saluran nafas ). Infeksi dapat berhubungan dengan penyebaran infeksi jaringan lunak ( ex’s : ulkus dekubitus yang terinfeksi atau lkus vaskuler ) atau kontaminasi langsung tulang ( ex’s : fraktur terbuka, cedra traumatik, seperti lukatembak, pembedahan tulang ).
Pasien yang beresiko tinggi mengalami osteomielitis adalah :
1.    Nutrisi buruk
2.    Lansia (faktor degeneratif )
3.    Kegemukan ( obesitas )
4.    Penderita diabetes melitus
5.    Pasien yang menderita arteritis rheumatoid
6.    Menjalani perawatan lama di rumah sakit
7.    Mendapat terapi kortikoesteroid jangka panjang
8.    Menjalani pembedahan sendi
9.    Pasien yang menjalani pembedahan ortopedi lama
10. Mengalami infeksi luka dengan mengeluarkan pus

B.   Etiologi
Mikroorganisme yang dapat menyebabkan osteomielitis :
1.    Staphylococus aureus 70 – 80 %
2.    Proteus
3.    Peseudomonas
4.    Escherisia colli
Untuk memastikan mikroorganisme maka dilakukan kultur pus atau kultur jaringan. Waktu terjadinya gejali awal osteomielitis :
1.    Setelah pembedahaan ortopedi terjadi 3 bulan pertama
2.    Antara 4 bulan sampai 2 tahun setelah pembedahan
3.    Penyebaran hematogen lebih dari 2 tahun setelah pembedahan

C.   Patofisiologi
Staphylococus aureus merupakan penyebaran terbesar ( 70 – 80 % kasus infeksi tulang ). Organisme patogen lainya yang sering ditemukan pada osteomielitis adalah proteus, pseudomonas dan escherisia colli. Respon inisial terhadap infeksi adalah terjadinya inflamasi, peningkatan vaskulerisasi, dan edema. Setelah 2 atau 3 hari, terjadi trombosis pembuluh darah pada area tersebut, menyebabkan iskemia dan nekrosis tulang sehubungan dengan peningkatan tekanan jaringan. Infeksi kemudian berkembang ke kavitas medularis dan kebawah periosteum seta dapat menyebar ke jaringan yang lunak atau sendi disekitarnya. Pada proses alamiahnya, kadang abses dapat keluar sepontan, tapi yang lebih sering harus dilakukan insisi dan dreynase. Abses yang terjadi membentuk daerah jaringan mati ( squestrum ) yang tidak mudah mencari jalan untuk mengalir keluar. Rongga tidak dapt mengempis, seperti yang terjadi pada jaringan lunak. Hal ini dapat terjadi karena adanya pertumbuhan tulang dan mengelilingi squestrum. Sehingga meskipun tampak terjadi proses penyembuhan, squesrum infeksius kronik yang ada tetep rentan mengeluarkan abses kambuhan sepanjang hidup pasien, keadaan ini di sebut oesteomielitis tipe kronik.

D.   Klasifikasi
Oesteomielitis dapat di klafikasikan menjadi 2 macam yaitu :
1.    Oesteomielitis primer
Penyebaran secara hematogen di mana mikroorganisme berasal dari fokus di tempat lain dan beredar melalui sirkulasi darah.
2.    Oesteomielitis sekunder
Terjadi akibat penyebaran kuman dari infeksi jaringan sekitarnya, luka fraktur dan sebagainya

E.   Tanda dan gejala
Gambaran klinis Oesteomielitis tergantung dari stadium patogenesis dari penyakit, dapat berkembang secara progresif atau cepat. Pada keadaan ini mungkin di temukan adanya infeksi bakterial pada kulit dan saluran pernafasan pada bgan atas. Gejala lain dapat berupa nyeri yang konstsnt pada daerah infeksi dan terdapat gangguan fungsi anggota gerak yang bersangkutan.

F.    Manifestasi klinis
1.    Oesteomielitis primer
Biasanya awal kejadian berlangsung mendadak, seiring terjadi gambaran manifestasi klinis septikema ( ex’s : menggigil, demam tinggi, takikardia dan malaise umum ) setelah infeksi menyebar dari rongga sumsum korteks tulang dn jaringan lunak, maka bagian yang terinfeksi menjadi nyeri, bengkak dan sangat nyeri apabila di tekan. Pasien menggambarkan nyeri konstan berdenyut yang semakin memberat bila melakukan gerak, hal ini berhubungan dengan tekanan pus yang terkumpul.
2.    Oesteomielitis skunder
Bila Oesteomielitis terjadi akibat penyebaran dari infeksi di sekitarnya atau kontaminasi langsung, tidak akan ada gejala septikemia. Daerah terinfeksi membengkak, hangat, nyeri dan apa bila di tekan terasa sakit.

G.   Pemeriksaan diagnostik
1.    Radiologi
Pada Oesteomielitis akut pemeriksaan sinar X hanya menunjukan pembengkakan jaringan lunak. Sekitar 2 minggu berikitnya terjadi adanya daerah dekalsifikasi ireguler, nekrosis tulang dan pembentukan tulang baru. Pemindaian ( scanning ) tulang dan IRM ( magnetic resoana imaging ) dapat membantu diagnosis definitif awal.
2.    Tes laboratorium darah
Pemeriksaan darah memperhatikan leokosit dan peningkatan laju endap darah. Kultur darah dan kultur abses di perlukan untuk menentukan jenia antibiotiknya yang sesuai dengan gejala. Kadang terjadi anemia terkait dengan infeksi kronik. Pemeriksaan feses untuk kultur dilakukan apabila terdapat kecurigaan infeksi oleh bakteri salmonella dan escherisia colli.
3.    Pemeriksaan lain
a)    Biopsi tulang
b)    Pemeriksaan ultra sound

H.   Prinsip penatalaksanaan
1.    Daerah yang terkena harus diimobilisasi untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mencegah terjadinya fraktur. Dapat dilakukan rendaman menggunakan cairan NaCl 0,9 % hanya selama 20 menit beberapakali per hari untuk meningkatkan dan melancarkan aliran darah.
2.    Sasaran awal terapi adalah mengontrol dan menghentikan infeksi. Kultur darah kultur abses dilakukan untuk mengidentifikasi mikroorganisme dan memilih obat antibiotiknya yang sesuai dengan gejala. Kadang infeksi di sebabkan oleh lebih dari satu bakteri patogen lalu memerlukan lebih dari satu jenis antibiotik.
3.    Setelah hasil spesimen kultur di peroleh, dimulai terapi anti biotik intravena, tujuanya adalah mengontrol infeksi sebelum aliran darah ke daerah tersebut menurun akibat terjadinya trombisis. Bila infeksi telah terkontrol antibiotik dapat diberikan per oral dan dilanjutkan sampai 3 bulan. Untuk meningkatkan absorpsi antibiotik oral, jangan diminum bersamaan makanan.
4.    Bila pasien tidak menujukan respon terhadap terapi antibiotik, tulang yang terkena harus dilakukan pembedahan, jaringan purulen dan nekrotik di angakat dan area tersebut diiringi secara langsung dengan larutan salinan fisiologis steril. Terapi antibiotik tetep dikalukan.
5.    Luka di tutup rapat untuk menutup rongga mati ( dead space ) atau di pasang tampon agar dapat di isi oleh jaringan granulasi atau di lakukan grafting di kemudian hari. Daoat di pasang drainase berpenghisap untuk mengontrol hematom dn membuang debris. Dapat di berikan irigasi larutan saline normal selama 7 sampai 8 hari.

I.      Asuhan keperawatan
1.    Pengkajian
a)    Riwayat keperawatan
1)    Identifikasi gejala akut :nyeri akut, pembengkakan, demam, keluarnay pus di sertai nyeri, pembengkakan atau odem.
2)    Kaji faktor resiko : lansia, DM, terapi kortrikosteroid jangka panjang, infeksi dan riwayat bedah ortopedi sebelumnya. Hal-hal yang di kaji meliputi umur, pernah tidak trauma, luka terbuka, tindakan operasi khusus operasi tulang dan terapi radiasi.

b)    Pemeriksaan fisik
1)    Area sekitar tulang yang terinfeksi menjadi bengkak dan terasa lembek bila dipalpasi
2)    Terdapat eritema atau kemerahan dan panas
3)    Efek sistemik menunjukan adanya demam biasanya di atas 38°C
4)    Takikardi
5)    Bengkak dan nyeri
6)    Eritema

c)    Riwayat pesikososial
1)    Pasien sering kali merasakan ketakutan, khawatir infeksinya tidak dapat sembuh, takut di amputasi
2)    Biasanya pasien dirawat lama di rumah sakit sehingga perawat perlu mengkaji perubahan-perubahan kehidupan khususnya hubunganya dengan keluarga pekerjaan asmara ataupun sekolah.

2.    Diagnosa keperawatan

Nyeri berhubungan dengan inflamasi dan pembengkakan.

Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri, imobilisasi dan keterbatasan menahan beban.

Resiko terhadap perluasan infeksi berhubungan dengan pembentukan abses tulang.

Kurang pengetahuan tentang program pengobatan.

3.    Perencanaan
Sasaran pasien meliputi peredaan nyeri, perbaikan mobilitas fisik dalam batas-batas teraupetik, kontrol infeksi dan pemahaman mengenai perogram pengobatan.

1)    Peredaan nyeri
Bagian yang terkena harus diimobilisasi dengan bidai untuk mengurangi nyeri dan spasme oto. Sendi di atas dan di bawah bagian yang terkena harus di perhatiakan sehingga masi dapat digerakkan sesuai rentangnya. Peninggian bagian yang terkena dapat mengurangi pembengkakan dan ketidaknyamanan yang di timbulkan status neurovaskuler ekstermitas yang terkena harus terpantau.

2)    Perbaikan mobilitas fisik
Program pengobatan akan membatasi aktifitas, tulang menjadi lemah akibat proses infeksi dan harus di lindungi dengan alat imobilitas dam menghindari stres pada tulang. Pasien hrus memahami rasional pembatasan aktivitas. Tetepi partisipasi aktif dalam batas kemampuan tetep dianjurkan untuk mempertahankan kemampuan mobilisai.

3)    Mengontrol proses infeksi
Perawat harus membantu respon pasien terhadap terapi anti biotik dan melakukan observasi tepat pemasangan infus untuk melihat kemungkinan flebitis atau infilterasi. Bila diperlukan pembedahaan, harus dilakukan upaya untuk menyakinkan adanya peredaran darah yang memadai ( penghisap luka untuk mencegah penumpukan cairan, peninggian daerah untuk memperbaiki aliran balik vena, menhindari tekanan pada daerah yang tertekan. Keadaan umum dan nutrisi pasien harus di pantau. Diet protein seimbang, vitamin C dan vitanin D di perlukan untuk mempertahankan keseimbangan nitrogen dan merangsang penyembuhaan.

4)    Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah
1.    Penanganan osteomielitis, termasuk perawatan luka dan terapi antibiotik oral, dapat dilakukan di rumah.
2.    Pasien harus dalam keadaan stabil secara medis dan telah termotivasi serta adanya dukungan keluarga
3.    Lingkungan rumah harus bersifat kondusif terhadap promosi kesehatan dan sesuai dengan program pengibatan teraupetik.
4.    Penggantian balutan secara steril dan teknik kompres hangat harus di ajarkan.

4.    Implementasi
Sesuai dengan apa hasil dari tindakan kita yang sesuai dengan kasus dan perogram yang berjalan.

5.    Evaluasi
1.    Hasil yang di harapkan :
a.    Mengalami peredaan nyeri
1.    Nyeri berkurang
2.    Tidak mengalami nyeri tekan di tempat terjadinya infeksi
3.    Tidak mengalami ketidaknyamanan bila bergerak

b.    Peningkatan mobilitas fisik
1.    Berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri
2.    Mempertahankan fungsi penuh ekstermitas yang sehat
3.    Memperlihstksn penggunaan alat imobilisasi dan alat bantu dengan aman

c.    Tidak adanya infeksi
1.    Suhu badan dalam batas normal
2.    Tidak ada pembengkakan
3.    Tidak ada pus
4.    Angka leokosit dan laju endap darah dalam rentan normal
5.    Biarkan darah negatif

d.    Mematuhi rencana teraupetik
1.    Memakai antibiotiak sesuai resep
2.    Memperlihatkan perawatan luka yang benar
3.    Melaporkan dengan segera bila ada masalah
4.    Makan diet seimbang dengan tinggi protein dan vitamin C dan D
5.    Adanya peningkatan kekuatan
6.    Tidak melaporkan peningkatan suhu tubuh atau kekambuhanya nyeri, pembengkakan, atau gejala lain di tempat tersebut.

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.