Sabtu, 19 November 2011

ALL

A. Pengertian
Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasi patologis sel hemopetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi kejaraingan tubuh lain. (Arif Manjoer, 495: 2000)
Leukemia adalah prouferasi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal. (Ika, 469: 2000)
Leukemia adalah prouferasi sel darah putih yang masih imatur dalam jaringan pembentuk darah. (Rita, 160: 2001)

B. Etiologi
Penyebab yang pasti belum diketahui, akan tetapi terdapat faktor presdiposisi yang menyebabkan terjadinya leukemia, yaitu :
- Faktor genetic, virus tertentu menyebabkan terjadinya perubahan struktur gen ( T cell leukemia lymphoma virus/HTLV )
- Radiasi
- Obat - obat imunosupresif, obat – obat karsinogenik
- Faktor herediter, misalnya pada kembar monozigot
- Kelainan kromosom, misalnya pada down sindrom
Faktor yang lain, seperti :
a. Faktor eksogen
- Sinar x
- Sinar Radio aktif
- Hormon
- Bahan kimia (benzol, arsen, preparat sulfat)


b. Faktor endogen
- Ras
- Kelainan kromosom
- Herediter

C. Manifestasi Klinis
a. Pilek tidak sembuh-sembuh
b. Pucat, lesu, mudah terstimulasi
c. Demam
d. Anoreksia
e. Berat badan menurun
f. Ptechiae, memar tanpa sebab
g. Nyeri pada tulang dan persendian
h. Nyeri abdomen
i. Lymphedenophaty
j. Abnormal white blood sel (WBC)

D. Patofisiologi
Leukemia merupakan proliferasi yang tidak terbatas dari sel darah putih yang immatur pada jaringan pembentuk darah. Walaupun bukan berwujud sebagai tumor sebagaimana biasanya, sel leukemia menunjukkan property suatu neoplasma dari kanker yang solid. Manifestasi klinik yang timbul merupakan akibat dari infiltrasi atau penggantian dari jaringan-jaringan tubuh oleh sel leukemia yang non-fungsional. Organ vaskuler atas seperti limpa dan hati merupakan organ yang sering diserang oleh sel ini.
Ada dua miskonsepsi yang harus diluruskan mengenai leukemia ini yaitu 1)Walaupun leukemia merupakan overproduksi dari sel darah putih, tetapi sering ditemukan pada leukemia akut bahwa jumlah leukosit rendah. Ini diakibatkan karena produksi yang dihasilkan adalah sel yang immatur. 2)Sel immatur tersebut tidak menyerang dan menghancurkan sel darah normal atau jaringan vaskuler. Destruksi celluler diakibatkan proses infiltrasi dan sebagai bagian dari konsekwensi kompetisi untuk mendapatkan element makanan metabolik.

E. Klasifikasi
a) Menurut perjalanan penyakitnya dapat dibagi atas :
- Leukemia akut
- Leukemia kronik

b) Menurut jenisnya leukemia dibagi atas :
- Leukemia myeloid
- Leukemia gianulositik kronik
- Leukemia mieloid/mielositik/mielogenous kronik
- Leukemia mieloblastik akut ( leukemia myeloid / mielositik / granulositik mielogenous akut )
- Leukemia Limpoid
- Leukemia Limfositik kronik
Leukemia Limfositik Kronik merupakan 25 % dari seluruh leukemia di negara barat amat jarang di temukan di Asia. Lebih sering di temukan pada umur kurang dari 49 tahun. UK dapat dibagi menjadi empat tingkatan penyakit secara kinis yang ternyata mempunyai hubungan dengan prognosis.
- Leukemia Limfoblastik Akut
Insiden LLA berkisar 2-3/100.000 penduduk. Lebih sering di temukan pada anak-anak (82%) dari pada usia dewasa (18%) dan lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding perempuan.
Pada pemeriksaan darah tepi ditemukan sel muda Limpoblast dan biasanya ada leukositosis (60%) kadang-kadang leukopenia (25%). Jumlah leukosit neutrofil sering kali rendah demikian pula dengan kadar Hb dan trombo, hasil pemeriksaan
tulang biasanya menunjukan sel blas yang dominan

F. Komplikasi
- Gagal sumsum tulang
- Infeksi
- Hepatomegali
- Splenomegali
- Limpadenopati

F. Pemeriksaan Diagnostik
a) Pemeriksaan darah tepi menunjukan limfositosis 50.000/mm3 pada sumsum tulang didapatkan adanya infiltrasi meinta oleh limposit kecil yaitu lebih dari 40 % dari total yang berinti, kurang lebih 95 % pasien LLK disebabkan peningkatan Limfosit B (BLLK)
b) Aspirasi sumsum tulang (BMN) : hiperseluler terutama banyak terdapat sel muda
c) Biopsi sumsum tulang
d) Lumbang punksi untuk mengetahui apaka sistem syaraf pusat terinfilterasi

G. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Medis
a. Transfusi darah, jika kadar hb kurang dari 6 9% pada trombositopenia yang berat dan perdarahan massif dapat diberikan trombosit dan bila terdapat tanda-tanda dic dapat di berikan heparin
b. Pelaksanaan Kemoterapi
Terdapat 3 fase pelaksanaan kemoterapi :
- Fase Induksi
Dimulai 4-6 minggu setelah diagnosa di tegakan pada fase ini diberikan terapi kortikosteroid (prednison) vinaistim ,dan L-asparagiginasi. Fase induksi dinyatakan berhasil jika tanda-tanda penyakit berkurang atau tidak ada dan dalam sum-sum tulang ditemukan jumlah sel muda berkurang dari 5%.
- Fase Profilaksis Sistem Saraf Pusat
Pada fasse ini diberikan terapi methotrexate, cy tarabine, dan hydrocortisone melalui intra thecal untuk mencegah invasi sel leukemia ke otak. Terapi iridiasi cranial hanya dilakukan pada pasien leukemia yang mengalami gangguan Sistem Saraf Pusat.
- Konsolidasi
Pada fase ini kombinasi pengobatan dilakukan untuk mempertahankan remisi dan mengurangi jumlah sel-sel leukemia yang beredar dalam tubuh, secara berkala, mingguan atau bulanan dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Untuk memulai respon sumsum tulang terhadap pengobatan. Jika terjadi supresi sumsum tulang maka pengobatan dihentikan. Sementara atau dosis obat dikurangi.

2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Pendekatan psikososial harus diutamakan
b. Ruangan aseptik dan bekerja secara aseptik



H. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Anamnesa
- Data biografi : nama, umur, jenis kelamin, dll.
- Riwayat Keperawatan : riwayat kesehatan masa lalu dan saat ini.
- Pola kebiasaan saat ini dan sebelumnya.
b. Pemeriksaan Fisik
- Aktifitas
- Eliminasi
- Integritas Ego
- Nutrisi
- Neuro sensori
- Nyeri
- Pernapasan

2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko tinggi terhadap infeksi b.d Tak Adekuat Pertahanan Sekunder ditadai dengan gangguan pematangan SDP, peningkatan jumlah leukosit imatur, imosupresi, penekanan sumsum tulang, Tak adekuat pertahanan primer, menurunnya sistem pertahanan tubuh, prosedur invasif, mal nutrisi :penyakit kronis.
b. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d Kehilangan berlebihan : mual muntah, perdarahan, diare, penurunan pemasukan cairan, status hipermetabolik, demam.
c. Nyeri (Akut) b.d agen fisikal misal, pembesaran organ / nodus limpe, sumsum tulang yang dikemas dengan sel leukemia, agen kimia.
d. Intoleransi aktivitas b.d Kelemahan umum, penerima cadangan energi, peningkatan laju metabolik dan produksi leukosit massif, ketidak seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, pembatasan terapeutik (isolasi / tirah baring efek terapi obat).
e. Kurang pengetahuan (kebutuhan kelenjar) tentang penyakit, progrosis, dan kebutuhan pengobatan b.d kurang ter rajan dari sumber salah interprestasi informasi / kurang mengingat.

3. Perencanaan Keperawatan
a. Mencegah resiko Infeksi
- Tempatkan anak dalam ruangan khusus untuk meminimalkan terpaparnya anak dari sumber infeksi.
- Anjurkan pengunjung atau staf melakukan teknik mencuci tangan yang baik.
- Gunakan teknik aseptik untuk seluruh prosedur invasif
- Monitor tanda vital anak
- Evaluasi keadaan anak terhadap tempat-tempat munalnya infeksi seperti tempat penusukan jarum, ulserasi mukosa, masalah gigi.
- Monitor penurunan jumlah leukosit yang menunjukkan anak memiliki resiko yang besar untuk terkena infeksi.

b. Mencegah Resiko Kurangnya Volume Cairan
- Berikan antiemitik awal sebelum dilakukan kemoterapi.
- Berikan antiemelik secara beraturan pada waktu program kemoterapi.
- Kaji respon anak terhadap anti emetik.
- Hindari memberikan makanan yang memiliki aroma yang merangsang mual, muntah.
- Anjurkan makan dengan porsi kecil tapi sering.
- Kolaborasi pemberian cairan infus.

c. Mencegah atau mengurangi nyeri
- Kaji tingkat nyeri dengan skala nyeri
- Kaji adanya kebutuhan klien untuk mengurangi rasa nyeri
- Evaluasi efektifitas terapi pengurangan rasa nyeri dengan melihat derajat kesadaran dan redasi.
- Berikan teknik mengurangi rasa nyeri non farmakologis.
- Berikan pengobatan anti nyeri secara teratur untuk mencegah timbulnya nyeri yang berulang.

d. Mencegah intoleransi aktivitas
- Evaluasi laporan kelemahan, perhatikan ketidakmampuan berpartisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
- Berikan lingkungan yang kurang tenang dalam periode istirahat tanpa gangguan.
- Ajarkan teknik menghemat energi
- Berikan kebersihan mulut sebelum makan
- Berikan informasi tentang penyakitnya
- Kaji ulang pasien / orang tua tentang pemahaman dx khusus alternatif pengobatan.
- Beritahu kebutuhan perawatan khusus dirumah
- Lakukan evaluasi sebelum pulang ke rumah sesuai indikasi

4. Evaluasi Keperawatan
a. Tidak terjadi infeksi
b. Kebutuhan volume cairan terpenuhi
c. Nyeri berkurang / hilang.
d. Klien toleransi terhadap aktivitasi sehari-hari.
e. Pengetahuan klien dalam keluarga bertambah.

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.