Selasa, 15 November 2011

Askep Struma

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny “M”
DENGAN STROMA GRADE 1 DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUP Dr. SARJITO
Disusun untuk Memenuhi Tugas Individu Mata Ajaran Keperawatan Medikal Bedah III


Disusun Oleh:
Ambar Kurniasari P07120108002
II REGULER







KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA
POLITEKNIK KESEHATAN YOGYAKARTA
JURUSAN KEPERAWATAN
2010

LEMBAR PENGESAHAN

Asuhan keperawatan pada Ny “M” dengan Stoma di Poli Dalam RSUP Dr Sarjito yang disusun untuk memenuhi tugas individu praktik laboratorium klinik keperawatan medikal bedah III disahkan pada:
Hari :
Tanggal :











Yogyakarta, Mei 2010

Pembimbing Lapangan




Sulaminah, AMK Pembimbing Pendidikan




Rosa Delima Ekwantini SPd, M.Kes





BAB I
DASAR TEORI


A. Pengertian
Struma adalah pembesaran kelenjar gondok yang disebabkan oleh penambahan jaringan kelenjar gondok yang menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah banyak sehingga menimbulkan keluhan seperti berdebar - debar, keringat, gemetaran, bicara jadi gagap, mencret, berat badan menurun, mata membesar, penyakit ini dinamakan hipertiroid (graves’ disease).
Struma nodosa non toksik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang secara klinik teraba nodul satu atau lebih tanpa disertai tanda-tanda hypertiroidisme.
Struma Diffusa toxica adalah salah satu jenis struma yang disebabkan oleh sekresi hormon-hormon thyroid yang terlalu banyak. Histologik keadaan ini adalah sebagai suatu hipertrofi dan hyperplasi dari parenkhym kelenjar.
Struma endemik adalah pembesaran kelenjar tyroid yang disebabkan oleh asupan mineral yodium yang kurang dalam waktu yang lama.

B. Etiologi
Hyperthyroid disebabkan oleh hypersekresi dari hormon-hormon thyroid tetapi yang mempengaruhi adalah faktor : umur, temperatur, iklim yang berubah, kehamilan, infeksi, kekurangan yodium dan lain-lain.


C. Manifestasi Klinis
Jika struma cukup besar, akan menekan area trakea yang dapat mengakibatkan gangguan pada respirasi dan juga esofhagus tertekan sehingga terjadi gangguan menelan. Peningkatan simaptis seperti ; jantung menjadi berdebar-debar, gelisah, berkeringat, tidak tahan cuaca dingin, diare, gemetar, dan kelelahan.

D. Anatomi
Kelenjar thyroid terletak di depan trakhea dan di bawah laryng yang terdiri atas dua lobus yang terletak disebelah dan kiri trakhea dan diikat bersama oleh secarik jaringan disebut istmus yang melintasi pada cincin tulang trakhea dua dan tiga.
Struktur thyroid terdiri atas sejumlah besar folikel dilapisi oleh cuboid epitelium membentuk ruang yang disebut koloid yaitu lumen substansi protein.
Regulasi sekresi hormon tyroid dipengaruhi oleh sistim kerja balik antara kelenjar hipofisis atau pituitari lobus anterior dan kelenjar thyroid. Lobus anterior hipofisis mensekresi TSH yang berfungsi meningkatkan iodine, meningkatkan sintesis dan sekresi hormon thyroid, meningkatkan ukuran kelenjar thyroid.
Apabila terjadi penurunan hormon thyroid, hipofisis anterior merangsang peningkatan sekresi TSH dan mempengaruhi kelenjar thyroid untuk meningkatkan sekresi hormon thyroid.
Thyroxine (T4) berfungsi untuk mempertahankan metabolisme tubuh.
Tridothyronin (T3), berfungsi untuk mempercepat metabolisme tubuh.
Fungsi utama kelenjar thyroid adalah memproduksi hormon tiroxin yang berguna untuk mengontrol metabolisme sel. Dalam produksinya sangat erat hubungannya dengan proses sintesa tyroglobulin sebagai matrik hormon, yodium dari luar, thyroid stimuliting hormon dari hipofise.

E. Patofisiologi
Iodium merupakan semua bahan utama yang dibutuhkan tubuh untuk pembentukan hormon tyroid. Bahan yang mengandung iodium diserap usus, masuk ke dalam sirkulasi darah dan ditangkap paling banyak oleh kelenjar tyroid. Dalam kelenjar, iodium dioksida menjadi bentuk yang aktif yang distimuler oleh Tiroid Stimulating Hormon kemudian disatukan menjadi molekul tiroksin yang terjadi pada fase sel koloid. Senyawa yang terbentuk dalam molekul diyodotironin membentuk tiroksin (T4) dan molekul yoditironin (T3). Tiroksin (T4) menunjukkan pengaturan umpan balik negatif dari sekresi Tiroid Stimulating Hormon dan bekerja langsung pada tirotropihypofisis, sedang tyrodotironin (T3) merupakan hormon metabolik tidak aktif. Beberapa obat dan keadaan dapat mempengaruhi sintesis, pelepasan dan metabolisme tyroid sekaligus menghambat sintesis tiroksin (T4) dan melalui rangsangan umpan balik negatif meningkatkan pelepasan TSH oleh kelenjar hypofisis. Keadaan ini menyebabkan pembesaran kelenjar tyroid.
Path Way
↑ protein dan mukopoli sakarida ← Mixedema ← sintesa T3 dan T4 ↓
mengikat air

F. Penatalaksanaan
Terapi struma antara lain dengan penekanan TSH oleh tiroksin, yaitu pengobatan yang akan mengakibatkan penekanan TSH hipofisis, dan penghambatan fungsi tiroid disertai atrofi kelenjar tiroid. Pembedahan dapat dianjurkan untuk struma yang besar untuk menghilangkan gangguan mekanis dan kosmetis yang diakibatkannya. Pada masyarakat tempat struma timbul sebagai akibat kekurangan yodium, garam dapur harus diberi tambahan yodium.


G. Pengkajian
1. Pengumpulan data
Anamnese
Dari anamnese diperoleh:
a. Identifikasi klien.
b. Keluhan utama klien.
Pada klien post operasi thyroidectomy keluhan yang dirasakan pada umumnya adalah nyeri akibat luka operasi.
c. Riwayat penyakit sekarang
Biasanya didahului oleh adanya pembesaran nodul pada leher yang semakin membesar sehingga mengakibatkan terganggunya pernafasan karena penekanan trakhea eusofagus sehingga perlu dilakukan operasi.
d. Riwayat penyakit dahulu
Perlu ditanyakan riwayat penyakit dahulu yang berhubungan dengan penyakit gondok, misalnya pernah menderita gondok lebih dari satu kali, tetangga atau penduduk sekitar berpenyakit gondok.
e. Riwayat kesehatan keluarga
Dimaksudkan barangkali ada anggota keluarga yang menderita sama dengan klien saat ini.
f. Riwayat psikososial
Akibat dari bekas luka operasi akan meninggalkan bekas atau sikatrik sehingga ada kemungkinan klien merasa malu dengan orang lain.
2. Pemeriksaan fisik
a. Keadaan umum
Pada umumnya keadaan penderita lemah dan kesadarannya composmentis dengan tanda-tanda vital yang meliputi tensi, nadi, pernafasan dan suhu yang berubah.


b. Kepala dan leher
Pada klien dengan post operasi thyroidectomy biasanya didapatkan adanya luka operasi yang sudah ditutup dengan kasa steril yang direkatkan dengan hypafik serta terpasang drain. Drain perlu diobservasi dalam dua sampai tiga hari.
c. Sistim pernafasan
Biasanya pernafasan lebih sesak akibat dari penumpukan sekret efek dari anestesi, atau karena adanya darah dalam jalan nafas.
d. Sistim Neurologi
Pada pemeriksaan reflek hasilnya positif tetapi dari nyeri akan didapatkan ekspresi wajah yang tegang dan gelisah karena menahan sakit.
e. Sistim gastrointestinal
Komplikasi yang paling sering adalah mual akibat peningkatan asam lambung akibat anestesi umum, dan pada akhirnya akan hilang sejalan dengan efek anestesi yang hilang.
f. Aktivitas/istirahat
Insomnia, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan berat, atrofi otot.
g. Eliminasi
Urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam faeces, diare.
h. Integritas ego
Mengalami stres yang berat baik emosional maupun fisik, emosi labil, depresi.
i. Makanan/cairan
Kehilangan berat badan yang mendadak, nafsu makan meningkat, makan banyak, makannya sering, kehausan, mual dan muntah, pembesaran tyroid.
j. Rasa nyeri/kenyamanan
Nyeri orbital, fotofobia.

k. Keamanan
Tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap iodium (mungkin digunakan pada pemeriksaan), suhu meningkat di atas 37,40C, diaforesis, kulit halus, hangat dan kemerahan, rambut tipis, mengkilat dan lurus, eksoptamus : retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering terjadi pada pretibial) yang menjadi sangat parah.
l. Seksualitas
Libido menurun, perdarahan sedikit atau tidak sama sekali, impotensi.
3. Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan penunjang
1) Human thyrologlobulin (untuk keganasan thyroid)
2) Kadar T3, T4
Nilai normal T3=0,6-2,0 , T4= 4,6-11
1) Darah rutin
2) Endo Crinologiie minimal tiga hari berturut turut (BMR) nilai normal antara –10s/d +15
3) Kadar calsitoxin (hanya pada pebnderita tg dicurigai carsinoma meduler).
b. Pemeriksaan radiologis
1) Dilakukan foto thorak posterior anterior
2) Foto polos leher antero posterior dan lateral dengan metode soft tissu technig .
3) Esofagogram bila dicurigai adanya infiltrasi ke osofagus.

H. Diagnosa Keperawatan
Adapun diagnosa yang sering muncul adalah :
1. Gangguan jalan nafas yang berhubungan dengan obstruksi trakhea secunder terhadap perdarahan, spasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan cuping hidung sampai dengan sianosis.
2. Gangguan komunikasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot, terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.
4. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.
5. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.

I. Perencanaan
Rencana tindakan yang dilakukan meliputi :
1. Gangguan jalan nafas yang berhubungan dengan obstruksi trakhea secunder terhadap perdarahan, spasme laring yang ditandai dengan sesak nafas, pernafasan cuping hidung sampai dengan sianosis.
Tujuan:
Jalan nafas klien efektif
Kriteria:
a. Tidak ada sumbatan pada trakhea
Rencana tindakan:
Intervensi Rasional
Monitor pernafasan dan kedalaman dan kecepatan nafas Mengetahui perkembangan dari gangguan pernafasan.

Dengarkan suara nafas, barangkali ada ronchi.
Ronchi bisa sebagai indikasi adanya sumbatan jalan nafas.

Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.

Indikasi adanya sumbatan pada trakhea atau laring.

Atur posisi semifowler

Memberikan suasana yang lebih nyaman

Bantu klien dengan teknik nafas dan batuk efektif.
Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilasi

Melakukan suction pada trakhea dan mulut.
Sekresi yang menumpuk mengurangi lancarnya jalan nafas.

Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.
Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.


2. Gangguan komunikasi verbal sehubungan dengan nyeri, kerusakan nervus laringeal yang ditandai dengan klien sulit berbicara dan hilang suara.
Tujuan :
Klien dapat komunikasi secara verbal
Kriteria hasil:
a. Klien dapat mengungkapkan keluhan dengan kata-kata.





Rencana tindakan:
Intervensi Rasional
Kaji pembicaraan klien secara periodik
Suara parau dan sakit pada tenggorokan merupakan faktor kedua dari odema jaringan / sebagai efek pembedahan.

Lakukan komunikasi dengan singkat dengan jawaban ya/tidak.


Kunjungi klien sesering mungkin
Mengurangi respon bicara yang terlalu banyak.


Mengurangi kecemasan klien
Ciptakan lingkungan yang tenang.
Klien dapat mendengar dengan jelas komunikasi antara perawat dan klien.


3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan dampak pembedahan, udema otot, terputusnya jaringan syaraf, yang ditandai ekspresi wajah tampak tegang.
Tujuan:
Rasa nyeri berkurang
Kriteria hasil:
a. Dapat menyatakan nyeri berkurang, tidak adanya perilaku uyg menunjukkan adanya nyeri.
Rencana tindakan
Intervensi Rasional
Atur posisi semi fowler, ganjal kepala /leher dengan bantal kecil
Mencegah hyperekstensi leher dan melindungi integritas pada jahitan pada luka.

Kaji respon verbal /non verbal lokasi, intensitas dan lamanya nyeri.
Mengevaluasi nyeri, menentukan rencana tindakan keefektifan terapi.

Intruksikan pada klien agar menggunakan tangan untuk menahan leher pada saat alih posisi .
Mengurangi ketegangan otot.

Beri makanan /cairan yang halus seperti es krim.
Makanan yang halus lebih baik bagi klien yang menjalani kesulitan menelan.

Lakukan kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesik.
Memutuskan transfusi SSP pada rasa nyeri.


4. Kurangnya pengetahuan yang berhubungan dengan salah interprestasi yang ditandai dengan sering bertanya tentang penyakitnya.
Tujuan:
Pengetahuan klien bertambah.
Kriteria hasil:
a. Klien berpartisipasi dalam program keperawatan



Rencana tindakan:
Intervensi Rasional
Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.
Mempertahankan daya tahan tubuh klien.

Hindari makanan yang banyak mengandung zat goitrogenik misalnya makanan laut, kedelai, Lobak cina dll.
Kontraindikasi pembedahan kelenjar thyroid.

Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.
Memaksimalkan suplai dan absorbsi kalsium.


5. Potensial terjadinya perdarahan berhubungan dengan terputusnya pembuluh darah sekunder terhadap pembedahan.
Tujuan
Perdarahan tidak terjadi.
Kriteria hasil
a. Tidak terdapat adanya tanda-tanda perdarahan.
Rencana tindakan:
Intervensi Rasional
Observasi tanda-tanda vital.
Dengan mengetahui perubahan tanda-tanda vital dapat digunakan untuk mengetahui perdarahan secara dini.

Pada balutan tidak didapatkan tanda-tanda basah karena darah.
Dengan adanya balutan yang basah berarti adanya perdarahan pada luka operasi.

Dari drain tidak terdapat cairan yang berlebih.( > 50 cc).
Cairan pada drain dapat untuk mengetahui perdarahan luka operasi.


J. Evaluasi
1. Teruskan bila masalah masih ada.
2. Revisi/modifikasi bila masalah ada tetapi rencana dirubah.
3. Terpecahkan jika masalah berhasil dipecahkan.


















BAB II
TINJAUAN KASUS

A. DATA PENGKAJIAN
1. Pengkajian Umum
a. Hari : Kamis
b. Tanggal : 27 Mei 2010
c. Jam : 10.00 WIB
d. Tempat : Poli Dalam Dr. Sarjito
e. Perawat : Ambar
f. Metode Pengambilan Data : Wawancara, observasi, studi
dokumen, dan pemeriksaan fisik.
2. Identitas Diri Klien
a. Nama : Ny “M”
b. Usia : 53 tahun
c. Jenis Kelamin : Perempuan
d. Agama : Islam
e. Pendidikan : SMP
f. Pekerjaan : Pedagang
g. Suku/Kebangsaan : Jawa/ Indonesia
a. Alamat : Cokrokusuman Baru Yogyakarta
h. Dx medis : Struma
i. No CM : 0 0976 03

3. Identitas Penanggung Jawab
b. Nama : Tn “A”
c. Usia : 55 tahun
d. Pekerjaan : Pedagang
e. Alamat : Cokrokusuman Baru Yogyakarta
f. Hubungan dengan pasien : Suami Klien



B. RIWAYAT PENYAKIT
1. Keluhan Utama
Klien mengatakan selama sakit sering sesak nafas apalagi kalau klien kelelahan. Klien mengatakan membatasi aktivitasnya selama sakit karena bila aktivitasnya terlalu berat klien akan sesak nafas. Klien mengatakan susah makan nasi atau makan makanan yang keras karena bila ingin menelan klien merasa sakit di leher dan terasa mengganjal, sehingga klien makan makanan yang halus seperti bubur. Klien mengatakan BBnya menurun selama sakit dari 43 Kg menjadi 38 Kg. Klien mengatakan tidur harus terlentang karena bila tidurnya miring, klien merasa seperti tertimpa batu yang besar dan sesak nafas saat tidur.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien mengatakan sudah 1,5 tahun sakit struma. Klien mengatakan sebelum dibawa ke Sarjito, klien sudah memeriksakan keadaanya di Rumah Sakit Betesda. Klien mengatakan memeriksakan dirinya di Betesda selama satu tahun, disana klien dilakukan pemeriksaan radiologi dan sinar. Hasil pemeriksaan tersebut klien di diagnose stuma atau adanya pembesaran pada kelenjar tiroid. Klien mengatakan sempat tidak menyangka bila klien sakit tersebut. Klien mengatakan saat memeriksakan dirinya di Betesda, klien disuruh untuk melakukan operasi pengambilan stuma tersebut, tetapi klien tidak mau karena biayanya yang mahal. Klien mengatakan akan menjalani berobat jalan daripada melakukan operasi. Saat klien datang ke Poliklinik Penyakit Dalam, klien dilakukan pemeriksaan tanda vital dengan hasil N : 94 x/ menit, TD : 120/70 mmHg, R : 24 x/ menit dan S : 36,80C. Klien mengatakan selama sakit sering merasa sesak nafas. Klien mengatakan sesak nafas saat merasa kelelahan dan apabila klien tidur dengan posisi miring. Klien mengatakan bila tidur dengan posisi miring merasa seperti tertimpa batu besar dan sesak nafas, sehingga klien bila tidur harus berbaring agar idak sesak nafas. Klien mengatakan tidur menjadi kadang terganggu dengan sesak nafas yang dirasakan klien.
3. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan sebelumnya belum pernah di rawat di rumah sakit. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit maag dan stroke. Klien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit jantung, paru, ginjal, DM, hepatitis dan asma.
4. Riwayat Penyakit Keluarga
a. Genogram :



Keterangan :
= Laki dan sudah meninggal ( suami klien )
= Laki-laki
= Perempuan
= Klien
= Garis keturunan
= Garis perkawinan
= Perempuan kembar
Klien mengatakan orang tua baik dari klien dan suami klien tidak ada yang sudah meninggal dan semuanya masih sehat sampai sekarang. Klien mengatakan suaminya sudah meninggal karena sakit radang tenggorokan saat berusia 37 tahun.
b. Klien mengatakan keluarganya tidak ada yang menderita penyakit serupa dengan klien. Klien mengatakan keluarganya tidak ada yang sakit asma, jantung, gagal ginjal, paru, stroke, serta gagal ginjal .
5. Faktor Pencetus
Klien mengatakan tidak mengetahui secara tepat factor yang bisa menyebabkan klien sakit stuma tersebut, tetapi klien menyadari bahwa sakit yang diderita klien sekarang karena klien kurang mengkonsumsi garam beryodium. Kl;ien mengatakan apa yang dialami klien sekarang bukanlah dari factor keturunan.

C. Pola Kebiasaan Klien
1. Pola Nutrisi
a. Intake Nutrisi
1) Sebelum sakit
Klien mengatakan makan 3 kali per hari dengan menu nasi, sayur, dan lauk pauk dengan porsi sedang setengah piring . Klien mengatakan tidak ada pantangan untuk makan segala macam buah. Klien mengatakan tidak ada kesulitan untuk menelan. Klien mengatakan senang makan dengan sayur-sayuran dan tempe.
2) Selama sakit
Klien mengatakan selama sakit makan 3 kali sehari dengan porsi sedikit. Karena bila klien makan nasi yang terasa keras klien merasa sakit pada leher. Klien mengatakan mengalami kesulitan menelan bila makan makanan yang keras dan agak besar seperti slondok, daging, dan peyek sehingga klien makan bubur setiap harinya. Klien mengatakan terjadi penuruna berat badan selama sakit karena kesultan klien untk menelan. BB klien sebelum sakit 43 Kg menjadi 38 Kg setelah sakit.


b. Intake cairan
1) Sebelum sakit
Klien mengatakan minum 1600cc per hari. Klien mengatakan suka minum air putih, teh hangat, dan kadang-kadang minum susu. Minuman kesukaan klien adalah air teh hangat dan air putih. Klien mengatakan setiap pagi dan sore hari minum teh hangat dan saat siang hari minum air putih.
2) Selama sakit
Klien selama sakit minum 1600cc per hari. Klien mengatakan tiak ada perubahan pada pola minum klien. Klien tidak mengalami kesulitan untuk minum.
2. Pola Eliminasi
a. Sebelum sakit
Klien mengatakan BAB 1 kali sehari sebanyak 300cc dengan konsistensi lembek dan berwarna coklat. Klien mengatakan BAK 900cc per hari dengan warna kuning dan berbau amoniak. Klien mengatakan tidak ada kesulitan untuk BAB maupun BAK.
b. Selama sakit
Klien mengatakan selama sakit tidak ada perubahan pada pola BAB dan BAK. Setiap sehari sekali klien BAB sebanyak 300cc dan BAK sehari 900cc-1050cc. Klien mengatakan tidak ada kesulitan untuk BAB maupun BAK.
3. Pola Istirahat.
a. Sebelum sakit
Klien mengatakan malam hari tidur 6 jam. Klien mengatakan tidak ada gangguan dengan tidurnya. Klien mengatakan setiap siang hari sehabis dagang tidur siang selama 2-3 jam. Klien mengatakan dapat tidur dengan mudah dan merasakan nyaman saat tidur.

b. Selama sakit
Klien mengatakan selama sakit tidur malam 5-6 jam. Klien mengatakan sudah jarang tidur siang karena bila klien tidur siang klien merasakan tidak nyaman. Klien mengatakan untuk tidurnya ada posisi tertentu yang membuat klien tidak nyaman yaitu dengan posisi miring. Dengan posisi miring klien merasakan seperti di timpa batu besar yang menyebabkan rasa sesak di dada. Klien mengatakan setiap tidur harus dengan posisi terlantang dan jangan sampai miring.
4. Pola Aktivitas dan Latihan
a. Sebelum sakit
Kemampuan Perawatan Diri 0 1 2 3 4
Makan dan Minum v
Mandi v v
Toiletting v
Berpakaian v
Mobilitas di Tempat Tidur v
Berpindah v
ROM v
Keterangan :
0 : Mandiri
1 : Alat bantu
2 : Dibantu orang lain
3 : Dibantu orang lain dan alat
4 : Tergantung total
Kesimpulan : klien mandiri dalam melakukan aktivitasnya makan minum, mandi, toileting, berpakaian, mobilitas di tempat tidur, berpindah dan ROM.
b. Selama sakit
Klien mengatakan selama sakit aktivitas dapat dikerjakan dengan mandiri tanpa bantuan orang lain. Klien mangatakan tidak ada perubahan yang signifikan dengan aktivitas yang di jalani klien sebelum sakit dengan selama sakit. Klien mengatakan hanya saja klien mengurangi aktivitas yang dirasa klien memberatkan dan membuat klien lelah, karena selama sakit klien menjadi mudak kecapean.
5. Pola Kebersihan Diri
a. Sebelum sakit
Klien mengatakan mandi 2x sehari. Klien mampu untuk mandi sendiri dan tidak perlu bantuan orang lain. Klien mengatakan gosok gigi 3x sehari pagi, sore dan sebelum tidur dan keramas 3 hari sekali.
b. Selama sakit
Klien selama sakit klien mengatakan tidak ada perubahan dengan sebelum sakit. Klien mandi 2 kali sehari. Klien gosok gigi 3 kali sehari, pagi, sore dan sebelum tidur serta klien keramas 3 hari sekali. Klien mengatakan dapat namdi, gosok gigi dan keramas sendiri tanpa bantuan orang lain.
6. Pengkajian psiko-sosial-spiritual
a. Konsep Diri
1) Identitas diri
Klien dapat menyebutkan namanya yaitu Ny. “M”. Klien menyadari dirinya seorang perempuan dan berpenampilan layaknya perempuan..
2) Harga diri
Klien mengatakan tidak sedih dengan keadaanya sekarang, tetapi klien mensyukuri karena masih diberikan umur panjang oleh Allah. Klien mengatakan dengan keadaannya sekarang bahwa dengan adanya benjolan pada leher klien, klien tetap semangat dalam menjalani hidup karena keluarga klien selalu memberikan dukungan kepada klien. Klien mengatakan hubungan dengan kelurga dan masyarakat sekitar tidak ada gangguan dan dapat berhubungan dengan baik. Klien mengatakan tidak ada kesulitan untuk berbicara dengan keadaanya sekarang ini.
3) Gambaran diri
Klien mensyukuri anggota tubuh yang diberikan oleh Allah.yang masih berfungsi dengan baik kecuali dengan pencernaannya karena kesulitan klien untuk menelan makan makanan yang keras dan bila makanan tersebut besar karena adanya perbesaran kelenjar pada leher klien.
4) Peran diri
Klien menyadari dirinya sebagai seorang ibu, dan sebagai seorang istri. Klien mengatakan dapat menjalankan perannya tersebut dengan baik tanpa ada gangguan dengan keadaanya sekarang. Klien mengatahan hanya saja mengurangi kegiatan yang terlalu berat karena kondidi klien yang sekarang menjadi lebih mudah lelah.
5) Ideal diri
Klien mengatakan ingin tetap berguna untuk keluarganya walaupun dengan kondisi sekarang.
b. Intelektual
Klien belum mengetahui secara betul dirinya sakit apa. Klien mengatakan pasrah dengan kondisinya sekarang dan selalu berobat sesuai dengan kemampuan klien. Klien mengatakan tidak tahu dengan proses perjalanan penyakitnya apakah sakit ini dapat menjadi parah dan bagaimana dengan penyembuhannya. Klien hanya mengetahui penyebab dari sakitnya sekarang bahwa kurang makan garam beryodium.
c. Hubungan interpersonal
Klien mengatakan hubungan dengan anak, suaminya dan keluarga baik dan jika ada masalah, klien bercerita pada suaminya. Klien sangat kooperatif dengan perawat yang ada di Poliklinik Penyakit Dalam RSUP Dr. Sarjito.
d. Support system
Klien mengatakan mendapat dukungan dari anaknya, suaminya, orang tua, keluarga, tetangga dan juga teman klien.
e. Aspek sosial
Klien berbicara dengan bahasa Indonesia secara jelas tetapi dan dapat dipahami oleh orang lain.
f. Aspek spiritual
Klien mengatakan rutin menjalani sholat 5 waktu, dan selalu berdoa agar sakit yang diderita sekarang cepat sembuh.

D. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
1) Kesadaran : Compos mentis
2) Status Gizi : BB sebelum sakit : 43 Kg
BB selama sakir 38 Kg ( Ditimbang saat pengkajian
tanggal 27 Mei 2010)
3) Status gizi:
BB : 38 kg
TB : 158 cm
IMT : 38 = 15,22 kg/m2
(1,58)2
4) Tanda-Tanda Vital :
N : 94 x/ menit
TD : 120/70 mmHg
R : 24 x/ menit
S : 36,80C
b. Pemeriksaan Cepalo-Klaudal
1) Kepala
a) Bentuk kepala : mesochepal
b) Kulit kepala : tidak ada luka, tidak ada benjolan.
c) Mata : konjungtiva anemis, pupil isokor, reflek
cahaya mata kanan dan kiri positif dan
terdapat lingkar hitam disekitar mata.
d) Hidung : tidak terdapat secret, fungsi pembauan baik.
e) Mulut : membran mukosa kering, mulut tampak
bersih, gigi lengkap tampak sedikit kuning
2) Leher
Pada leher ada nyeri tekan dan ada pembesaran kelenjar tiroid. Perbesaran kelenjar tiroid dengan diameter 2 cm. Struma klien pada kalasifikasi Grade 1 dimana teraba dan terlihat saat kepala ditengadahkan.
3) Kulit
Kulit klien kering, tidak pucat, tidak ada kemerahan. Turgor kulit elastic, dan kulit klien berwarna sawo matang. Kulit klien teraba teraba hangat.
4) Otot
Penampilan lemah, tidak terdapat nyeri ditubuhnya, tidak ada kaku sendi dan tidak terdapat udema. Kekuatan otot 5.
5) Dada
a) Inspeksi : Dada simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi,
tidak ada benjolan permukaan dada rata, kulit
dada berwarna coklat.
b) Palpasi : Tidak terdapat nyeri tekan pada dada klien
dan tidak terdapat benjolan.
c) Perkusi : Terdengar suara redup di interkosta 5
d) Auskultasi : Tidak terdengar bunyi ronchi dan terdengar
bunyi S1,2
6) Abdomen
a) Inspeksi : Perut klien terlihat rata, simetris antara bagian
dekstra dan sinistra, tidak ada lesi, tidak
terdapat benjolan pada abdomen klien..
b) Auskultasi : Terdengar bising usus 20x/mnt di kanan atas.
c) Perkusi : Terdengar suara timpani di kuadran kiri atas.
Terdengar suara redup pada kuadran kanan
dan kiri bawah.
d) Palpasi : Tidak ada nyeri tekan dan tidak teraba masa.
pada perut klien.
7) Ekstremitas
a) Atas :
Simetris, tidak ada edema, turgor kulit elastis, tidak terdapat bekas luka pada tangan klien dan tidak ada kemerahan pada tangan klien.
b) Bawah :
Simetris, tidak terdapat edema pada kaki klien , tugor kulit elastis, tidak terdapat bekas luka pada kaki klien. Kulit klien terlihat kering dan berwarna sawo matang.

E. Program Terapi
1. Sohobion 1x1
2. Propanol 1x10 gr
3. PTU 1x100

F. Diagnosa Medis
Stuma Grade 1

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan tanggal 25 Maret 2010
No. Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
1. T3 1.03 0.15-1.65
2. T4 87.8 45-120
3. h-TSH 0.145 0.47-5.01
4. f T4 12.3 7.1-18.5

2. Pemeriksaan tanggal 26 April 2010
No. Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
1. f T4 0.09 7.1-18.5
Dari hasil tersebut diperoleh Suspek Grave Disease

3. Pemeriksaan tanggal 27 Mei 2010
No. Pemeriksaan Hasil Nilai Normal
1. f T4 1.1 7.1-18.5




















H. Analisa Data

NO DATA MASALAH PENYEBAB
1. DO:
• R : 28 x/menit
DS :
• Klien mengatakan selama sakit sering sesak nafas apalagi kalau klien kelelahan.
• Klien mengatakan membatasi aktivitasnya selama sakit karena bila aktivitasnya terlalu berat klien akan merasa sesak nafas.
Bersihan jalan nafas tidak efektif Ostruksi trakea
2. DO:
• BB klien sebelum sakit : 43 Kg
• BB klien selama sakit : 38 Kg
• IMT : 15,22 kg/m2
DS :
• Klien mengatakan susah makan nasi atau makan makanan yang keras dan agak besar seperti slondok, daging, dan peyek karena bila ingin menelan klien merasa sakit di leher dan terasa mengganjal, sehingga klien makan makanan yang halus seperti bubur
• Klien mengatakan selama sakit makan 3 kali sehari dengan porsi sedikit.

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan Peningkatan metabolisme
3. DO:
• Terdapat lingkar hitam disekitar mata
• Konjungtiva anemis
DS :
• Klien mengatakan tidur harus terlentang karena bila tidurnya miring, klien merasa tertimpa batu yang besar dan sesak nafas saat tidur.
• Klien mengatakan bila tiodur dengan posisi miring klien merasakan sesak nafas.
• Klien mengatakan selama sakit tidur malam 5-6 jam
Gangguan pola tidur Ketidaknyamanan fisik (sesak nafas)
4. DO:
-
DS :
• Klien mengatakan belum mengetahui secara betul dirinya sakit apa.
• Klien mengatakan pasrah dengan kondisinya sekarang dan selalu berobat sesuai dengan kemampuan klien.
• Klien mengatakan tidak tahu dengan proses perjalanan penyakitnya apakah sakit ini dapat menjadi parah dan bagaimana dengan penyembuhannya
Kurang pengetahuan tentang penyakitnya Kurang terpapar informasi



I. Diagnosa Keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakea
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolisme
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (sesak nafas)
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang terpaparnya informasi



RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : Ny “M” Dx Medis : Struma Grave 1
Umur : 53 tahun Ruang : Poli Dalam RSUP Dr. Sardjito
No. Diagnosa Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
1. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi trakea ditandai dengan :
DO:
• R : 28x/menit
DS :
• Klien mengatakan selama sakit sering sesak nafas apalagi kalau klien kelelahan.
• Klien mengatakan membatasi aktivitasnya selama sakit karena bila aktivitasnya terlalu berat klien akan sesak nafas.

Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada kunjungan kelima klien dapat mempertahankan nafas paten dengan kriteria :
• Klien mengatakan sesak nafasnya berkurang
• R : 16-24x/menit
• Klien mengatakan untuk menjalankan aktivitasnya dapat berjalan dengan baik tanpa ada sesak nafas atau sesak nafas berkurang. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Observasi frekuensi pernafasan dan kedalaman pernafasan klien



2. Observasi kemungkinan adanya stridor, sianosis.


3. Auskultasi suara nafas klien, catat bila adanya suara ronchi
4. Berikan posisi semifowler pada klien
5. Ajarkan klien teknik nafas dalam.


6. Perhatikan klien dalam hal menelan apakah ada kesulitan.
7. Berikan penjelasan kepada klien agar menghindari ikatan pada leher. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Pernafasan secara normal kadang-kadang cepat, tetapi berkembangnya distress pada pernafasan merupakan indikasi kompensasi trakea karena edema atau perdarahan
2. Indikator obstruksi trakea/spasme faring yang membutuhkan evaluasi dan intervensi segera.
3. Ronchi merupakan indicator adanya sumbatan jalan nafas
4. Memberikan suasana yang lebih nyaman
5. Memudahkan pengeluaran sekret, memelihara bersihan jalan nafas.dan ventilasi
6. Mungkin ada indikasi perdarahan sebagai efek samping opersi.
7. Menurunkan kemungkinan tegangan pada leher









RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : Ny “M” Dx Medis : Struma Grave 1
Umur : 53 tahun Ruang : Poli Dalam RSUP Dr. Sardjito
No. Diagnosa Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
2. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan metabolism ditandai dengan :
DO:
• BB klien sebelum sakit : 43 Kg
• BB klien selama sakit : 38 Kg
• IMT : 15,22 kg/m2
DS :
• Klien mengatakan susah makan nasi atau makan makanan yang keras dan agak besar seperti slondok, daging, dan peyek karena bila ingin menelan klien merasa sakit di leher dan terasa mengganjal, sehingga klien makan makanan yang halus seperti bubur
• Klien mengatakan selama sakit makan 3 kali sehari dengan porsi sedikit..


Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada kunjungan keempat klien terbebas dari tanda-tanda malnutrisi dengan kriteria :
• BB klien bertambah 3 Kg
• Klien dapat makan makanan sedikit demi sedikit tanpa ada gangguan
• Klien dapat makan nasi minimal sehari sekali
Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Beri makan sedikit tapi sering dan makanan kecil tambahan yang tepat.


2. Observasi vital sign dan keadaan umum



3. Timbang berat badan klien setiap hari





4. Kelola denegan ahli gizi untuk memberi diit seimbang dengan protein yang tepat

5. Beri penjelasan kepada klien bahwa masukan nutrisi penting

Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Dilatasi gaster dapat terjadi bila terdapat makanan dan meningkatkan hasrat untuk makan.
2. Vital sign dan keadaan umum mengindikasikan adanya perubahan kondisi tubuh terhadap perjalanan penyakit.
3. Penurunan berat badan terus menerus dalam keadaan masukan kalori yang cukup merupakan indikasi kegagalan terhadap terapi.
4. Penyajian diit dibutuhkan untuk menghadapi penurunan kemampuan dalam memproses protein dn menurunkan nilai metabolis.
5. Meningkatnya pengetahuan klien tentang asuhan nutrisi membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi dirinya dan untuk menunjang proses metabolik.



















RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : Ny “M” Dx Medis : Struma Grave 1
Umur : 53 tahun Ruang : Poli Dalam RSUP Dr. Sardjito
No. Diagnosa Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
3. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Gangguan pola tidur berhubungan dengan ketidaknyamanan fisik (sesak nafas) ditandai dengan :
DO :
• Terdapat lingkar hitam disekitar mata
• Konjungtiva anemis
DS :
• Klien mengatakan tidur harus terlentang karena bila tidurnya miring, klien merasa tertimpa batu yang besar dan sesak nafas saat tidur.
• Klien mengatakan bila tidur dengan posisi miring klien merasakan sesak nafas.
• Klien mengatakan selama sakit tidur malam 5-6 jam

Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada kunjungan klien yang ketiga kebutuhan tidur klien terpenuhi dengan kriteria :
• Tidak terdapat lingkar hitam disekitar mata
• Konjungtiva klien merah muda
• Klien dapat tidur 8-9 jam sehari
• Klien bisa tidur tanpa ada gangguan Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Memberi informasi kepada klien tentang pentingnya pola tidur yang normal yaitu 8-9 jam/hari
2. Observasi lingkar gelap mata, tekanan darah, dan pernafasan klien..





3. Menganjurkan klien untuk menciptakan lingkungan yang tenag pada sat akan tidur.



4. Tingkatkan regimen kenyamanan waktu tidur
Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Tidur 8-9 jam/hari akan membantu pemenuhan kebutuhan tidur klien.


2. Tekanan darah, pernafasan dan ada tidaknya lingkar gelpa mata, dapat mengindikasikan adanya perubahan kondisi tubuh terhadap penyakit yang diderita.
3. Lingkungan yang tenang dapat mengurangi kebisingan sehingga mengurangi rangsangan kerja saraf pendengaran yang dapt mengganggu tidur.
4. Meningkatkan efek relaksasi.





RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
Nama : Ny “M” Dx Medis : Struma Grave 1
Umur : 53 tahun Ruang : Poli Dalam RSUP Dr. Sardjito
No. Diagnosa Keperawatan Perencanaan
Tujuan Intervensi Rasional
4. Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Kurang pengetahuan tentang penyakitnya berhubungan dnegan kurang terpaparnya informasi ditandai dengan :
DO:
-
DS :
• Klien mengatakan belum mengetahui secara betul dirinya sakit apa.
• Klien mengatakan pasrah dengan kondisinya sekarang dan selalu berobat sesuai dengan kemampuan klien.
• Klien mengatakan tidak tahu dengan proses perjalanan penyakitnya apakah sakit ini dapat menjadi parah dan bagaimana dengan penyembuhannya

Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

Setelah dilakukan tindakan keperawatan pada kunjungan klien yang ketiga klien mengerti dan paham akan penyakitnya dengan kriteria :
• Klien mengatakan mengerti akan penyebab sakitnya dan apa nama penyakit yang klien derita.
• Klien mengerti bagaimana proses perjalanan penyakitnya
• Klien mengatakan mengerti cara pengobatan yang tepat untuk penyakitnya Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Diskusikan tentang keseimbangan nutrisi.
2. Konsumsikan makanan tinggi calsium dan vitamin D.
3. Sarankan untuk menghindari makan-makanan yang bersifat goitrogenik, misalnya makanan laut yang berlebihan dan kacang kedelai.
4. Berikan penjelasan klien tentang penyebab penyakitnya, nama penyakitnya, proses perjalanan penyakitnya dan bagaimana cara penyembuhan dari penyakitnya.
Kamis, 27 Mei 2010
Pukul: 11.00 WIB

1. Mempertahankan daya tahan tubuh klien.
2. Memaksimalkan suplai dan absorbsi kalsium.

3. Makanan tersebut bersifat menghambat aktivitas tiroid.



4. Agar klien menetahui secara jelas tentang penyakitnya dan dapat melakukan hal-hal yang dapat mempercepat penyembuhannya.



DAFTAR PUSTAKA

Bare & Suzanne, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Volume 2, (Edisi 8), EGC, Jakarta

Carpenito, 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan, (Edisi 2), EGC, Jakarta

Corwin,. J. Elizabeth, 2001, Patofisiologi, EGC, Jakarta

Doenges, E. Marilynn dan MF. Moorhouse, 2001, Rencana Asuhan Keperawatan, (Edisi III), EGC, Jakarta.

FKUI, 1979, Patologi, FKUI, Jakarta

Ganong, 1997, Fisiologi Kedokteran, EGC, Jakarta

Gibson, John, 2003, Anatomi dan Fisiologi Modern untuk Perawat, EGC, Jakarta

Guyton dan Hall, 1997, Fisiologi Kedokteran, (Edisi 9), EGC, Jakarta

Hinchliff, 1999, Kamus Keperawatan, EGC, Jakarta

Price, S. A dan Wilson, L. M, 1995, Patofisiologi, EGC, Jakarta

Sherwood, 2001, Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem, (edisi 21), EGC, Jakarta

Sobotta, 2003, Atlas Anatomi, (Edisi 21), EGC, Jakarta

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.