Selasa, 01 November 2011

LP Kerusakan Interaksi Sosial

KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL (KIS)

LP PADA KLIEN DENGAN
KERUSAKAN INTERAKSI SOSIAL

I. KASUS (MASALAH UTAMA)
Kerusakan Interaksi Sosial

A. Pengertian

Perilaku menarik diri merupakan usaha individu menghindari suatu interaksi atau hubungan dengan orang lain yang dimanifestasikan dengan sikap memisahkan diri, tidak mampu membagi pengalaman dengan orang lain dan tidak adanya perhatian (Stuart dan Sundeen, 1990). Perilaku menarik diri adalah percobaan menghindari hubungan atau suatu interaksi dengan orang lain (Rawlins dikutip oleh Tim Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan UI, 1999). Perilaku menarik diri merupakan kegagalan dalam membina hubungan dengan teman, sekolah, kurangnya dukungan guru dan pembatasan serta dukungan yang tidak konsisten dari orang tua mengakibatkan anak menjadi frustasi terhadap kemampuannya, merasa tidak mampu menarik diri dari lingkungannya (Herber, dkk dikutip oleh Tim Keperawatan Jiwa Fakultas Ilmu Keperawatan UI, 1999).
Kerusakan interaksi sosial adalah suatu gangguan kepribadian yang tidak fleksibel, tingkah maladaptif dan mengganggu fungsi individu dalam hubungan sosialnya (Stuart dan Sundeen, 1998).
Kerusakan sosial adalah suatu keadaan seseorang berpartisipasi dalam pertukaran sosial dengan kuantitas dan kualitas yang tidak efektif (Towsend, 1998).
Klien yang mengalami kerusakan interaksi sosial mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain yang salah satunya mengarah pada perilaku menarik diri.

B. Rentang Respon Sosial
Waktu membina suatu hubungan sosial, setiap individu berada dalam rentang respons yang adaptif sampai dengan maladaptif. Respon adaptif merupakan respons yang dapat diterima oleh norma - norma sosial dan budaya setempat yang secara umum berlaku, sedangkan respons maladaptif merupakan respons yang dilakukan individu dalam menyelesaikan masalah yang kurang dapat diterima oleh norma - norma sosial dan budaya setempat. Respons sosial maladaptif yang sering terjadi dalam kehidupan sehari - hari adalah menarik diri, tergantung (dependen), manipulasi, curiga, gangguan komunikasi, dan kesepian.
Menurut Stuart dan Sundeen, 1999, respon setiap individu berada dalam rentang adaptif sampai dengan maladaptive yang dapat dilihat pada bagan berikut :




Respon Adaptif Respon Maladaptif

Solitude Manipulatif
Otonomi Withdraw
Kebersamaan Narkisisme
Interdependen Suspisius
Dependen
Rentang respons sosial yang adaptif, adalah sebagai berikut :
1. Menyendiri (solitude)
merupakan respons yang dibutuhkan seseorang untuk merenungkan apa yang telah dilakukan di lingkungan sosialnya dan suatu cara mengevaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya. Solitude umumnya dilakukan setelah melakukan kegiatan.
2. Otonomi
merupakan kemampuan individu untuk menentukan dan menyampaikan ide-ide pikiran, perasaan dalam hubungan sosial.
3. Bekerja sama (mutualisme)
adalah suatu kondisi dalam hubungan interpersonal dimana individu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.
4. Saling tergantung (interdependen)
merupakan kondisi saling tergantung antara individu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.

Dalam kehidupan sehari-hari respons maladaptif yang sering ditemukan antara lain : menarik diri, tergantung (dependen), manipulasi, curiga.
1. Menarik diri
merupakan suatu keadaan dimana seseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan secara terbuka dengan orang lain.
2. Tergantung (dependen)
terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya diri atau kemampuannya untuk berfungsi secara sukses.
3. Manipulasi
merupakan gangguan hubungan sosial yang terdapat pada individu yang menganggap orang lain sebagai objek. Individu tersebut tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
4. Curiga
terjadi bila seseorang gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain. Kecurigaan dan ketidakpercayaan diperlihatkan dengan tanda-tanda cemburu, iri hati, dan berhati-hati. Perasaan individu ditandai dengan humor yang kurang, dan individu merasa bangga dengan sikapnya yang dingin dan tanpa emosi.
5. Narkisisme
Seseorang yang merasa dirinya penting berlebihan yang mengakibatkan dirinya dijauhi oleh orang lain.

II. PROSES TERJADINYA MASALAH
A. Faktor Predisposisi

Beberapa faktor predisposisi / pendukung terjadinya prilaku menarik diri :
1. Faktor Tumbang
Kemampuan membina hubungan yang sehat tergantung dari pengalaman selama proses tumbang setiap tahap tumbang memiliki tugas yang harus dilalui individu dengan sukses. Apabila tugas-tugas perkembangan tidak terpenuhi, akan dapat menghambat fase perkembangan selanjutnya
2. Faktor Komunikasi dalam Keluarga
Gangguan komunikasi dalam keluarga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan hubungan sosial termasuk komunikasi yang tidak jelas dimana seorang anggota keluarga menerima pesan saling bertentangan dalam waktu yang bersamaan, ekspresi emosi yang tinggi dalam keluarga, pola asuh keluarga yang tidak menganjurkan anggota keluarga untk berhubungan di luar lingkungannya.
3. Faktor Sosial Budaya
Isolasi sosial dari lingkungannya merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam berhubungan sosial. Hal ini disebabkan oleh adanya norma-norma salah yang dianut oleh keluarga. Setiap anggota keluarga yang tidak produktif diasingkan dari orang lain. Misalnya : penyandang cacat, usila dan penyakit kronis.
4. Faktor Biologis
Faktor keturunan juga merupakan faktor pendukung terjadinya gangguan dalam berhubungan sosial. Organ tubuh yang jelas mengalami perubahan adalah otak. Misalnya: pada klien Skizoprenia, terdapat struktur abnormal pada otak.

B. Faktor Presipitasi (Stuart dan Sundeen, 1998)

Faktor pencetus terjadinya gangguan hubungan sosial dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal yang dapat dikelompokkan menjadi :
1. Stressor sosial budaya
Stressor yang timbul dari faktor sosial budaya, antara lain keluarga yang labil, perpisahan orang tua terdekat, misalnya dirawat dirumah sakit akibat penyakit kronis.
2. Stressor Psikologik
Stressor psikologik yaitu menuju pada kecemasan yang cukup berat dengan terbatasnya kemampuan dalam menyelesaikan masalah kecemasan tersebut.
3. Model Biologikal Lingkungan Sosial
Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seseorang terhadap stress saat terjadinya interaksi dengan stressor dilingkungan sosial.

C. Manifestasi Klinis Gangguan Perilaku Menarik Diri

Data yang ditemukan pada klien menarik diri berupa data subjektif dan data objektif (Keliat, 1990). Data subjektif didapat jika klien hendak berkomunikasi. Data tersebut berupa menjawab dengan singkat dengan kata “Ya” atau “Tidak”. Data objektif didapat dari hasil observasi sebagai berikut :
1. Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul
2. Menghindar dari orang lain (menyendiri)
3. Tidak ada kontak mata, tidak mau menatap lawan bicara
4. Berdiam diri dikamar/ tempat berpisah dan klien kurang mobilisasi.
5. Tidak berhubungan dengan orang lain, klien memutuskan percakapan atau pergi jika tidak bercakap lain
6. Tidak melakukan kegiatan setiap hari, perawatan diri dan kegiatan rumah tangga sehari-hari tidak dilakukan.
7. Masukan makanan dan minuman terganggu
8. Rentensi urine dan faeces
9. Rendah diri
10. Postur tubuh berubah, misalnya sikap fetus atau janin (khususnya pada posisi tidur)

III. Data yang perlu dikaji

Menurut Keliat (1998) dan Lowcend (1998) diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan kerusakan interaksi sosial menarik diri adalah :
1. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
Data Subjektif :
a. Klien mengatakan mendengar bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata
b. Klien mengatakan melihat gambaran tanpa ada stimulus yang nyata
c. Klien mengatakan mencium bau tanpa stimulus
d. Klien merasa makan sesuatu
e. Klien merasa ada sesuatu pada kulitnya
f. Klien takut pada suara/bunyi/gambar yang dilihat dan didengar
g. Klien ingin memukul/melempar barang-barang
Data Objektif :
a. Klien berbicara dan tertawa sendiri
b. Klien bersikap seperti mendengar/melihat sesuatu
c. Klien berhenti bicara ditengah kalimat untuk mendengarkan sesuatu
d. Disorientasi

2. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri
Data obyektif :
Apatis, ekpresi sedih, afek tumpul, menyendiri, berdiam diri dikamar, banyak diam, kontak mata kurang (menunduk), menolak berhubungan dengan orang lain, perawatan diri kurang, posisi menekur.

Data subyektif :
Sukar didapat jika klien menolak komunikasi, kadang hanya dijawab dengan singkat, ya atau tidak.

3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis
Data obyektif :
Klien tampak lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternatif tindakan, ingin mencederai diri.
Data subyektif :
Klien mengatakan : saya tidak bisa, tidak mampu, bodoh / tidak tahu apa – apa, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri.

IV. Masalah Keperawatan

1. Perubahan persepsi sensori : halusinasi
2. Kerusakan interaksi sosial : menarik diri
3. Gangguan konsep diri : harga diri rendah kronis

V. Pohon Masalah

Tahap awal pengkajian terdiri atas pengumpulan data dan perumusan masalah klien (Keliat dkk, 1990). Kemudian daftar masalah klien diidentivikasi melalui hubungan sebab akibat digambarkan sebagai pohon masalah (problem tree).
Risiko perilaku kekerasan




Perubahan sensori persepsi : Halusinasi







Manajemen regimen Syndrom defisit
terapeutik tidak efektif perawatan diri

Harga diri rendah

VI. Diagnosa Keperawatan

1. Kerusakan interaksi sosial
2. Harga diri rendah
3. Perubahan sensori persepsi : halusinasi
4. Risiko perilaku kekerasan
5. Syndrom defisit perawatan diri
6. Penatalaksanaan Regimen Terapeutik Tidak Efektif (PRTTE)

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.