Minggu, 27 November 2011

lp sirosis hepatitis

SIROSIS HEPATIS


A. Definisi
Sirosis hepatis adalah penyakit yang ditandai oleh adanya peradangan difus dan menahun pada hati, diikuti dengan proliferasi jaringan ikat, regenerasi sel-sel hati, sehingga timbul kekacauan dalam susunan parenkim hati.

B. Etiologi
1. Malnutrisi
2. Alkoholisme
3. Virus hepatic
4. Kegagalan jantung yang menyebabkan bendungan vena hepatica
5. Penyakit Wilson
6. Hemokromatosis
7. Zat toksik

4. Tanda dan Gejala
A. Anoreksia, mual, muntah, dan diare
B. Demam, berat badan menurun, lekas lelah
C. Asites, hidrotoraks, dan edema
D. Ikterus, kadang-kadang urine menjadi lebih tua warnanya atau kecoklatan
E. Hepatomegali
F. Kelainan pembuluh darah; kolateral didinding abdomen dan toraks, kaput medusa, wasir, dan varises esophagus.
G. Kelainan endokrin: Impotensi, atrofi testes, ginekomasti, hilangnya rambut aksila dan pubis, amenore, hiperpigmentasi areola mamae, spider nevi dan eritema, hiperpigmentasi.


5. Patofisiologi
Pada penyakit hepar kronik seperti sirosis hati (hati yang mengecil dan mengeras) maka akan terjadi penurunan aliran darah porta ke hepar yang dapat dikenali dengan CDFI. Hal ini akan diimbangi oleh peningkatan aliran darah arteri hepatika yang berkelok-kelok dan melebar serta bervelositas tinggi. Juga penyempitan cabang-cabang vena hepatika dan perubahan bentuk gelombang Dopplernya dapat dengan jelas terlihat pada alat deteksi itu.
Gambaran USG pada sirosis hepatis nilai akurasi diagnosis USG tersebut mencapai 85-95%. Meskipun gambaran USG sirosis hepatis kadang-kadang sulit dibedakan dengan gambaran fatty liver stadium lanjut atau gambaran suatu hepatitis kronik aktif, tetapi dengan mencari tanda-tanda penyerta lainnya yang biasa dijumpai pada sirosis hepatis maka pada umumnya diagnosisnya dapat ditegakkan dengan pasti.
Keadaan penyerta yang sering dijumpai pada sirosis hepatis adalah adanya asites (cairan didalam rongga perut), splenomegali (limpa membesar), dan terjadinya kolateral portositemik pada keadaan hipertensi portal yang selalu mendapat perhatian dari klinisi. Karena keadaan ini sering menyebabkan suatu perdarahan gastro-intestinal (perdarahan saluran cerna) yang sering menyebabkan peningkatan angka kematian.

6. Pemeriksaan Penunjang
A. Pemeriksaan laboratorium: albumin serum, globulin, bilirubin direk dan indirek, enzim kolinesterase
B. SGOT, SGPT

7. Penatalaksanaan
A. Istirahat di tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites dan demam.
B. Diit rendah protein
C. Antibiotik untuk mengatasi infeksi
D. Memperbaiki keadaan gizi, bila perlu pemberian asam amino esensial berantai cabang dan glukosa
E. Roboransia vitamin B komplek
Penatalaksanaan asites dan edema adalah:
1. Istirahat dan diit rendah garam
2. Bila dengan istirahat dan diit rendah garam tidak dapat teratasi, diberikan pengobatan diuretic berupa spironolakton 50-100 mg/hari.
3. Bila terjadi asites refrakter, dilakukan terapi parasentesis.

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.