Sabtu, 03 Desember 2011

lp BPH


A. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian BPH
      Istilah hipertrofi sebenarnya kurang tepat karena yang terjadi adalah hiperplasia kelenjar periuretra yang mendesak jaringan prostat yang asli ke perifer dan menjadi kapsul bedah. (Anonim FK UI 1995).
Prostat adalah jaringan fibromuskuler dan jaringan kelenjar yang terlihat persis di inferior dari kandung kencing. Prostat normal beratnya + 20 gr, didalamnya berjalan uretra posterior + 2,5 cm.
      Pada bagian anterior difiksasi oleh ligamentum puboprostatikum dan sebelah inferior oleh diafragma urogenitale. Pada prostat bagian posterior bermuara duktus ejakulatoris yang berjalan miring dan berakhir pada verumontanum pada dasar uretra prostatika tepat proksimal dari spingter uretra eksterna.
b.Patofisiologi
      Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadinya pembesaran prostat, resistensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot destrusor menebal dan merenggang sehingga timbul sakulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka destrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.
c. Etiologi
      Penyebab secara pasti belum diketahui, namun terdapat faktor resiko umur dan hormon androgen (Anonim,FK UI,1995). Pada umur diatas 50 tahun, pada orang laki-laki akan timbul mikronodule dari kelenjar prostatnya.
d. Gambaran klinis
      Gejala-gejala pembesaran prostat jinak dikenal sebagai Lower Urinary Tract Symptoms (LUTS),yang dibedakan menjadi:
1). Gejala iritatif, yaitu sering miksi (frekuensi), terbangun pada malam hari untuk miksi (nokturia),perasaan ingin miksi yang sangat mendesak (urgensi),dan nyeri pada saat miksi (disuria).
2). Gejala obstruktif adalah pancaran melemah, rasa tidak puas setelah miksi, kalau mau miksi harus menunggu lama, harus mengedan,kencing terputus-putus,dan waktu miksi memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan inkontinen karena overflow. (Anonim,FK UI,1995).
e. Pemeriksaan penunjang
1).Pemeriksaan laboratorium
Analisis urin dan pemeriksaan mikroskopik urin, elektrolit, kadar ureum kreatinin. Bila perlu Prostate Spesific Antigen (PSA), untuk dasar penentuan biopsi.
2).Pemeriksaan radiologis
Foto polos abdomen, USG, BNO-IVP, Systocopy, dan Cystografi.
f. Penatalaksanaan
1)      Terapi medikamentosa
a)      Penghambat andrenergik a, misalnya prazosin, doxazosin, alfluzosin atau a 1a (tamsulosin).
b)      Penghambat enzim 5-a-reduktase, misalnya finasteride (Poscar)
c)      Fitoterapi, misalnya eviprostat

2)      Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya gejala dan komplikasi. Indikasi terapi bedah yaitu :
a)      Retensio urin berulang
b)     Hematuria
c)      Tanda penurunan fungsi ginjal
d)     Infeksi saluran kencing berulang
e)      Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel,hidroureter, dan hidronefrosis.
f)      Ada batu saluran kemih.

2. Gambaran Umum TURP

     TURP adalah suatu operasi pengangkatan jaringan prostat lewat uretra menggunakan resektroskop, dimana resektroskop merupakan endoskop dengan tabung 10-3-F untuk pembedahan uretra yang dilengkapi dengan alat pemotong dan counter yang disambungkan dengan arus listrik. Tindakan ini memerlukan pembiusan umum maupun spinal dan merupakan tindakan invasive yang masih dianggap aman dan tingkat morbiditas minimal.
     TURP merupakan operasi tertutup tanpa insisi serta tidak mempunyai efek merugikan terhadap potensi kesembuhan. Operasi ini dilakukan pada prostat yang mengalami pembesaran antara 30-60 gram, kemudian dilakukan reseksi. Cairan irigasi digunakan secara terus-menerus dengan cairan isotonis selama prosedur. Setelah dilakukan reseksi, penyembuhan terjadi dengan granulasi dan reepitelisasi uretra pars prostatika  (Anonim,FK UI,1995).
     Setelah dilakukan TURP, dipasang kateter Foley tiga saluran no. 24 yang dilengkapi balon 30 ml, untuk memperlancar pembuangan gumpalan darah dari kandung kemih. Irigasi kanding kemih yang konstan dilakukan setelah 24 jam bila tidak keluar bekuan darah lagi. Kemudian kateter dibilas tiap 4 jam sampai cairan jernih. Kateter dingkat setelah 3-5 hari setelah operasi dan pasien harus sudah dapat berkemih dengan lancar.
                    TURP masih merupakan standar emas. Indikasi TURP ialah gejala-gejala dari sedang sampai berat, volume prostat kurang dari 60 gram dan pasien cukup sehat untuk menjalani operasi. Komplikasi TURP jangka pendek adalah perdarahan, infeksi, hiponatremia atau retensio oleh karena bekuan darah. Sedangkan komplikasi jangka panjang adalah striktura uretra, ejakulasi retrograd (50-90%), impotensi (4-40%). Karena pembedahan tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini akan timbul kembali 8-10 tahun kemudian.

3. Diagnosa keperawatan NANDA

   a.Definisi
     Istilah diagnosa keperawatan digunakan sebagai verba dan nomina. Sebagai verba merupakan proses mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pasien yang spesifik digunakan dengan beberapa perawat sebagai tahapan kedua dari proses keperawatn. Sebagai nomina dalam kaitan dengan karya NANDA, yaitu sebuah label yang disetujui oleh NANDA yang mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pasien yang spesifik. Merupakan alat untuk menggambarkan masalah kesehatan yang dapat ditangani oleh perawat berupa masalah fisik,sosiologis dan psikologis.
     Menurut NANDA definisi diagnosa keperawatan adalah penilaian klinik mengenai respon individu,keluarga dan komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual dan potensial (hasil konferensi NANDA ke 9 tahun 1990). Diagnosa keperawatan mengatakan bagaimana keadaan pasien saat ini dan mencerminkan perubahan-perubahan pada kondisi pasien.
   b. Keuntungan penggunaan label diagnosa dan asuhan keperawatan
     Meskipun belum komprehensif, daftar label diagnosa keperawatan dari NANDA saat ini menentukan atau menyaring aktivitas keperawatan professional. Menurut Doengoes (2000) keuntungan penggunaan label diagnosa keperawatan adalah :
1)          Memberikan bahasa yang umum bagi perawat, meningkatkan komunikasi yang lebih baik diantara perawat, antara shif dan unit, penyedia perawatan kesehatan lain dan lingkungan perawatan yang berbeda-beda.
2)          Meningkatkan identifikasi tujuan yang tepat, membantu dalam memilih intervensi keperawatan kesehatan yang benar untuk mengatasi masalah atau kebutuhan yang telah diidentifikasi dan memberikan pedoman untuk evaluasi.
3)          Memberikan informasi yang tajam, mengurutkan sejumlah pekerjaan yang memerlukan asuhan keperawatan dan dapat berfungsi sebagai dasar untuk system klasifikasi pasien, menentukan kebutuhan staf dan sebagai dokumentasi untuk memberikan justifikasi untuk pembayaran.
4)          Dapat menciptakan standar untuk praktik keperawatan, memberikan pondasi untuk program jaminan kualitas, alat untuk mengevaluasi praktik keperawatan, dan suatu mekanisme untuk menghitung biaya asuhan keperawatan yang diberikan.
5)          Memberi dasar peningkatan kualitas, para klinisi, administrator, pendidik, dan para peneliti dapat mencatat, memvalidasi atau mengubah proses pemberian perawatan yang kemudian akan memajukan profesi keperawatan.
   c. Tipe diagnosa keperawatan.
Ada tiga tipe diagnosa keperawatan NANDA yaitu:
1)          Diagnosa keperawatan aktual yaitu respon manusia saat ini terhadap kondisi kesehatan atau proses kehidupan yang didukung oleh sekelompok batasan karakteristik (tanda dan gejala) dan termasuk faktor yang berhubungan  (etiologi) yang menpunyai kontribusi terhadap perkembangan atau pemliharaan kesehatan.
2)          Diagnosa keperawatan Resiko, yaitu menunjukkan respon manusia yang dapat timbul pada seseorang atau kelompok yang rentan dan ditunjang dengan faktor resiko yang memberi kontribusi pada peningkatan kerentanan.
3)          Diagnosa keperawatan Kesejahteraan yaitu menguraikan respon manusia terhadap tingkat kesehatan individu atau kelompok yang mempunyai potensi peningkatan derajat kesehatan lebih tinggi.


   d. Komponen pernyataan diagnosa keperawatan
       Menurut NANDA tahun 2001, komponen diagnosa     adalah :
1)          Problem (masalah atau kebutuhan) adalah nama atau label diagnosa diidentifikasi dari daftar NANDA.
2)          Faktor resiko/ faktor yang berhubungan adalah penyebab atau alasan yang dicurigai dari respon yang telah diidentifikasi dari pengkajian.
3)          Definisi karakteristik (tanda dan gejala) yaitu manifestasi yang diidentifikasi dalam pengkajian yang menyokong diagnosa keperawatan.

4. NOC ( Nursing Outcome Classifikation )

     Nursing Outcome Classifikation (NOC) menggambarkan respon pasien terhadap tindakan keperawatan. NOC mengevaluasi hasil pelayanan keperawatan sebagai bagian dari pelayanan kesehatan. Standar kriteria hasil pasien sebagai dasar untuk menjamin keperawatan sebagai partisipan penuh dalam evaluasi klinik bersama dengan disiplin ilmu kesehatan lain.
      Klasifikasi berisi 190 kriteria hasil yang diberi label, definisi dan indikator atau ukuran untuk menentukan kriteria hasil yang diterima.NOC dilengkapi dengan indikator yang dapat diukur dan diobservasi dalam bentuk skala 1-5 (1 kondisi pasien yang sedikit diinginkan dan 5 keadaan yang paling banyak diinginkan). NOC mempunyai 7 domain yaitu; fungsi kesehatan, fisiologi kesehatan, kesehatan psikososial, pengetahuan dan perilaku kesehatan, persepsi kesehatan, kesehatan keluarga, dan kesehatan masyarakat.
Manfaat standarisasi bahasa NOC dalam       keperawatan menurut www.nursing.uiowa :
a.           Memberikan label-label dan ukuran-ukuran untuk kriteria hasil yang komprehensif, sebagai hasil dari intervensi keperawatan.
b.          Mendefinisikan kriteria hasil yang berfokus pada pasien dan dapat dipergunakan perawat-perawat dan disiplin ilmu yang lain.
c.           Memberikan informasi kriteria hasil yang lebih spesifik dari status kesehatan yang umum. Ini memberikan secara langsung untuk mengidentifikasi masalah ketika ukuran status keshatan umum diluar rentang yang dapat diterima.
d.          Memberikan kriteria hasil yang cepat penerimaan sepanjang rentang kriteria hasil yang diinginkan.
e.           Menggunakan skala untuk mengukur kriteria hasil yang memberikan informasi kuantitatif tentang kriteria hasil pasien yang diterima dalam organisasi atau sistem manajemen.
f.           Memfasilitasi identifikasi pernyataan faktor resiko untuk kelompok populasi. Ini merupakan langkah yang dibutuhkan dalam pengkajian variasi kriteria hasil.

5. NIC ( Nursing Intervention Classification )

      NIC adalah standar klasifikasi pertama yang komprehensif tentang kegiatan perawat. Klasifikasi meliputi intervensi yang dilakukan terhadap pasien baik tindakan mandiri maupun tindakan kolaboratif, juga tindakan langsung maupun tidak langsung. NIC digunakan perawat pada semua spesialis dan semua area keperawatan (Mc.Closkey,Bulecheck,1996).
     Intervensi dalam NIC meliputi fisiologi (manajemen asam basa, suctioning, perawatan dekubitus) dan psikososial (mengurangi kecemasan). Intervensi juga meliputi perawatan penyakit (manajemen hiperglikemi,perawatan ostomy, manajemen shock), pencegahan penyakit (mencegah jatuh, melindungi dari infeksi, pemberian imunisasi), peningkatan kesehatan (peningkatan aktivitas, manajemen nutrisi).
     Sebagian besar intervensi untuk individu, tetapi ada juga yang untuk keluarga (dukungan keluarga, peningkatan keutuhan keluarga) dan ada juga untuk komunitas  (pendidikan kesehatan, managemen lingkungan, masyarakat). Intervensi perawatan tidak langsung (manajemen supply) ada juga.
Adapun Keuntungan NIC menurut McCloskey dan Bulecheck (1996):
a.           Membantu menunjukkan aksi perawat dalam sistem pelayanan kesehatan.
b.          Menstadarisasikan dan mendefinisikan dasar pengetahuan untuk kurikulum dan praktik keperawatan.
c.           Memudahkan memilih intervensi keperawatan yang tepat.
d.          Memudahkan komunikasi tentang perawatan pada perawat lain dan penyedia pelayanan kesehatan lain.
e.           Memperbolehkan peneliti untuk menguji keefektifan dan biaya perawatan.
f.           Membantu pendidik untuk mengembangkan kurikulum yang lebih baik dengan praktik klinik.
g.           Memudahkan pengajaran pengambilan keputusan klinis bagi perawat baru.
h.          Membantu tenaga administrasi dalam merencanakan staf dan peralatan yang dibutuhkan lebih efektif.
i.            Meningkatkan perkembangan siatem reimbursement untuk pelayanan perawatan.
j.            Memudahkan pengembangan dan penggunaan sistem informasi perawatan.
k.          Mengkomunikasikan kealamiahan perawat kepada publik.
Kelebihan yang dimiliki NIC antara lain:
a.           Komprehensif.
b.          Berdasarkan riset.
c.           Dikembangkan lebih didasarkan pada praktik yang ada.
d.          Merefleksikan pada praktik klinik dan penelitian saat ini.
e.           Mempunyai kemudahan untuk menggunakan struktur organisasi (Domain, Kelas, Intervensi, Aktivitas).
f.           Menggunakan bahasa yang jelas dan penuh arti klinik.
g.           Dikembangkan oleh tim riset yang besar dan bermacam-macam tim.
h.          Menjadi dasar pengujian.
i.            Dapat diakses melalui beberapa publikasi.
j.            Dapat dihubungkan dengan diagnosa NANDA.
k.          Dapat dikembangkan bersama NOC.
l.            Dapat diakui dan diterima secara nasional.




6. Diagnosa NANDA, NOC dan NIC pada pasien BPH post operasi TURP
a.      Diagnosa menurut NANDA
   Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien BPH post operasi TURP dengan menggunakan diagnosa NANDA antara lain adalah:
1)       Nyeri akut  berhubungan dengan kerusakan jaringan
2)       Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer yang tidak adekuat.
3)       Cemas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
4)       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pemahaman tentang proses penyakit.  
  b. NIC ( Nursing Intervention Classification )
1)        Nyeri akut berhubungan dengan kerusakan jaringan
a) NOC yang diharapkan muncul  :
1)      Tingkat nyeri
Definisi: menunjukkan / melaporkan kehebatan nyeri

2)      Nyeri terkontrol
Definisi: tindakan personel untuk mengontrol nyeri
            3) Tingkat kenyamanan
Definisi : perasaan pada fisik dan psikologi yang tenang
   Indikator :
1)      Gunakan skala nyeri untuk mengidentifikasi tingkat nyeri, intensitas nyeri dan menentukan tingkat kenyamanan.
2)      Menggambarkan manajemen nyeri yang terus-menerus.
3)      Melakukan pemulihan aktivitas dengan mencatat tingkat penerimaan nyeri.
4)      Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan istirahat dan tidur.
5)      Membuat metode non pharmakologi yang dapat digunakan untuk mengontrol nyeri.





b)      NIC yang diterapakan adalah:
(1)    Manajemen nyeri
     Aktivitas :
(a)         Kaji keluhan nyeri, lokasi, karakteristik, onset/durasi, frekuensi, kualitas, dan beratnya nyeri.
(b)        Observasi respon ketidaknyamanan secara verbal dan non verbal.
(c)         Pastikan pasien menerima perawatan analgetik dengan tepat.
(d)        Gunakan strategi komunikasi yang efektif untuk mengetahui respon penerimaan pasien terhadap nyeri.
(e)         Evaluasi keefektifan penggunaan kontrol nyeri
(f)         Monitoring perubahan nyeri baik aktual maupun potensial.
(g)         Sediakan lingkungan yang nyaman.
(h)        Kurangi faktor-faktor yang dapat menambah ungkapan nyeri.
(i)          Ajarkan penggunaan tehnik relaksasi sebelum atau sesudah nyeri berlangsung .
(j)          Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk memilih tindakan selain obat untuk meringankan nyeri.
(k)        Tingkatkan istirahat yang adekuat untuk meringankan nyeri.
(2)          Manajemen pengobatan
Aktivitas :
(a)        Tentukan obat yang dibutuhkan pasien dan cara mengelola sesuai dengan anjuran/ dosis.
(b)       Pasien mampu mengelola obat sendiri.
(c)        Monitor efek teraupetik dari pengobatan.
(d)       Monitor tanda dan gejala serta efek samping dari obat.
(e)        Monitor interaksi obat.
(f)        Ajarkan pasien dan keluarga cara mengelola pengobatan yang tepat.
(g)        Ajarkan pada pasien dan keluarga cara mengatasi efek samping pengobatan.
(h)       Jelaskan manfaat pengobatan yang dapat mempengaruhi gaya hidup pasien.



(3)            Pengelolaan analgetik
Aktifitas :
(a)        Periksa perintah medis tentang obat, dosis dan frekuensi obat analgetik.
(b)       Periksa riwayat alergi pasien.
(c)        Pilih obat berdasarkan tipe dan beratnya nyeri.
(d)       Pilih cara pemberian IV atau IM untuk pengobatan, jika mungkin.
(e)        Monitor vital sign sebelum dan sesudah pemberian analgetik.
(f)        Kelola jadwal pemberian analgetik yang sesuai.
(g)        Evaluasi efektifitas dosis analgetik dan observasi tanda dan gejala dari efek samping, misal depresi pernafasan, mual dan muntah, mulut kering, dan konstipasi.
(h)       Kolaborasi dengan dokter untuk obat, dosis dan cara pemberian yang diindikasikan.



2)      Resiko infeksi berhubungan dengan pertahanan primer yang tidak adekuat.
a)      NOC : penyembuhan luka
      Indikator :
(1)           Tidak ada gejala infeksi
(2)           Pasien mengetahui gejala infeksi.
(3)           Pasien dapat menunjukkan tempat dan cara perawatan infeksi.
(4)           Angka leukosit terpantau dalam batas normal.
NIC yang diterapkan adalah :
(1)               Perawatan daerah operasi
Aktivitas :
(a) Jelaskan pada pasien tentang prosedur sebelum dilakukan tindakan perawatan.
(b)Periksa lokasi pembedahan, adakah kemerahan, bengkak/ tanda dehiscence.
(c) Catat karakteristik dari drain.
(d)Bersihkan area sekitar insisi dan drain.
(e) Gunakan peralatan yang steril untuk membersihkan luka.
(f) Monitor luka dari tanda dan gejala infeksi.
(g) Pertahankan posisi dari drain.
(h)Pakai salep antiseptik sesuai perintah.
(2)      Perawatan luka
Aktivitas :
(a)         Buka perban / penutup luka.
(b)        Periksa luka tiap kali mengganti balutan.
(c)         Kalau perlu cukur rambut sekitar luka.
(d)        Sediakan ruangan untuk merawat luka.
(e)         Massage daerah sekitar luka untuk stimulasi sirkulasi.
(f)         Gunakan perban yang sesuai.
(g)         Catat perubahan yang terjadi pada luka.
(h)        Ajarkan pasien dan keluarga prosedur perawatan luka.
b)     NOC :Status infeksi
Definisi: keberadaan dan tingkatan dari infeksi.
      NIC yang diterapkan adalah :
(1)      Kontrol infeksi
Aktivitas :
(a)         Bersihkan lingkungan sebelum digunakan pasien.
(b)        Ganti perlengkapan setiap kali merawat pasien.
(c)         Kelola tehnik isolasi yang tepat.
(d)        Batasi jumlah pengunjung.
(e)         Gunakan sabun antibakteri untuk mencuci tangan.
(f)         Cuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan.
(g)         Tingkatkan intake nutrisi yang tepat.
(h)        Anjurkan intake cairan yang adekuat.
(i)          Anjurkan pasien untuk istirahat yang cukup.
(j)          Kelola terapi antibiotik.
(k)        Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala infeksi dan melaporkan pada petugas kesehatan.
(l)          Ajarkan pada pasien dan keluarga bagaimana menghindari infeksi.
(2)      Perawatan selang urin
(a)          Pertahankan system saluran urin secara tertutup.
(b)          Pertahankan kepatenan saluran kateter urin.
(c)          Irigasi sistem kateter urin menggunakan tehnik steril yang diajurkan.
(d)          Bersihkan kulit sekitar area genital pada waktu tertentu.
(e)          Ganti kateter urin pada periode waktu tertentu.
(f)           Catat karakteristik saluran urin
(g)          Posisikan pasien dan saluran urin untuk  meningkatkan pengeluaran cairan
(h)          Kosongkan saluran urin pada waktu tertentu
(i)            Sambungkan urin bag didekat tempat tidur pasien.
(j)            Periksa urin bag dari penyempitan pada waktu tertentu.
(k)          Pertahankan perawatan kulit pada pasien dengan urin bag dengan hati-hati.
(l)            Kosongkan urin bag tiap hari.
(m)        Monitoring dari penekanan kandung kencing.

3)       Cemas berhubungan dengan  perubahan status kesehatan
a)  NOC : kontrol kecemasan
   Definisi:tindakan ersonal untuk menghilangkan atau mengurangi perasaan ketakutan dan ketegangan dari sumber yang tidak dikenali.
Indikator :
(1)        Secara verbal dapat menunjukkan cara mengontrol cemas
(2)        Tanda-tanda vital normal
(3)        Sikap tubuh, ekspresi wajah dan tingkat aktivitas normal.
(4)        Pasien dapat mengungkapkan kembali ketrampilan dalam pemecahan masalah.
      NIC yang diterapkan adalah :
(1)          Pengurangan kecemasan
Aktivitas :
(a)         Gunakan pendekatan dengan ketenangan dan ketentraman.
(b)        Jelaskan tingkah laku yang di harapkan.
(c)         Jelaskan semua prosedur, pengalaman yang mungkin dapat di masukkan dalam prosedur.
(d)        Anjurkan pasien untuk mengerti situasi yang terjadi.
(e)         Sediakan informasi yang mudah dimengerti tentang diagnosa, tindakan dan prognosis.
(f)         Anjurkan aktivitas yang biasa.
(g)         Jaga tindakan yang diluar kemampuan pasien.
(h)        Dengarkan dengan penuh perhatian.
(i)          Beri pujian pada tingkah laku yang positif.
(j)          Ciptakan lingkungan yang penuh kenyamanan.
(k)        Anjurkan pasien untuk mengungkapkan secara verbal rasa takutnya.
(l)          Identifikasi tingkat perubahan kecemasan.
(m)      Support pasien dalam menggunakan mekanisme pertahanan.
(n)        Kaji kemampuan pasien dalam mengambil tindakan.
(o)        Anjurkan pasien untuk menggunakan tehnik relaksasi.
(p)        Kelola pengobatan untuk menurunkan kecemasan.

4)       Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan pamahaman tentang proses penyakit.
a)          NOC : mengetahui tentang proses penyakit
Definisi:tingkat penyampaian pemahaman tentang proses penyakit secara khusus.
Indikator :
(1)        Menjelaskan keadaan penyakit, mengetahui pengobatan yang dibutuhkan, mengerti tindakan.
(2)        Menjelaskan bagaimana melaksanakan gaya hidup yang sehat.
(3)        Mampu berperilaku sehat.
(4)        Support untuk suatu perubahan.

       NIC yang diterapkan adalah :
(1)            Mengajarkan proses penyakit.
(a)         Kaji tingkat pengetahuan dalam menilai proses penyakit
(b)        Berikan penjelasan pada pasien tentang penyakitnya.
(c)         Terangkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit tersebut.
(d)        Sediakan informasi tentang kondisi pasien.
(e)         Hindari harapan yang kosong.
(f)         Diskusikan tentang perubahan gaya hidup sehingga dapat mencegah komplikasi dan dapat mengontrol proses penyakit.
(g)         Diskusikan tentang tindakan yang dipilih.
b)     NOC : mengetahui cara perawatan
Definisi : tingkat penyampaian pemahaman tentang cara perawatan secara khusus.
       NIC yang diterapkan adalah :
(1)            Mengajarkan prosedur perawatan
Aktivitas :
(a)         Beritahu pasien dan keluarga tentang kapan dan dimana prosedur/ tindakan akan dilakukan.
(b)        Beritahu pasien dan keluarga tentang berapa lama prosedur/ tindakan dilakukan.
(c)         Beritahu pasien dan keluarga tentang siapa yang akan melakukan prosedur.
(d)        Jelaskan tentang tujuan dilakukan tindakan.
(e)         Beri gambaran aktivitas sebelum prosedur/ tindakan.
(f)         Anjurkan pasien untuk bekerjasama dalam prosedur/ tindakan.
(g)         Perkenalkan tim yang terlibat dalam prosedur/ tindakan.
(h)        Sediakan waktu untuk pasien bertanya.
(i)          Libatkan keluarga dalam perawatan.












B. LANDASAN TEORI
 











                                                                                                             
Gambar 2.1. Landasan teori










C. KERANGKA PENELITIAN

          : Diteliti

          : Tidak diteliti

Gambar 2.2. Kerangka konsep penelitian

D. PERTANYAAN PENELITIAN

       1.       Seberapa besar diagnosa yang sesuai dengan diagnosa NANDA pada pasien BPH post operasi TURP ?
       2.       Seberapa besar tujuan dan kriteria hasil yang sesuai dengan NOC pada pasien BPH post operasi TURP?
       3.       Seberapa besar implementasi yang dilakukan sesuai dengan NIC pada pasien BPH post operasi TURP ?

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.