Langsung ke konten utama

BAB I KTI Irfan



BAB I
DASAR TEORI

A.    Latar Belakang
Dispepsia merupakan salah satu masalah kesehatan yang sering ditemui dokter dalam praktek sehari-hari. Diperkirakan hampir 30% kasus yang dijumpai pada praktek umum dan 60% pada praktek gastroenterologi merupakan dispepsia.2 Prevalens terjadinya dispepsia di Amerika Serikat tahun 1994 mencapai 26% sedangkan di Inggris 41%.3 Di Inggris dan Skandinavia pada tahun 1999 dilaporkan angka prevalensi dispepsia berkisar 7 – 41%.4 Di Indonesia pada tahun 1998 proporsi dispepsia pada klinik kesehatan sehari-hari 20%.5
Dispepsia merupakan sekumpulan gejala seperti rasa panas di ulu hati, perih, mual dan kembung. Penyebab dispepsia bermacam-macam diantaranya tukak lambung yang disebabkan oleh obat NSAIDs (Non Steroidal Anti Inflammatory Drugs), infeksi dan alkohol.6
Salah satu infectious agent dispepsia adalah Helicobacter pylori. Penelitian Hegar di Indonesia tahun 1998 berdasarkan pemeriksaan serologi pada anak SD ditemukan prevalensnya 13,5% - 26,8%.7 Penelitian yang dilakukan Kandera tahun 1994, berdasarkan metode wawancara dan pemeriksaan anti Helicobacter pylori pada murid SD 17 Dauh Putri Kedoya Denpasar, mendapatkan proporsi responden positif anti Helicobacter pylori 35,3%. Djelantik, dkk tahun 2001 melaporkan bahwa 28% anak yang di rawat di ruang anak RSU Mataram memiliki anti Helicobacter pylori positif. Keluhan yang paling sering ditemukan pada anak yang terkena infeksi Helicobacter pylori adalah nyeri epigastrium, nyeri tekan pada epigastrium, nyeri periumbikal dan muntah berat.8
Berdasarkan survei oleh Kaunang pada tahun 1998 dari seluruh dunia, infeksi Helicobacter pylori pada umumnya lebih banyak terjadi di negara berkembang, lebih dari setengah penduduknya yang terinfeksi adalah umur dibawah 10 tahun dan pada usia muda prevalensi sekitar 80%. Sedangkan di negara maju infeksi Helicobacter pylori pada anak-anak Sekolah Dasar (SD) prevalensinya 10%.7,8 Di Nakuru, Kenya tahun 2003 ditemukan proporsi penderita dispepsia organik yang terinfeksi Helicobacter pylori 68% pada usia 31 – 40 tahun.4
Berdasarkan gambaran morbiditas 10 penyakit terbesar pada pasien rawat jalan di seluruh rumah sakit di Indonesia tahun 2003, dispepsia menempati peringkat ke 10 dengan proporsi 1,5%.9 Penelitian yang dilakukan oleh Rani, dkk yaitu melalui survei rumah sakit Indonesia tahun 2001 yang meliputi 7.092 pasien, diketahui proporsi dispepsia fungsional proporsinya 86,41%. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2001, ditemukan 44 penderita dispepsia dan proporsi penderita dispepsia organik 15%. Penelitian yang dilakukan oleh Syam di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo tahun 2003 dengan mengggunakan endoskopi, proporsi dispepsia organik 10%.3
Studi pendahuluan di RSU Sundari Medan ditemukan pada periode tahun 2004 -2008 proporsi penderita dispepsia mengalami peningkatan setiap tahunnya. Dari seluruh pasien rawat inap pada tahun 2004 proporsi penderita dispepsia rawat inap 2,6% (116 orang), tahun 2005 sebesar 4,0% (123 orang), tahun 2006 sebesar 4,8% (140 orang), tahun 2007 sebesar 6,1% (220 orang) dan tahun 2008 sebesar 9,0% (342 orang). Uraian latar belakang di atas tersebut memberikan gambaran bahwa terjadi peningkatan penyakit dispepsia. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian tentang karakteristik pasien dispepsia yang rawat inap di RSU Sundari Medan Tahun 2008.
Dispepsia merupakan kumpulan keluhan/gejala klinis yang terdiri dari rasa tidak enak/sakit di perut bagian atas yang menetap atau mengalami kekambuhan keluhan refluks gastroesofagus klasik berupa rasa panas di dada (heartburn). Hal ini terjadi sangat umum dan kasus ini terjadi pada lebih dari seperempat populasi, tetapi hanya kurang lebih seperempatnya berkonsultasi ke dokter. Dalam suatu penelitian mengenai dispepsia kronis yang belum diketahui penyebabnya dengan bantuan endoskopi, ternyata sebagian besar adalah dan regurgitasi asam lambung kini tidak lagi termasuk dispepsia (Mansjoer A edisi III, 2000 hal : 488). Batasan dispepsia terbagi atas dua yaitu:
1.      Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik sebagai penyebabnya
2.      Dispepsia non organik, atau dispepsia fungsional, atau dispepsia non ulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. (7,9 ). Sejak dulu DNU sering dihubungkan dengan psikosomatis terutama apabila gejala tersebut berhubungan dengan kecemasan, kelelahan, depresi atau stres emosional sehingga disebut dengan Dispepsia Fungsional. (3). Pengetahuan baru mengenai peranan Helicobacter Pylori (HP) dalam patogenesis penyakit ulkus peptikum telah mendorong evaluasi kembali pendekatan klinik yang optimal terhadap DNU.(9)
Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik memberikan Asuhan Keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Uulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
B.     Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas, maka rumusan masalah pada Karya Tulis Ilmiah ini adalah “Bagaimana Pelaksanaan Asuhan Keperawatan Pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta”, dengan sub rumusan masalah :
1.      Bagaimana melaksanakan pengkajian keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr.Sardjito Yogyakarta ?
2.      Bagaimana merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
3.      Bagaimana merencanakan tindakan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
4.      Bagaimana melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
5.      Bagaimana melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
6.      Bagaimana mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
7.      Bagaimana mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta ?
C.     Tujuan Penulisan
Pembuatan Karya Tulis Ilmiah ini mempunyai tujuan :
1.      Tujuan Umum
Penulis mendapat pengalaman nyata dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
2.      Tujuan Khusus
Penulis mendapatkan pengalaman nyata dalam :
a.       Melaksanakan pengkajian pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
b.      Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
c.       Merencanakan tindakan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
d.      Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
e.       Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
f.       Mendokumentasikan asuhan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
g.      Mengidentifikasi faktor pendukung dan faktor penghambat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien Ny “S” dengan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
D.    Manfaat
Penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini, diharapkan dapat bermanfaat bagi semua pihak yaitu :
1.      Penulis
a.       Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan dalam menerapkan proses keperawatan dan memafaatkan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama menempuh pendidikan di Akademi Keperawatan “YKY” Yogyakarta terutama dalam menerapkan asuhan keperawatan dengan  Dispepsia Tipe Ulkus Institusi Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta.
b.      Diharapkan dapat sebagai tambahan pengetahuan dan tambahan referensi khususnya tentang kasus asuhan keperawatan Dispepsia Tipe Ulkus di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
2.      Institusi Pendidikan Akademi Keperawatan “YKY” Yogyakarta
Diharapkan dapat dijadikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagaimana asuhan keperawatan dengan Dispepsia Tipe Ulkus khususnya bagi pembaca di perpustakaan Akademi Keperawatan “YKY” Yogyakarta.
3.      Profesi Keperawatan
Diharapkan dapat menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana asuhan keperawatan dengan Dispepsia Tipe Ulkus.
E.     Ruang Lingkup
Laporan asuhan keperawatan pada klien Dispepsia Tipe Ulkus termasuk  mata ajaran Keperawatan Medikal Bedah, dengan waktu pelaksanaan 3x24 jam dimulai dari tanggal 08 Mei 2012 pukul 07.30 WIB sampai 10 Mei 2012 pukul 21.00 WIB  di Ruang Bougenville 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta.
F.      Metode Pengumpulan Data
Dalam pelaksanaannya menggunakan metode pendekatan proses keperawatan yang meliputi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan tindakan keperawatan, pelaksanaan tindakan keperawatan, sampai dengan evaluasi tindakan keperawatan. Dari kelima proses tersebut masing-masing proses selalu diikuti dengan pendokumentasian. Metode penulisan Karya Tulis Ilmiah ini adalah metode deskriptif yang menggambarkan suatu masalah dan cara menyelesaikan masalah dalam bentuk asuhan keperawatan dengan mengguanakan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, analisa data, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pendokumentasian. Serta melaksanakan penyelesaian masalah pada Dispepsia Tipe Ulkus. Di dalam pengumpulan data, penulis menggunakan 2 metode pengumpulan data sebagai berikut :
1.       Sumber Data Primer
Adalah data yang diperoleh secara langsung dari klien dan keluarga.Untuk pen      gumpulan data primer dapat menggunakan teknik :
a.       Wawancara
Metode ini ditujukan kepeda klien untuk memperoleh informasi tentang identitas, riwayat kesehatan, serta kebiasaan klien, serta untuk menjalin hubungan terapeutik antara perawat, klien, dan keluarga klien. Data ini termasuk dalam data subyektif.
b.      Observasi
Adalah metode yang digunakan dengan cara pengumpulan informasi melalui indra penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan dan alat perasa. Data yang dikumpulkan harus obyektif agar dapat dimengerti dan digunakan oleh orang lain.
c.       Pemeriksaan Fisik
Metode ini dilakukan untuk mengetahui keadaan umum klien dan kondisi fisik klien dengan cara melakukan pemeriksaan secara langsung kepada klien. Tindakan yang dilakukan yaitu inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi. Pada klien dengan Dispepsia Tipe Ulkus ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan  yakni :
                        Inspeksi           : -
                        Palpasi             : -
2.      Sumber Data Sekunder
Adalah data yang diperoleh dari pihak lain, yaitu meliputi :
a.       Studi dokumentasi
Metode ini dilakukan untuk memperoleh data tentang riwayat penyakit klien, perkembangan kesehatan klien, program pengobatan, hasil pemeriksaan kesehatan penunjang selama dirawat dan pengobatan serta perawatan selanjutnya yang  akan dilakukan.
b.      Studi kepustakaan
Metode ini diperoleh dari catatan-catatan atau buku-buku yang berhubungan dengan penyakit dan perawatannya yang digunakan sesuai dengan landasan teori.
G.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dalam Karya Tulis Ilmiah ini dibagi dalam 5 BAB. Menurut isi yang terkandungan di dalamnya adalah :
BAB I       : PENDAHULUAN, terbagi atas :
Latar belakang masalah, rumusan masalah, ruang lingkup, tujuan penulisan, manfaat, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II      : TINJAUAN PUSTAKA, terbagi atas :
Berisi tentang gambaran umum mengenai Dispesia Tipe Ulkus di Ruang Bougenvil 4 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta
BAB III    : TINJAUAN KASUS, terbagi atas :
Pengkajian, analisa data, diagnosa keperawatan, rencana tindakan, pelaksanaan, evaluasi hasil tindakan, dan melakukan pendokumentasian tindakan keperawatan dengan metode SOAPIE.
BAB IV    : PEMBAHASAN KASUS, berisi tentang :
Membandingkan dan membahas antara teori yang ada di BAB II dengan kasus yang terjadi di BAB III serta mengidentifikasi faktor penghambat dan faktor pendukung yang ada.
BAB V      : PENUTUP, berisi tentang :
      BAB terakhir yang berisi kesimpulan dan saran dari karya tulis   ini. Kesimpulan merupakan pernyataan singkat dan tepat yang dijabarkan dari pelaksanaan asuhan keperawatan dan pembahasan. Saran merupakan alternatif penyelesaian masalah yang realistis dan operasional.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




Postingan populer dari blog ini

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu )

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SOP Pengukuran Tanda Vital ( Pernafasan, Nadi, Tekanan Darah Dan Suhu ) Pengertian : 1.Pernafasan menghitung jumlah pernafasan ( inspirasi yang diikuti ekspresi selaman 1 menit. 2.Nadi menghitung frekuensi denyut nadi ( loncatan aliran darah yang dapt teraba yang terdapat di berbagai titik anggota tubuh melalui perabaan pada nadi, yang lazim diperiksa atau diraba pada radialis. 3.Tekanan darah melakukan pengukuran tekanan darah ( hasil dari curah jantung dan tekanan darah perifer )mdengan menggunakan spygnomanometer dan sttoskop. 4.Suhu mengukur suhu tubuh dengan mengguanakan termometer yang di pasangkan di mulut, aksila dan rektal. Tujuan : 1.Pernafasan a)Mengetahui kesdaan umum pasien b)Mengetahui jumlah dan sifat pernafasan dalam rentan 1 menit c)Mengikuti perkembangan penyakit d)Membantu menegakkan diagnosis
2.Nadi a)Mengetahui denyut nadi selama rentan waktu 1 menit b)Mengetahui keadaan umum pasien c)Mengetahui intgritassistem kardiovaskulr<

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) Teknik Mengatasi Nyeri Atau Relaksasi Nafas Dalam Pengertian : Merupakan metode efektif untuk mengurangi rasa nyeri pada pasien yang mengalami nyeri kronis. Rileks sempurna yang dapat mengurangi ketegangan otot, rasa jenuh, kecemasan sehingga mencegah menghebatnya stimulasi nyeri Ada tiga hal yang utama dalam teknik relaksasi : 1.Posisikan pasien dengan tepat 2.Pikiran beristirahat 3.Lingkungan yang tenang Tujuan : Untuk menggurangi atau menghilangkan rasa nyeri Indikasi : Dilakukan untuk pasien yang mengalami nyeri kronis
Prosedur pelaksanaan : A.Tahap prainteraksi 1.Menbaca status pasien 2.Mencuci tangan 3.Meyiapkan alat
B.Tahap orientasi 1.Memberikan salam teraupetik 2.Validasi kondisi pasien 3.Menjaga perivacy pasien 4.Menjelaskan tujuan dan prosedur yang akan dilakukan kepada pasien dan keluarga