Kamis, 20 November 2014

ANAK BARU. JAWA PULA


Tepat sepuluh tahun yang lalu saya berdiri, berjalan serta belajar di daerah ini, dan pada hari ini saya tepat berjalan serta belajar disini lagi. Seakan tak percaya jika akan hadir serta berada di tempat yang sama ini. Memang benar jika kita tidak merencanakan namun akan datang sesuatu hal yang sama dan pernah kita lakukan dahulu, inilah campaur tangan Allah SWT dan berbeda pula waktunya. Semula kita tak menyangka bahwa inilah yang akan terjadi dan yang terbaik untuk kita.

Ya tepat pada waktu ini magrib berjamaah di Masjid yang sangat besar di Desa Sungai Lumpur, Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir Sumatera Selatan. Tahun 2003-2004 saya menjadi siswa disekolah Madrasah Tsanawiyah Miftahul Ulum Sungai Lumpur. Waktu itu saya kelas delapan, menjadi siswa baru dilingkungan yang baru, karena ada maslah dengan kerabat sehingga saya dipindahkan di MTs ini. Beda cerita ketika berada disekolah lama di Desa Pulo Sari Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur, tepatnya disekolah MTs, 18 RU Pasir sakti. Semula semua siswa tau siapa saya dan asal dari mana, ya jelas mereka tau, saya sebagai ketua OSIS, ketua Peramuka, ketua Olahraga, ketua regu Pramuka. Ah itu masa lalu.

Menjadi siswa baru di tempat yang baru dan dengan adat istiadat serta bahasa yang berbeda menjadikan kita kalut. Kok bisa? Ya bisa bahas yang digunakan di sekolah baru ku MTs. Miftahul Ulum adalah bahasa Melayu Sungai Lumpur dan bahasa Bugis. Tinggal dikawasan yang masyoritas bahasnya lain sangatlah tidak gampang apalagi seperti, saya orang jawa asli. Di sekolah inilah saya banyak mengetaui tentang adat istiadat Melayu dan Bugis dan sangat berbeda bahasa dengan kita orang jawa.

Pas pada waktu masuk sekolah hari pertama saya di sapa kakak kelas yang bernama Kasmir, orangnya ramah putih dan tampan, dia menyapa saya, ‘anak baru ya?’  ‘iya mas anak baru saya” jawab ku. Pindahan dari mana ? dari Lampung Timur. Oh,,, salam kenalya namaku Kasmir, Namamu siapa?’ Namakau Hamim’. (nama panggilan kecil). ‘Ok Hamim, semoga betah ya sekolah ditempat yang sederhana ini.”sambil mengangkukan kepala iya kak”. Setelah itu ada yang menyapa lagi sama dengan yang tadi. namanya Sugiono, orang jawa tapi tidak bisa bahasa jawa. Lucu bukan?!

Satu dua bulan akhirnya betah juga dan mulai bisa berbahasa Melayu dan Bugis walau bahasnya kaku dan sering di ledek sama mereka teman-teman. Tidak ada yang tau siapa dan anak siapa saya ini.

Tepat 6 bulan kemudian saya melakukan ujian semesteran dan Alhamdulilah saya mendapat peringkat yang memuaskan. Alhamdulilah. Tadinya saya tidak punya teman akrab sama sekali, jika berangkat dan pulang sekolah selalu sendiri, ya maklum orang jawa yang sangat lugu. Setelah semesteran berubah darastis satu-persatu banyak yang bermain dan belajar bareng. Keadaan ini saya manfaatkan dengan baik, otomatis jika banyak teman saya lebih mudah untuk bertanya-tanya tentang bahasa dan budaya mereka. Tepat dan sangat cocok sekali.

Tak tersa semesterpun sudah beranjak lagi, Alahmdulilah saya mendapatkan peringkat dan yang ini lebih memuaskan lagi. Alahmdulilah, Tahank you Allah. Kawan serta sahabat pun semakin akrab dan banyak. Seperi biasa tujuan untuk belajar serta mendapatkan kawan baik pun terlaksana, Alhamdulilah. Namun ada bedanya saya dan adik-adik kelas, jika mereka hanya berteman 1 kelompok paling hanya 2-3 orang, lain dengan saya 6 0rang (saya, Samsyul Bahri, Irfan Jaya, Sugiono, Manggala, Edi dan Abdurahman). Kami sangat kompak baik dalam hal belajar main sampai-sampai bolos Sekolah, hanya untuk berenang di sungai. Dari kekompakan ini akhirnya seluruh remaja-remaja yang ada di Sungai Lumpur mulai tau dan mengenal saya, dan teman-teman. Hampir setiap hari kami ngumpul bareng, makan bareng tidur bareng. Sampi-sampai kami sering keluar malam, hanya sekedar main gitar diatas kapal hingga larut malam, harus berjalan 1, 5 jam kerumah teman. Segalanya asik dan baik-baik saja.

Sayapun dipercaya untuk menjadi ketua Pramuka dan ketua regu. Setelah beberapa kali bertemuan dan melatih Peramuka adik-adik kelas dan teman-teman sekelas. Nah dari sini saya mualai dimusuhi oleh seorang teman saya sendiri dan adik kelas saya, berpostur tinggi besar. Disini saya mulai dikatakan dan diledek-ledek (wong jawe pacak ape, pacaknye cume makan bae). Saya hanya bisa senyum dan enggan membalas ejekanya. Entah apa masalahnya saya di musuhi, padahal lumrah dan wajar cara bergaul saya. Tidak cukup itu saja saya makin kesal dan makin jengkel karena sering di ejek-ejek (tunggul). Yang memusuhi saya bernama Syamsul Bahri, Anggi dan Sandra) semuanya cowok loh,,,?

Tepat pada hari minggu saya menjadi pembimbing mereka untuk mengajarkan Pionering (tali-temali) atas instruktur Ibu Jolin. Nah disini marah saya meluap dan tidak tebendungkan lagi. Saya dipepet mereka,. Mereka tidak terima dengan keputusan saya bahwa mereka melakukan kecurangan. Sayapun di buli dan diledek-ledek serta di pegang kerah baju saya.

Begitu mereka melepaskan kerah baju saya, saya langsung ambil kursi plastik dan langsung saya pukulkan kearah meja. Alhasil kursi tersebut langsung remuk, sembari saya berkata kalau mau berkelahi satu-satu jangan main keroyok. Sambil keluar ruangan, dan kelas tersebut langsung menjadi ramai.

Keesokan harinya saya langsung dipanggil Kepala Sekolah Dan Waka Kesiswaan untuk tanda tanggan di buku Hitam. Sayapun nurut tanda tangan, sebelum tanda tangan saya ditanya, mengapa kamu merusak kursi? Saya hanya terdiam. Lalu ditanya lagi mengapa merusak kursi. Hamim ayo jawab. Langsung saya jawab kronologi kejadian di TKP. Sambil diam dan tanda tangan, kepala sekolahpun bertanya kepada Sandra, Anggi dan Samsul Bahri, ‘jawab yang jujur apa benar yang dikatakan Hamim kalian melakukan kecurangan dan meledek orang jawa bisa apa?’ Jawab ‘mereka benar’. Kepala sekolahpun langsung menjawab, ‘orang jawa biasa jadi Menteri, bisa jadi Presiden, dan orang Jawa bisa menjadi apapun yang mereka kehendaki. Apa kau tau sudah pernahkah orang Melayu dan orang Bugis menjadi presiden RI dan menjabat lebih dari 5 tahun? Mereka hanya diam, besok-besok tidak usa meledek apalagi membawa-bawa suku. Paham’.

Setelah kejadian diatas kami bersalaman dan memafkan dan akhirnya kami menjadi sahabat sampai sekarang ini.

Pesan yang ingin saya sampaikan, siapaun orangnya dan apapun suku serta Agamanya janganlah saling mencela. Jadikanlah perbedaan menjadi pengerat dan persatuan kita, seperti BEHNIKA TUNGAL IKA.

Salam sukses buat teman-temanku dan sahabatku Andi Rosdawati Edi Kurniedi, Syamsul Bahri, Manggala, Irfan Jaya, Sugiono, Abdurahman, Yosep, Kasmir, Sandra, Rikalasi, Rudianto, Irfan Supuk, Agus Tanlani, Nur Mawaddah, Karmila, Mawaddatang, Rosdiana, Fitria, Essi Paramita, Andi Sunarti, Husniyanti. Kalian best friend in sweet memeorries di kota Tiang.
                                                                        UPT. Simpang Tiga SP.2, 27 Mei 2014




            

Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.