Kamis, 20 November 2014

MEMORRYS 99

Empat belas tahun yang lalu. Ketika masih duduk dibangku kelas 3 MITA Ma’arif Pasir Sakti Lampung Timur, pada tahun 1999. Banyak cerita dan banyolan ketika kami masih usia sekolah. Ya seputar kebiasaan kami ketika dirumah, baik ketika malam hari pada saat bulan purnama, sat sekolah dan pada waktu liburan.

Saat-saat yang penuh dengan kebersamaan dan penuh dengan kegembiraan di sebuah desa yang sangat bersih nan asri, yaitu Dusun V RT 041 RW 005 Desa Pasir Sakti Kecamatan Pasir Sakti Kabupaten Lampung Timur, Sukadana. Banyak teman-teman yang ketika itu sebaya dan sepermainan dengan kami semua. Mulai dari kakak kelas dan adik kelas. Permainan kami cukuplah sederhana, dengan permaninan yang sangat sederhana dan tradisional. Diantaranya bermain kelereng, selodor (java tradisional), entek (java tradisional), litungan (java tradisional), boy-boyan (java tradisional), kasti, mancing, sepak bola, tembak-tembakan dari bambu, kuda lumping, lompat karet, gedrek (java tradisional), karambol, volley, bulu tangkis, ketapel dll. Permainan ini samapai akhir kami melanjutkan pendidikan ke-SLTP, ya maklum permainan anak-anak di desa mengunakan permainan tradisional.

Apa lagi ketika kami sampai padaakhir pekan, kami semua berbondong-bondong berkumpul dirumah teman yang mempunyai halaman luas untuk bermain.

Tidak seperti sekarang ini, anak-anak usia Prasekolah dan Sekolah, serta Remaja menghabiskan akhir pekanya untuk jalan-jalan di ‘MALL’. Anak-anak jaman sekarang tidak sekreatif jaman dahulu. Anak jaman dahulu bermain dengan alam dan natural, baik laki-laki dan perempuan tidak ada istilah malu atau gengsi.

Dahulu anak-anak pada jaman saya berpakaian sopan dan rapi. Tidak seperti sekarang ini, pakaianya tembus pandang dan serba minimalis alias kurang bahan.  

Jika kita amati secara bersama kebudayaan berpakaian dan etika terhadap seseorang melakukan tegur sapa lain sekali. Suatu  contoh jika sopan santun dalam berpakaian maka di cemooh ah, g gaul. Haruskah semua hal dikatakan gaul trend yang mengikuti perkembangan jama. Bahkan mungkin jika kita tidak mengikuti trend dikatakan ndak jamani alias kolot.

Pesan yang ingin saya sampaikan dalam tulisan ini, setiap hal pikirkan untung ruginya bagi diri sendiri dan orang lain serta buatlah masa depan mu bukan hanya hari ini. Dan jadilah diri sendiri. Jangan ikut-ikutan kawan atau lawan.

                                                                                    Pasir Sakti, 28 Agustus 2013






Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.