Selasa, 24 Maret 2015

MENTAL BAJA TAK CUKUP UNTUK MENAKLUKAN GURUN SAHARA

MENTAL BAJA TAK CUKUP
UNTUK MENAKLUKAN GURUN SAHARA

Mana pilihan yang paling tepat menurut kita, terus maju namun terhalang tembok (Alexander Zulkarnain) Yakjud dan Makjud atau mundur dan menengok kebelakang laksana melihat Oase dipadang tandus. Pilih mana? Yang jalas kita bisa membedakan aman yang tepat dan pas untuk kita.

Sembari kita berfikir apa yang telah kita lakukan dan apa yang telah kita berikan dan bermanfaatkah buat kita atau orang lain? Yang jelas kita hanya bisa memberi sepantasnya saja mana yang cocok untuk orang yang membutuhkan bantuan kita. Jangan sampai kita menolong di luar batas kemapuan kita.
Tepat terhitung hari Senin tanggal 16 Februari 2015 saya bekerja di Kingdom of Saudi Arabia. Merasakan hal yang sangat berbeda dengan adat istiadat Indonesia. Lain sekali di Indonesia sangat jelas setiap tempat kerja mempunyai Motoo dan Visi Misi yang jelas dipampang di hampir setiap sudut tempat, dengan tujuan biar pengunjung bisa membaca dengan leluasa apapun itu bentuknya. dan supaya lebih jelas apa hak dari pemberi jasa serta penerima jasa. Sama sekali tidak ada bahkan tidak dijelasakan apa saja yang dianjurkan apa laranganya serta sanksinya jika melanggar. Yang jelas saya sering merasa was-was apa yang saya kerjakan hari ini dan apa yang akan saya kerjakan dan saya perbuat untuk hari esok, tak jelas.! Dalam hati hanya bisa ngedumel ketika berangkat kerja jangan sampai telat duduk manis didalam ruangan ada atau tidak ada pasien serta pulang jangan samapi mendahului waktu yang ditentukan. Yang saya takutkan ketika bekerja adalah melakukan kesalahan apapun itu. Untuk memandang wajah wanita Arab saja tidak berani selau dan selau merundukan muka. Apalagi ngobrol dengan lain jenis wah, tidak berani. 

Kata teman-teman sepekerjaan ataupun yang lainya, jangan sampi melanggar tata cara serta ketentuan hukum Islam itu saja. Simpel bukan? Tapi pada kenyatanya tidak begitu juga. Jangan sampai ketika kita tinggal dinegeri minyak ini samapi hilang atau ketinggalan Iqomah (jika di Indonesia KTP) wah bakal runyam urusanya jika tidak punya serta tidak membawa Iqomah ketika berlalu lalang ditempat ramai bakalan mencicipi dinginya jeruji besi.

Belum lagi ketika kita berada ditempat kerja yang mayoritas pekerjanya orang asing serta pasinya orang asli. Marah dan tidak jika kita tidak perhatikan hampir tidak ada bedanya, ngomongnya keras, lantang seperti orang gontok-gontokan, tapi tidak semuanya, ada juga yang halus lemah lembut serta santun. Yang menjadikan kita pelaksana sudah mengunakan bahasa Arab serta Inggris eh... kitanya yang tidak dong alias tidak maksud. Saya merasakan hal ini. sudah bahasa Ingris saya hanya bisa sedikit bahasa arab hanya bisa Aiywa, karban, hayawan, mafi muskila, ijlis, serta mafi kois... heheh. Yang jelas jika pasien ketawa ya ikut ketawa, jika pasien diam ya.. ikud diam jika pasien tidak nyaman.. walah keringat keluar bercucuran padahal diruangan AC dibalut pula dengan musing dingin. Hanya 1 tekad kita bekerja dinegeri orang bukan untuk selamanya dan bukan untuk mencari uang semata. Tapi kita bekerja untuk mencari pengalaman, mencari perbandingan tentang apa yang ada dan belum ada pada diri ini serta untuk Negeri.

Meras senang terkadang merasa bimbang, untuk menjalani aktivitas setiap harinya. Senangnya kita bisa tahu bahwa hukum Islam dinegeri ini (timur tengah) sangat dijunjung tinggi. Serta mempunyai teman-teman baru dari belahan bumi ini (Indonesia, Mesir, India, Pilipin, Sudan, Banglades, Turky, Palestine, pokonya masih banyak dech... siapa yang tidak kepingin.? Tidak senangnya harus jauh dari Tanah Tumpah Dara sang Ibu Pertiwi tercinta dan jauh dari keluarga. Dan tentunya walau jauh dari keluarga tetap ingat dimanapun kita berada ini masih Bumi Allah SWT dan masih ingat kata-kata Imam Besar yakitu Imam Syafi’i ” Seseorang yang berilmu dan beradab, tidak akan diam dikampung halamanya. Tinggalkanlah negrimu, dan merantaulah kenegeri orang. Merantaulah kau, akan mendapat pengganti  dari kerabat dan kawanmu. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang. Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan. Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak akan keruh mengenang. Singa jika tak tinglkan sarang tidak akan mendapat mangsa. Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran. Jika matahari diorbitnya, tidak bergerak dan terus diam, tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya. Biji emas bagaikan tanah biasa, sebelum digali dari tambang. Kayu Gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan. ( dikutip dari novel negeri lima menara )”. Inilah yang membuat semanta serta menjadi obor ketika terjadi keredupan hati. Saya percaya jika ini memang benar adanya.

Jangan pernah sekali-kali kita berfikir segera bekerja dinegeri orang seperti tujuan Timur Tengah jika hati serta fikiran masih cengeng serta ingat hangatnya serta lembutnya belayan dari setiap ujung jari jemari Sang Bunda. Karena dari setiap tindakan pasti akan ada penyesalan dan selalu ada untung dan ruginya. Persiapkanlah diri serta bungkuslah keperibadian dan mentalmu dengan Baja bercampur Titanium serata lapisilah dengan batu Karang yang siap mengoyak dari keperibadian mereka. Jangan sampi kita takut jiak kita benar, dan jangan sampai menyesal dikemudian hari atau merasa salah langkah. Semunya berbeda dan sangat berbeda yang tadinya kita menggunkan bahasa Indonesia, semuanya akan berubah dengan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Dan jika saja kita tidak tahu dan tidak bisa bicara jurus pamungkasnya adalah “Bahasa Tubuh” haha...

Pesan yang ingin saya sampaikan untuk teman dan sahabat Nurse dimanapun. Jika dari teman-teman ada yang mempunyai keinginan seperti saya, untuk mencicipi uang Real. Jangan pernah kita kalah dan merasa tidak betah. Sebagai contoh proses kita untuk menuju timur tengah harus tinggal semntara di Jakarta yang lengkap dengan hiru pikuknya. Terkadang kita mengatakan tidak betah, nyata dan jelas sekali Jakarta masih Indonesia, bagaiman dengan negara lain? Saya pernah merasakan bosan ketika dijakarta. Dan hanya merasa akan betah jika kenegara tujuan kita. Nyatanya sangat berbeda. Dijakarta saja ketika kita kangen keluarga kita bisa pulang kapan saja kita mau. Namuan bagaimana jika kita tinggal dan bekerja di negara orang, yng paspor serta ijazah dll ditahan semuanya, gerak gerik kita selau diawasi serta dibatasi. Belum lagi masalah makanan yang sangat berbeda, seperti nasi kamsah dan roti yang sangat asing rasanya dilidah kita. Ditambah lagi cuaca yang sangat berbeda, jika musim dingin bibir, paha, ujung-ujung jari mengeluarkan darah serta gatal. Bibir jika ketawa atau makan terasa perih dan nyeng-nyengan, jika dingin rasanya seperti masuk lemari pendingin, jika panas minta ampun panasnya serta silau dimata dan juga jika hujan debu. Hujan debu bisa terjadi di indo ketika gunung meletus, tidak di saudi hujan debu hampir terjadi tiap minggunya. Bagaimana kita bisa melaluinya jika kita ingat keluarga dan cengeng. Anda siap dengan segala resikonya atau anda lebih suka mundur dan manjadi perawat yang terundur-undur.? Hanya hati dan diri anda saja yang tahu. Jangan pernah menyesal.

Jadi persiapkanlah diri anda dengan bekal yang jitu, siap bersaing dengan bangsa lain ditempat keja, perlahan namun pasti. Sekali lagi persiapkanlah diri kita masing-masing serta selalu gunakan pepata “dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung” jangan pernah berharap Saudi menjadi Indonesia dan Indonesia menjadi Saudi. Terima kasih atas segala Limpahan Rahmat, Karunia-MU Ya Robb, serta Jauhkanlah diri ini dari segala Fitnah dan Kekejaman Negeri Minyak ini Lindungilah Hamba-MU ini. Amin Yarob...

Ahmad Irfankhan H.S

Riyadh KSA. 26 Februari 2015 jam 03.00




Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.