Selasa, 01 September 2015

SAYA BUKAN GATO KACA


Acapkali saya bergumama untuk apa menderita, yang terkadang saya buat sendiri. Penderitaan itu bukanlah sebuah mix yang harus dicampur adukan dengan 1 hal, yang membuat saya tak pasti untuk melangkahkan kaki ini, untuk jauh menjauh demi sesuatu hal yang saya idamkan. Saya tahu, saya bukanlah orang yang pandai, saya tahu, saya bukanlah orang yang kuat, saya tahu, saya bukanlah orang kaya, saya tahu, saya bukanlah orang sempurna dan saya tahu, saya bukanlah orang yang pemberani dan gagah bak Gatot Kaca. Saya hanya mencoba melakukan apa yang terbaik dan yang pantas untuk saya lakukan demi masa depan saya. pertanyan ini muncul tiapa saat, kenapa kamu harus melangkahkan kaki sejauh ini? inikah sebuah pilihan dan jalan hidup yang kamu pilih? (pertanyaan dalam hati saya).

Saya tak pernah menyesal sedikitpun tentang apa yang sudah saya pilih dan rasakan. Pahit getirnya keadaan yang serasa menelan bulat-bulat biji mahuni bercampur dengan kaktus yang penuh duri, sangat menyiksa, terasa seret dan berhenti di keronkongan dan menyayat hati. Sebuah peroses yang sangat sulit untuk dilalaui. Tangisan dan rasa irilah yang saya rasakan ketika menjalani peroses kehidupan. Ingin minta apapun itu, selalau memaksakan untuk bisa dan untuk belajar tega terhadapa keadaan orang tua. Dalm hati  “Tak mungkin seekor singga memakan anaknya sendiri”. Dan “tidak akan mungkin seekor anak harimau bisa membunuh sang induknya demi sesuatu”. Jika itupun ada tidak belaku pada saya. cukup hanya melihat ibu dan bapak yang sudah semakin tua itu membuat hati saya miris dan takut jika nanati bagimana kalau saya ditinggalkan dan bagimana jika saya yang meninggalkan beliau tanpa saya disampingnya. Entahlah. !

Memang benar jika seorang anak meyaitkan hati oang tua atau membangkang tidak nurut di capa sebagai anak “durhaka” . Janganlah kamu menyakitkan hati orang tuamu, karena Ridho Allah terletak pada Ridho kedua orang tua. Jika timbul pertanyaan dari saya siapakah anak yang paling tega sekeluarga, maka saya akan menjawab yaitu saya! Bagimana tidak, saya anak terakhir dari 5 bersaudara. Saya yang paling tega meninggalkan kedua orang tua dan ke-4 kakak saya. Selama 6 tahun SD-SMP meninggalkan mereka. Dua tahun SMP tinggal bersama mereka. Tiga tahun berpisah dengan mereka pula. Dan tiga tahun pula saya meningalkan mereka untuk kuliah. Lalau tinggal dan bekerja selama dua tahun bersama mereka, lalau sekarang saya meningalkan mereka kembalai, untuk bekerja di kota Riyadh Kingdom Of Saudi Arabia. Sayalah anak paling tega. Saya tahu untuk biaya sekola SD-Kuliah menghabiskan dana yang tidak sedikit, bahkan untuk berangkat kejakarta mengikuti tes sampai berangkat tetap mereka semua yang bingung dan mengupayakan bagaimana bisa mendapatkan uang untuk bisa kerja keluar negeri. Saya tidak sempat tanya ketika saya pergi kejakarta hingga kembali, hingga saya sudah 7 bulan meninggalkan tanah air, apakah mereka bisa tidur nyeyak atau tidak? Saya tida tahu. Apakah mereka selalau ingat ketika berkumpul di ruang keluarga, ketika makan, ketika merenung, ketika berdiri, ketika duduk ataupun ketika menginggat kenakalan saya ketika saya masih anak-anak, ketika saya sakit, ketika mereka sakit, ketika bulan Ramadhan, ketika berbuka puasa, ketika sahur, dan ketika 17 Agustus, saya tak tahu. Yang pasti saya tak sedikitpun melupakan mereka begitupun sebaliknya.

Rinduku kepada mereka selalau terucap ketika duduk dan berdiri mengingat sang Pencipta dan selalau kutitipkan ucapan dan hanya mamapu berpesan, ya .. Allah sampaikanlah kepada mereka aku sangat rindu, rindu akan belaian tangan mereka, rindu akan ucapan mereka ketika saya sedang terpuruk, rindu dengan sikap mereka yang sangat lembut, walau saya terkadang tidak mendengar nasehat mereka, tak jarang saya menyebut mereka kuno, kolot tapi mereka tetap menyebut nama saya dalam setiap hembusan nafas dalam doa mereka. Doaku dan permintaanku tidak banyak, hanya meminta semoga mereka selalau sehat, panjang umur, dianggat penyakitdan kesukaran mereka, semoga bisa haji dan umroh dimasa senja mereka.

Tepat tangal 10 Agustus 2015 bapak sakit dan tidak sadar selama semalaman. Saya hanya mendapat firasat mengapa saya ingat terus raut wajah bapak, bahkan ketika shalat jumat dimasjid saya melihat bapak duduk didepan saya dan tersenyum. Tapi tersenyumnya seperti menahan sakit. Selesai shalat jumah saya telpon ibu, kata ibu bapak sehat tidak ada apa-apa. Saya percaya ucapan ibu. Setelah beberap hari saya melihat bapak berdiri sendiri tanpa ada siapa siapa sambil menundukan kepala, tak melihat kearah saya. saya kali ini tidak bisa menelpon karena uang gajia saya semuanya saya kirim ke Indonesia. Tiga hari berturut-turut mimpi selalau hadir bapak, dalam hatisaya tibul pertanyaan, “ada apa ini”. pada pagi hari sekitar jam 09.00 waktu saudi. Saya dapat telpon dari indonesia, tepatnya hari  minggu tangal 16 Agustus 2015, kakak ipar telpon “hamim ni kamu jangan kaget, bapak sekarang  dirawat di RSUD Kayu Angung, sudah 1 minggu”. Saya hanya terdiam, menahan sesak didada, lalu saya tanya “bagaimana keadaan bapak”, “ ya belum ada perubahan” jawab kakak. Kakak hanya berpesan “jangan khwatir semuanya baik-baik, jangan terlalau difikirkan nani kamu di saudi sakit karena memikirkan bapak”. Hanya terdiam dan termenung.

Yang saya tah kakak tertua sedang berada dijakarta, untuk bertemu dengan kementerian DISNAKER-TRANS, serta mengikuti upacara 17 Agustus 1945 dan bertemu President RI. Hati tambah was-was dan gundah gulana. Sambil pesiapan kerja saya mengagis tak henti-henti. Sarapan tersa tidak makan, hati sedih dan menagis sambil memakai seragam. Sejenak terdiam dan memcoba menguatkan hati untuk tidak sedih, walau ada rasa sedih mencoba kuat dan tidak mewek. Sampila dtempat kerja saya membeli pulsa 20 real lalau saya telpon kenomer ibu. Lalau saya bertanya “bagaimana keadaan bapak, Alhamdulilah sudah bisa bicara?” Jawab Ibu. “mengapa ibu bohong, tidak jujur ketika saya tanya keadaan bapak?” ibu menjaab, “maaf lee ibu, bapak dan ke empat kakak mu tidak mau kamu sedih dan was-was akan kesehatan bapakmu, cukup kami disini yang tahu, karena kamu di saudi sendiri, jika kamu sakit dan kaget ketika bapak mu dirawat dirumah sakit. Lalau kamu sakit siapa yang merawat kamu di saudi. Ibu berbohng demi kebaikan kamu dan dan cukuplah kami berenam yang tau”. Mendengar ucapan ibu saya langsung menagis dan terdiam. Jawab saya “ya sudah yang penting bapak sekarang sudah ada perubahan”. “Ibu saya bisa ngobrol sama bapak?”. Tanya saya. Jawab ibu sebentar “mbah ini hamim mau ngomon”. Belu berbicara “bapak sudah menagis samapi tak bersuara, saya ikut menagis”. Saya bertanya “bapak bagaimana keadaanya?”. Sambila menagis “alhamdulilah bapak sudah mendingan, kamu jangan terlalau memikirkan bapak, ya seperti inilah keadaan bapak, bapak sudah tua, kamu di saudi jaga diri baik-baik, ingat kamu hanya numpag di negeri orang, semoga selalau sehat, kamu jangan sedih jangan menagis biar bapak saja yang menagis, kamu jangan takut, ini semua sudah takdir Ilahi dan ini sudah jalan hidup kita. Kamu jangan suuzon kepada Allah dan jangan sampai menyesal, bapak bangga terhadapmu lee, walau kamu anak terakhir kamu nekat kerja jauh demi untuk masa depan mu dan keluarga kita, dan maaf bapak serta ibumu tidak bisa membahagiakanmu, sehingga kamu harus mencari rizky dinegeri orang, maafkan bapak, ibu dan kakak mu ya lee, saya bangga punya anak sepert kamu, nekat untuk yang kamu inginkan dan pesan bapak jangan lupa selalau sholat, bapak, ibu dan kakakmu semuanya selalau mendoakanmu supaya sehat selalu dan supaya kita bisa kumpul seperti sedia kala. Saya tak mampu berkata-kata hanya terdiam dan mengucur deras air mata ini. “dan pesan terakhir saya berkata, terima kasih atas doa bapak, ibu dan kakak semuanya, semoga bapak dan ibu selalau sehat dan dalam lindungan Allah”. Amin. Lalau pertanyaan saya “apa bapak kangen saya?”. jawabnya “siapa toh lee yang tidak kangen sama anaknya yang jauh meningalkan keluarganya”. “saya juga kangen sama bapak, ibu dan kakak semuanya”. Jawab saya sambil menagis. “sudah bapak jangan menagis lagi, insayallah bapak segera sehat dan bisa melihat kedatanganku ketika akunanati pulang kerumah”. Jawab bapak insyaallah bapak bisa melihat kepulanganmu kerumah, amin”. “sudah dulu ya bapak, aku akan selalu sehat dan akan selalu mendoakan kesehatan bapak, jangan lupa istirahat, makn yang cukup dan jangan memikirkan saya”. Jawab bapak “iya lee”. Salamualaiku...

Walau saya jaug di Riyadh saya bisa melihat photo bapak yang sangat jelas dia merindukan saya. Tampak di photo bapak memakai sarung saya, memakai selimut saya dan memakai sepray kasur saya. Menambah saya menjadikan hati saya pilu. Hanya ucapan doa dan mengingatnya tanpa harus mengurai air mata, saya harus kuat dan tabah menjalani semua ini. Insyaallah Ya Roobbb....

Semoga semua keluargaku selalau dalam lindungan Allah SWT dan semoga kami digolongkan sebagai uman dan hambanya yang soleh dan solehah dalam kaeadaan khusnul khotimah. Amin..

            Ahmad Irfankhan Hamim Sutopo

Riyadh Kingdom Of Saudi Arabia, 28 Agustus 2015.





Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.