Rabu, 28 Oktober 2015

13 FEBRUARY 2015


Tak saling kenal adalah hal biasa namun setelah beberapa hal bisa menjadi kenal dan saling mengenal. Entah itu ditepat kerja ataupun hanya selayang pandang saja. Merasa malau dan merasa sendiri itulaha yang sering kita rasakan dimanapun kita berada. Seperti yang sekarang ini kami rasakan, tadinya kita tidak saling mengenal dan tidak masuk akal jika bisa bertemu dan kita bisa berbicara bersama, makan bersama, diperjalannan bersama, seperti keluarga. Pelatihan bersama dan kita semua cangung untuk membuka pembicaraan.

Itulah yang terjadi ketika itu, sangat singkat dan mulai itulah kita bersama mulai tegur sapa dan saling menggoda satu sama lain. Guna mengisi kekosongan waktu dan menimbulkan rasa humor. Sejenak melupakan penat dan lara. Serasa bahagi jika bisa mengoda dan bisa melontarkan satu kata atau lebih.

Rasa humoris dan rasa tegang bercampur baur menjadi satu kesatuan yang sangat sukar untuk memudar. Sesekali rasa haru dan humoris itu kaku menjadi candu yang siap melumpuhkan saraf, lontaran setiap senyuman menjadi barang berharga, tak ubahnya seperti merubah padang gersang menjadi hijau, nan rama di pandang mata. Perjalanana kami mulai menyusuri setiap sudut ibu kota Jakarta. Perlahan dan pasti laju kendaraan yang kami tumpangi tak lekas berhenti sebelum sampai di Bandara Suekarno Hatta. Keheningan pecah sesaat setelah bercakap melipur rasa sedih dihati. Kami pandangi satu persatu sudut demi sudut. Menjadi riuh dan gaduh dan mengadu satu persatu. Tiba pada watku yang ditunggu dimana suasana yang hangat berubah menjadi hembusan nafas sesak dan pilu dihati, tangis dan air mata yang melepas kepergian kami. Masih ingat dan terniang di telinga pesan yang terlontar dari lidah tulus dan ucapan mereka adalah do’a. Dekapan rasa kasih saya tercurah serasa engan untuk melepaskan kehangatan pelukan yang tulus. Nampak dari setiap pandangan mata yang sangat sedih dan engan untuk berpaling dari setiap langkah kami. Serasa pilu hati ini jika teringat akan hal tersebut.

Ditambah lagi dengan kami bertiga (saya, ahmad, habib dan cak isan) tidak diantar oleh keluarga. Rasa iri menjadi satu padu di hati ini. namun apa boleh buta dan tidak mamapu berbuta, kecuali hanya do’a yang bisa kami panjatkan kepada Ilahi Robby. Tepat pada hari Jum’at tanggal 13 February 2015 pukul 04.30 WIB kami bertujuh meninggalkan Tanah Air menuju kota Riyadh Kingdom Of Saudi Arabia. 09.20 menit berada di dalam pesawat serasa lama tidak bisa di hitung dengan jari-jemari.  Sembilan jam berlalu begitu saja, dengan rasa tak karuan. Entah apa yang ada dihati dari kami bertujuh, jika saya boleh bilang saya takut bagaimana jika pesawatnya jatuh, saya tidak bisa bertemu lagi dengan kedua orang tua saya dan keempat kakak saya. sembari mengalus dada dan menagis, sesak pilu dihati, ingin rasanya menjerit dan putar arah pulang lagi serta tak sanggup untuk membayangkan raut wajah Ibu, Bapak, kedua Kakak saya serta beberapa Kerabat. Rasanya masih ingat dan berat untuk melupakan, mungkin tidak akan lupa seumur hidup saya.  Yaa Roobbyy inilah yang ada didalam hati saya. ketika diruang tunggu saya menyempatkan untuk SMS tidak lebih isinya pamit minta doa keselamatan semoga samapi ketujuan dan bisa kumpul kembali di tanah air dengan selamat. Setelah masuk kedalam pesawat Qatar Airwaays, sebelum hp dimatikan pamitan, saya telpone ibu tapi tidak diangkat. Saya telpon kakak pertama alhamdulilah diangkat, sambil menagis saya berbicara, “kak saya berangkat, ini sudah didalam pesawat, sembari nada saya melemah, sura kakak pun ikut melemah dan menagis, saya ucapkan semua salinan berkas saya sudah saya poskan, semua identitas baik nomer paspor dan tempat klinik ada didalam amplop, insyaalah datang dalam 1 minggu. Kakak hanya bilang iya, itu saja, saya lanjutkan pembicaraan saya, kak sampaikan permintaan maaf jika saya ada salah sama kakak sama ibu, bapak dan semuanya, jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan menimpa saya, jangan samapi kakak dan ibu, bapak semuanya mengeluh dan suuzon kapada Allah. Jika saya ditakdirkan untuk meninggal di saudi percayalah itu semua sudah ketentuan dari Allah tidak bisa dirubah, jika jasad ku tidak bisa pulang ke indonesia cukuplah keluarga semua mendoakan aku dari Indonesia. Aku akan tenag dialam barzah dan jika salah satu keluarga kita ada yang mendahului saya, jika saya tidak bisa hadir dipemakaman, ketahuilah aku sedih dan teramat sedih jangan menyalahkan dan jangan kecil hati, inilah resiko kerja di Negara Orang. Dengan nada lirih dan terasa perih di hati kakak menjawab iya lee. Semakin menjadi tangisku. Karena kakak tidak pernah memanggil saya dengan sebutan tole atau lee. Bunyi mesin pesawat dan laju pesawat mulai terasa, dengan berat hati tangisku dan dada ini terasa sesak, kakak sudah dulu aku mau terbang. Terdiam sesaat saya dan kakak sambil menangis hati-hati ya lee. Jangan lupa setelah samapi telpon ya. Iya kakak insayaallah aku pulang tiga tahun yang akan datang. Jangan berhenti mendoakan aku adikmu. Hamim (panggilan dirumah) si bontot. Dan saya akhiri dengan salam. Sesaat laju pesawat melaju kencang dan perlahan meningalkan pijakanya dibumi, sembari menunduk saya menangis, terus merasa tidak tega meninggalkan mereka semua. Sejenak terhenti dan sudah tidak menagis, dan jika ingat wajah sang ibu serta bapak saya lekas menangis lagi. Sampai terulang berkali-kali. Hingga pada akhirnya saya perlahan untuk kuat dan tidak menagis lagi.

Saya tidak tahu apa yang terjadi disekeliling saya dan saya tidak memperhatikan teman-teman dikiri kanan saya, apakah seperti saya atau mereka lebih kuat atau sebaliknya, atau tidak sama sekali meneteskan air mata. Saya tidak tahu itu, yang jelas persoalan masing-masing. Suasana hening dan tanpa ada suara taupun bertanya salah satu dari kami, suasana kaku dan terasa sendiri serta terasingkan. Keheningan terasa lumer setelah paramugari dan pramugara menghantarkan dan menawari makanan atau sekedar minuman. Mulailah senyum dan garis raut wajah penuh kesedihan berubah menjadi raut senyum.

Dari kami bertujuh mulailah sibuk sendiri-sendiri mulai dari melamun, diam, mendengarkan musik, melihat film, mendengar orang ngaji, melihat daftar film, musik, melihat rute penerbangan dan arah pesawat terbang, bahkan salah satu dari kami ada yang membaca Al-Quran. Ada juga yang tidur, ada yang bilak-balik kekamar kecil, ada yang tanya kok lama banget terbangnya,ada yang membuka jendela melihat awan disekitar, dan hijaunya bumi kita,  ada yang makan, ada juga yang salah pencet sehingga pramugari datang menghampiri, ada juga yang tidak tau mengunakan head set. Ada juga yang makan dan yang lebih parah lagi “selfe”.

Rasa jenuh terasa entah berapa jam setelah penerbangan. Tak lama terdengar pengumunan, serta berubahlah semua layar monitor didepan saya. Bahwasanya pertanda pesawat segera akan mendarat. Denga cekatan semua pramugari dan pramugara memberikan instruksi, untuk membuka jendela. Dan tibala di bandara Hamad International Doha Qatar. Senang rasanya bisa berpijak di bumi, setidaknya selamat pada awal satu langkah. Riuh dan mulai mempersiapakan bawaan masing-masing. sekitar 15 menit dibukalah pintu pesawat, dan turunlah kami bertujuh. Namun kami bertiga pisah dari rombongan, karena kami ketoilet dahulu dan menyempatkan untuk foto dan selfe. Di bandara Hamad sekedar mengabadikan moment ini. Kami bertiga berjalan ya sedikit was-was memisahkan diri. Sayalah yang paling was-was, karena saya tidak bisa berbahasa inggris. Andalan saya kan ada cak isan, yang pandai bahasa inggris. Terus berjalan dan bertanya tempat ruang tunggu untuk penerbangan selanjutnya menuju Riyadh. Alahmdulilah tiba ditempat pemeriksaan dan tas yang saya bawa saat diperiksa di x-ray berbunyi. Alamak kagetnya saya. dan saya disendirikan sementara kedua teman saya lolos begitu saja. Saya takut banget. Sambil berbicara bahasa inggris petugas berkata keluarkan isi tas kamu, ikat pinggang dan jaket. Karena sudah binggung saya linglung. Sambil gemeteran saya keluarkan dan saya menyisih ditempat lain. Tenyata yang menimbulakan bunyi adalah kerokan kumis saya (gillete vektor). Sambil menghela napas selamatlah saya. dan bertemu dengan seorang pemuda sebaya dengan kami, dia bertanya “Indonesia” kami jawab “iya”. Mau kemana mas? Kami jawab “mau keRiyadh”. Salah satu dari kami bertanya mas orang mana? “saya orang solo, saya mau keItali”. Lalau kami melanjutkan perjalanan, selang beberapa menit, kami tiba di tengah bandara atau pintu utama bandara Hamad, tampak ada mobil mewah terpajang dan boneka besar terpajang. Habib tak ketingalan mengambil gambar. Akhirnya tempat yang kami tuju ketemu dan tak melihat ada keempat teman saya. saya menyempatkan untuk mencari dan alahmdulilah ketemu.

Enam jam kami menunggu, untuk melanjutkan perjalanan keRiyadh. Sembari melihat sekeliling saya mencoba mengenalai orang mana saja yang berlalu lalang dihadapan saya. Beruntung ada teteh Eneng yang lebih dahulu memcicipi Saudi. Saya duduk disampingnya dan bertanya “irfan kamu tau orang item-item dan baunya menembus langit ketujuh”? jawab saya tidak tahu”. “itu orang Sri Lanka, kalau yang itu, orang Mesir, kalau yang itu orang Saudi, nah kalau yg itu orang Yaman, kalau yang itu orang Filipin, kalau yang itu orang India, itu pakistani dll.

Terdengar pengumuman pesawat tujuan kota Riyadh 1 jam sebelum keberangkatan. Antrian untuk masuk boarding pass sangat panjang dan kami terpisah mencari posisi masing-masing. Tampak dari petugas pemeriksa ada orang indonesia, dan rasanya nyaman sekali, sayapun masuk. Diruang tunggu kami bertemu orang indonesia bekerja disaudi. Sekitar 30 menit tibalah pemeriksaan masuk kedalam pasawat, saya memilih orang indonesia yang memeriksa saya. begitu masuk saya berebut kursi dengan teteh Eneng, saya pingin sekali duduk dipinggir dan tepat sekali sebelah saya adalah sayap pesawat. Saya melihat setiap sudut perjalanan dan perubahan pemandangan. Nampak bandara dan beberapa penerbangan lokal, cargo dan suasana menegangkan ketika lepas landas. Begitu jelas dan tampak indah ketika melintasi awan yang putih, serta melihat begitu kecilnya negara Qatar, gurun pasir dan birunya lautan disekitar Qatar. Serasa mata ini engan berkedip dan engan melewati meoment ini. 45 terbang saatnya tiba dan hendak mendarat di bandara terakhir yaitu King Fahad International Riyadh. Nampak pemandangan kotak-kotak dan ada beberapa unta yang terlihat dari pesawat. Alahmdulilah mendarat dan selamat.

Setelah mendarat kesibukan didalam pesawat nampak mempersiapakan bawaan masing-masing. Sebelum magrib alahmdulilah saya sudah di tempat antrian. Dan saya deg-dekan lagi, melihat petugas bandara Riyadh, semuanya serba putih, serta terasa asing, tidak seperti di Qatar. Penertiban mulai terjadi, wanita hanya wanita, dan laki-laki hanya laki-laki. Dan saya lagi-lagi dapat masalah. Beberapa teman lolos begitu saja. Masih ingat betul saya dan Riyanti mendapat kendala. Ketika dipoto untuk pembuatan Iqomah, data saya tidak muncul, dan diulang sampai beberapa kali. Begitu juga dengan Rayanti mungkin. Rayanti lolos bahkan sampai dibawak kedalam ruangan. Dalam hati waduh ada apa ini. Semua lolos, tinggallah saya. Sang petugas sambil geleng-geleng kepala, dan memberi instruksi kepada saya untuk duduk di bagian belakang. Sejenak saya berdiri dan melihat teman-teman. Alahmdulilah itu masih ada dibawah tiang nampak habib dan cak isan. Terus kawatir dan takut bukan kepalang, jika tidak malu dan patut untuk menagis akan saya lakukan. Saya khwatir ditinggal dan koper saya hilang diamil orang, lantaran tiket untuk mengambil koper ada ditangan saya dan saya belum selesai pemeriksaan. Rasa takut terus menyelimuti, namun dengan teknik kepepet saya pura-pura tenang, mengerak-gerakan kaki, duduk berdiri, lalu duduk lagi, dan sesekali melihat petugas yang memeriksa saya. paspor dan kartu lainya sudah ditahan di meja pemeriksaan. Nampak sekali sampai dua pendaratan pesawat yang mendahului saya. habib mulai jenuh menunggu saya, berkomunikasi jarak jauh, mengunakan gerkana tangan dan fokus gerakan mulut, saya tidak paham. Dan habib dari jauh mengistruksikan lepas jaket mu irfan. Akhirnya saya lepas. Lalau saya berfikir apa gara-gara jaket saya. maaf sebab dijaket saya tertulis dalam bahasa inggris dan apabila diartikan dalam bahasa indonesia berartikan “pelacur”. Lalau saya lepaskan jaket saya. dan habib bemberi jempol. Saya lupa jaket tersebut tidak saya lepas. Saya sadar didalam ruangan pemeriksaan rasanya dingin sekali. Sedangkan saya hanya mengunakan kaos dalam berwarna hitam. Dinginya apun. Setelah 1 jam lebih alahmdulilah saya dipanggil dan alahmdulila data saya ter input alaias diterima, rasanya melayang-layang diudara, saking senangnya. Dan saya segera menuju ketempat dimana habib dan cak isan menunggu saya. dan dapat masalah lagi ketika ditanya apa yang ada didalam kardus yang kalian bawak, saya menjawab, buah-buahan. Coba buka? Kata petugas. Dan saya membuka, pas yang saya bawak manggis, petugas bertanya ini buah apa lalau saya jawab “manggis”. Sang petugas mengamil satu dari buah tersebut dan menciumnya. Sembari bertanya ada semutnya tidak ini? saya jawab tidak ada. Padahal ada semutnya keluar. Dan dia tidak melihat mungkin/atau pertolongan Allah SWT. Lolos pemeriksaan terakhir. Dan yang menunggu kami dan menjemput kedatangan kami ternyata irang indonesia. Adem ayem.

Kegiatan menukarkan uang kami lakukan di teman teteh Eneng. Uangku satu juta ketika ditukar hanya ada beberapa lembar saja. Aku kaget, dikita amat ya? Mereka tertawa, ini Real Irfan.

Hal pertama saya telpon orang tua saya, alahmdulila simpati dan xl ada signal di saudi. Saya meberi kabar “ ibu saya sudah samapi saudi, ibu menagis dan mengucapakan alahmdulilah, lalau mati lantaran pulsanya habis.

Begitu samapi ditujuan kami tidak istirahant, kami langsung menghadap direktur untuk wawancara dan melakukan pengambilan sempel darah. Padahal tau kami semua belum solat, belum makan, mandi pokonya semuanya belum. Alias kucel bauk asem. Kami di interviw satu-persatu, sebelum di interviw nampak sibuk mempoto copy persaratan kami dan paspor. Dan kami disuruh makan oleh mamah dedeh. Kamipun makan. Ingat sekali makanan yang kami makan nasi kabsa dengan porsi besar ayam panggang, lalapan bawang bombay dan cabe hijau besar, rasanya aneh. Tanpa mengiraukan mereka yang hilir mudik kami makan diruangan dan kami buka pintunya, kami tidak memikirkan malu atau bau bekas kami makan yang penting kenyang dan bertenaga. Belum juga selesai makan sang direktur datang, tak lain dan tak bukan beliau adalah dr. Asfar, orang mesir.

Interviw mulai dan ditanya satu persatu dimeja bundar, mulai dari pengalaman kerja dll. Sambil disodorkan kontrak kerja, sambil mata merah dan wajah pucat kami disuruh membaca, alahasil saya tidak tahu, karena semuanya tersedia hanya dalam dua bahasa inggris dan arab. Alahmdulilah ada teteh Eneng yang tau dan paham bahasa inggirs. Dan saya lepas tanggan, kami surulah dia membaca poin demi poin yang tidak kami ketahui. Alahmdulilah terjadi kerja sama dan kesepakatan beberpa poit yang tidak terdapat di salinan kontrak kerja ketika di Indonesi. Pembacaan ulang dan kesepakatan kerja, deal, mulai jadwal kerja dan menyangkut dll. Kami diberi 2 hari istirahat.

Samapilah kami ditempat penginapan kami. Dan apa yang terjadi, sang pemilik kamar mas roni umroh dan mas aa falevi nagji. Lalau kami ditampung dikamar sopir. Sambila mengantuk kami bercapak kecapaean. Setelah di telpon alahmdulilah aa fahlevi pulang dan kami masuk kamar, untuk istirahat, dan saya tidak dapat kasur tempat tidur. Dan paginya alahmdulilah mas roni pulang umroh dengan kedua sahabatnya yaitu Shaban dan Abdulkarim. Terasa asing melihat mereka karena mereka Shaban orang Mesir dan Abdulkarim orang Hindia. Dan besoknya kami sarapan kubus dan aneka kacang yang rasanya aneh, lalu mas roni tidurnya ngungsi ketempat tidur temanya. Saking melihat wajah, wajah capek dan wajah kasihan. Disinilah cerita sebenarnya dimulai..

Ahmad Irfankhan Hamim Sutopo

Riyadh, Saudi Arabia. 15 Agustus 215. 


Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.