Senin, 19 Oktober 2015

GOOD PEOPLES SAUDI ARABIA


Tingkah lucumu membuat saya garuk-garuk dan geleng kepala. Mengapa tidak ada saja yang bisa mereka lakukan untuk membuat perut menjadi keram dan membuat mata ini terpejam karena tertawa. Logat bahasa dan tingkah laku mereka yang sangat lucu dan mengelitik terkadang membuat saya untuk meniru setiap apa yang bisa mereka laukan, tidak ada niat untuk meniru lalu terbiasaan dan di bawak kebiasaan tersebut ke Tanah Air tercinta. Hanya saja memperhatikan dan menerpakn ketika tinggal dan bekerja di linkungan mereka, dengan kata lain adaptasi menuju kesempuranaan. Bagitu kira-kira.

Ada banyak yang bisa mereka lalaukan, mulai dari menjahili seseorang dijalan seperti tanya alamat kepada orang yang sedang berjalan kaki, sejenak wajah mereka meyakinkan seperti tidak tahu dan ketika kita jawab pertanyan mereka, maka mereka akan segera tertawa dan mengatakan “saya tau” lalu tertawa rame-rame dan segera menginjak gas lalau pergi dengan raut wajah gembira. Terus apa yang akan kita perbuat jika terjadi seperti itu? (sambil menghela napas panjang).

Mereka pada iseng dan suka jahil, mulai membuat vidio lucu. Seperti beberapa hari kemarin seorang pasien saya merekam kegiatan saya sewaktu melakukan persiapan dan sesudah tindakan, sembari bertanya kapan saya kembali kesini lagi? Dengan nada yang sangat fasih maklum karena mereka berbahasa arab dan saya jawab dengan menirukan logat lebay dan alaiynya orang saudi, saya ucapkan al hasil mereka tertawa dan saya di minta untuk mengulang dan di buat vidio. Sembari tertawa saya memperagakan dan mengulangi apa yang saya bicarakan tadi sampai sampai keluar keringat saya lanratan mereka tertawa.

Saya tidak tahu sama sekali adat istiadat mereka yang menurut saya aneh. Bisa aneh karena di tanah air jarang. Lihat saja jika mereka bertemu dengan sesama teman mereka akan pelukan sambil mengelus atau tepukan kecil di punggung atau bahu sembari mengucapkan kata-kata entah apa itu sepertinya bentuk kerinduan atau sekedar ucapan “semoga allah senatiasa memberimu kesehatan” mungkin seperti itu, maklum saya tidak tahu artinya, karena mereka mengunakan bahasa arab. Lalu mereka melakukan “cepika cepiki” senggol saling senggol pipi kanan dan pipi kiri, tiga kali senggol pipi kanan lalau mereka melakukan hidung ketemu hidung, eit bukan bibir ketemu bibir. Kebiasaan seperti ini sering saya jumpai dan ada pengalaman peribadi rasanya kayak aneh banget. Ini bukan antara laki-laki dan permpuan. Tapi ini di kalangan laki-laki. Perempuan pun sama seperti itu, tapi belum pernah menjumpai hidung-ketemu hidung. Entah ini berlaku hanya kepada muda mudi atau sebaya.

Lain lagi jika seorang pemuda bertemu dengan seorang yang dihormatai atau di tuakan. Mereka akan meraih kepala, orang yang dihormati atau dituakan akan nunduk, sang pemudapun akan jinjit kakinya untuk meraih ubun-ubun dan menciumnya. Jumlah ciumanya yang saya amati lebih dari satu ciuman tidak tau persis berapa jumlahnya. Hingga saat ini saya belum menanyakan bagaimana yang sebenarnya, karena terkendala oleh bahasa. Sempat sekali melihat ketika seorang yang lebih tua tanganya di cium berkali-kali dan dilanjutkan mencium ubun-ubun.

Mereka jika berbicara selalu mengerakan tanganya, jika kita menyangkal dan tidak percaya segera mereka mengucap “Wawllahi”. Dan saya pun tidak segera percaya kepada mereka atau menunjukan respon percaya, maka mereka akan melakukan gerakan sebagi berikut. Tangnya diarahkan kejangut saya sampai menyentuh jangut, sembari menarik tanganya dan mencium tanganya sendiri bekas disentuhkan kejangut saya, ini dilakukan tidak satu kali melainkan berkali-kali hingga hati kita luluh lantak, sembari berkata “wawllahi inta koyes, inta sodiq ana inta akho/akhi ana”. Bentuk kakagumanya karena melihat saya melakukan penanganan yang kata mereka sangat bagus dan ramah.

Yang membuat saya tertarik ketika mereka bercanda, atau sedikit malau mengatakan sesuatu, sambil mengerakan tanga, sedikit mejulurkan lidah, Itu kalau mereka malu, lain lagi jika iya mengatakan “iya” mengedipkan mata beriringan dengan kata “ceeek”.. Bila saya bertanya dan mereka malas menjawab atau tanda tak setuju/tidak ada, hanya akan mengeluarkan suara “cucuk” dari mulut dan bibirnya mecucu.

Tadinya saya merasa anaeh kok tau nama saya Ahmad. Dalam hati saya timbul pertanyaan demikian. Eh tak taunya jika mereka bertanya pada seorang laki-laki dan mereka tidak tau nama kita mereka akan memanggil kita dengan nama “Ahmad” atau “Muhammad”. Tuh kan saya yang “GR”. Itu kebiasan mereka dimanapun mereka berada baik laki-laki dan perempuan jika ingin tau dan tanya kepada seorang laki-laki mereka selalu mengatakan nama-nama tersebut. Sebagai contoh ketika saya makan di tempat makan “Al Makki” ketika ada pelanggan memanggil pelaya tidak dengan sebutan “Hey” pelaya. Tapi mereka akan memanggil dengan nama Ahmad atau Muhammad. Lain lagi bila di Negara kita tidak kenal dengan seseorang kita akan memanggil dengan sebutan “Hoy”, “Heey”, “Brow”, “Heey Loe” (kata anak jakarta). Itu berlaku baik laki-laki dan perempuan yang hendak bertanya kepada seorang laki-laki. Lain panggilan lagi jika untuk laki-laki atau perempuan yang ingin tanya kepada perempuan mereka akan memanggil “Ukhti” siapapun itu. Jika mereka sudah kenal maka mereka akan memanggil kita kaum laki-laki dengan sebutan “Habibi ” (panggilan akrab/kekasih/sayangku khusus untuk laki-laki). Dan jika mereka perempuan atau kekasihnya mereka memanggil “Habibti ” (panggilan akrab/kekasih/sayangku khusus untuk perempuan). Mereka tidak melihat nasionaliti dari manakah kita, mereka samakan memanggil sesama mereka tau seorang seperti saya yang dari Indonesia.

Kita semua tentunya tau jika kita mempunyai peliharaan burung. Supaya berbunyi burung tersebut atau mendekat, maka kita akan memanggil burung atau peliharan kita dengan petikan jari. Jari tengah dan ibu jari yang akan menghasilkan suara “Cetook”, ya terkadang berbuyi keras terkadang tidak berbunyi jika tidak bisa. Lain lagi kalau di Saudi untuk memanggil anak kecil, teman, adik, suami kepada istri atau sebaliknya serta kakak. Mereka akan petikan jari tanda memanggil mereka, dengan catatan mereka tidak begitu jauh dengan kita. Dan ada yang unik anak kecil kira-kira berusia 4 tahun sudah bisa melakukan petikan jari. Weleh weleh.

Masih ingat dengan film Mohhobatien, ketika eis wariya ray melakukan swit dengan menggunakan jari pada mulutnya dan terlihat biasa jika film india melakukan aksi tersebut. Nah ini juga terjadi pada mereka wanita saudi, saya pernah menjumpai ketika teman saya akan pulang ke Indonesia, mereka melakukan semacam party di dalam ruangan kerja dan mereka melakukan swit tersebut dengan lincah dan gesitnya, tanpa ada rasa canggung padahal mereka mengunakan Jilbab dan Cadar. Ternyata mereka bisa ketimbang saya.

Mereka terlalu cuwek tau memang sudah diatur dalam undang-undang atau peraturan negara mereka. Saya menjumpai entah kaya atau miskin, cantik atau jelek, langsing atau gemuk, apapun itu. Saya jarang melihat wanita saudi mengunakan haight hill (sepatu/sandal jinjit/yang ada hagnya tinggi). Yang sering saya jumpai wanita dari luar negara saudi, seperti mesir. Mereka umumnya akan mengunakan sandal, sepatu biasa (sepatu cet), jadi kesanya aneh jika kita melihat mereka. Lain lagi dengan wanita-wanita Indonesia apalagi Syahrini mengunakan sandal atau sepatu yang tingginya ampek sundul Pintu.

Masih banyak kegiatan, kebudayaan, kebiasaan dan kesibukan mereka. Setidaknya inilah dari apa yang saya lihat dan saya pelajari dari sesuatu yang kecil. Mungkin untuk beberapa orang di sekeliling saya akan cuwek dan acuh tak acuh “khali wali”. Namun bagi saya ini adalah kebudayaan dan kebiasan mereka. Sekecil apapun itu sangat berarti bagi saya. Supaya bisa berbaur membiasakan diri bahwa diri ini hidup ditengah-tengah mereka. Seperti pepatah “dimana bumi dipijak, disitu lagit dijunjung”. Saya sadar mungkin beberapa orang akan menggangap saya berlebihan untuk menulis hal ini. Kalu bisa saya bilang, ahh kamu “ahmad, (sang penulis) terlalu dini dan berlebihan mengagumi orang Saudi”!. Lebih baik mengagumi dari pada tidak sama sekali dan masa bodoh. Setidaknya ini yang bisa saya perbuat. (dan saya sadar serta tau apakah didepan akan selalu baik seperti sekarang ini, tau sebaliknya. Hanya Allah SWT yang tahu, menjadi senang dan merasa bagian dari mereka, atau entahlah) Samikna Wa Atokna...

Siapapun yang membaca ini, terutama orang Saudi saya mengucapkan terima kasih atas kebaikan dan kepedulian kalian. Semoga kita selalau diberikan umur panjang dan barokah serta Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan pada kita semua. Terimakasi para teman dan sahabat istiqbal dan semuanya. Ma Salam ...

Ahmad Irfankhan Hamim Sutopo

Riyadh, Saudi Arabia. 14 Agustus 2015.






Gadget

Konten ini belum tersedia melalui sambungan terenkripsi.